Rabu, 09 November 2016

Rokok Cerutu Iringi Pejuang Kemerdekaan di Parakan



Rokok Cerutu Iringi Pejuang Kemerdekaan di Parakan

Sejarah tutur (sebagaimana istilahnya Gus Dur) keberadaannya dapat membantu memperkaya perspektif pembaca dalam memahami suatu peristiwa sejarah. Utamanya ialah bahwa sejarah tutur sering dapat mengeksplorasi suasana sebuah peristiwa dan sisi lain dari suatu sejarah yang kerap tidak tersorot dalam dokumentasi sejarah resmi.  

Buku berjudul Cuplikan Sejarah Bambu Runcing karya KH. Muhaiminan Gunardho Parakan yang diterbitkan Kota Kembang, Yogyakarta (hanya untuk kalangan sendiri) itu barangkali dapat dikelompokkan ke dalam kategori sejarah tutur dimaksud. Walaupun hanya kumpulan cuplikan sejarah yang sudah tentu masing-masing fragmen cerita ditulis tidak secara komprehensif-holistik, bahkan satu sama lain di antara fragmen peristiwa di dalamnya terkesan kurang terkait secara padu. Namun cukup mengilustrasikan bagaimana sejarah singkat Bambu Runcing dan kota Parakan dalam konteks masa perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.       

KH. Muhaiminan Gunardho dalam salah satu fragmen dalam buku ini menggambarkan suasana kota Parakan. Tidak terhitung lagi banyaknya orang-orang yang datang ke Parakan siang malam, pagi sore berbondong-bondong tanpa henti-hentinya bagaikan barisan semut. Mulai dari stasiun, karena waktu itu diadakan kereta istimewa sampai Jetis, jembatan Galeh sampai jembatan Brangkongan, penuh pemuda beriringan memanggul Bambu Runcing, kelewang, sujen, dan botol-botol tempat air. 

“Kereta api memuat penumpang bergelantungan sampai di atas atap. Dari stasiun para pemuda dengan beratur berbaris empat-empat menuju gedung Barisan Muslimin Temanggung (BMT). Tidak sedikit rombongan yang berjalan kaki dari jalan Kedu, jalan Bulu, jalan Wonosobo, jalan Ngadirejo, semuanya menuju satu tujuan yaitu gedung BMT Kauman Parakan, tempat menyepuh Bambu Runcing,” tulis Kiai yang dulu cukup dekat dengan Gus Dur itu.

Masyarakat dan rakyat Parakan menyambut para pemuda pejuang tersebut dengan sangat ramah dan penuh suka cita. Mereka dianggap tak ubahnya saudara mereka sendiri. Pada saat seperti ini banyak masyarakat Parakan yang memberikan kemudahan kepada pengunjung, yaitu dengan menjual berbagai dagangan, seperti makanan dan minuman, juga Bambu Runcing, kenthes, angklek keris, botol, tambang, dan tutup botol.

Bila ada rombongan datang sore atau malam hari, selain menawarkan dagangan warga Parakan juga menawarkan penginapan secara rombongan. Sebab tidak semua rombongan yang datang sudah lengkap peralatannya. Ada yang sudah membawa perlengkapan dari daerah asalnya seperti Bambu Runcing, botol dan lainnya, tetapi tidak sedikit pula yang datang belum membawa perlengkapan apa-apa.

Para penjaja barang-barang ini berjajar memenuhi jalan menuju Masjid Kauman dan gedung BMT. Bambu Runcing dan kenthes yang dijual kebanyakan berasal dari pring gading (bambu kuning) yang sering juga dibuat sebagai gagang sapu.

Penjual sepatu juga ada, kebanyakan ukurannya besar sebab sepatu rampasan dari Belanda. Tidak ketinggalan pedagang rokok pun ikut menawarkan produk rokoknya. Yang unik serta mengesankan adalah ada pedagang rokok pada waktu itu yang tidak pernah lupa menjual rokok cerutu raksasa, panjang rokok ini sampai 1,5 meter.

Pada siang hari mulai pukul 08.00 sampai 16.00 di jalan Kauman gedung BMT dipenuhi orang, terdengar dari gedung itu sangat nyaring suara orang memanjatkan doa bersama-sama malafalkan:

بِسْمِ اللهِ بِعَوْنِ اللهِ٣× (Basmalah 3x)

الله ُيَا حَفِيْظُ ٣× (Allahu Ya Hafidz 3x)

اَلله ُاَكْـبَرُ ٣× (Allahu Akbar 3x)

إلهنا يا سيدنا أنت مولنا وانصرنا على القوم الكافرين ٣× 

Begitu pula di antara rombongan pejuang yang sudah tiba di Parakan pun terjadi kesibukan berbeda-beda di antara mereka. Ada yang  mencari masjid, mencari warung, mencari penginapan, ada yang langsung mendaftar ke kantor BMT dan ada juga yang langsung menyepuhkan bambu runcingnya. Untuk menampung pendatang malam hari, tidak sedikit rumah-rumah pribadi dijadikan penginapan sementara. Bagi mereka soal di mana tidurnya tidak masalah. Asal ada dipan bahkan dengan menggelar tikar lantaipun mereka tidur pulas. Langgar dan masjidpun selalu penuh.

Keramaian Parakan, dengan sepuh Bambu Runcingnya, akhirnya tercium juga oleh penjajah yang merasa sangat tidak senang dengan kegiatan tersebut karena dianggap membahayakan posisinya. Maka mulailah mereka menyebar mata-mata. Akhirnya sejak itu untuk mengantisipasi dari segala kemungkinan yang tidak diinginkan, pengurus BMT mengeluarkan ketentuan siapapun yang akan bertemu atau rombongan penting yang akan masuk ke BMT, harus mendaftar terlebih dahulu. Beruntung Hubungan antara BMT dengan kepolisian Parakan waktu itu sangat erat. []

(M. Haromain)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar