Rabu, 23 November 2016

Buya Syafii: Energi Bangsa Habis Terkuras



Energi Bangsa Habis Terkuras
Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Sebagai seorang warga negara sepuh (81 tahun) dan sudah berada di pinggir kubur, saya sangat prihatin dan cemas mengikuti perkembangan politik nasional selama Oktober/Nopember 2016 ini. Dipicu oleh lidah Ahok yang tak terkontrol di Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu pada 27 Oktober 2016 dan reaksi MUI terhadapnya bahwa Ahok menghina Alquran dan ulama telah menghebohkan panggung politik nasional. Menyikapi pendapat MUI ini, publik terbelah dua: mendukung dan menentang. Saya bersama mayoritas diam berada dalam kategori yang kedua.

Sebenarnya perbedaan sudut pandangan dalam menyikapi sesuatu sah-sah saja, sekiranya kultur politik bangsa ini cukup dewasa dan tidak mudah terpropokasi oleh muatan syahwat politisi yang kecewa berat dengan pemerintah Jkw/JK. Liarnya lidah Ahok dilawan oleh Demo 411 yang tumpah ruah ke Jakarta dengan mengusung slogan: Gerakan Nasional Pengawal Fatwa MUI (GNPFM), padahal MUI sendiri tidak menggunakan istilah fatwa. Akibatnya, energi bangsa nyaris terkuras habis secara sia-sia. Sikap saling menghujat dalam sosial media (sosmed) sudah berangkat teramat jauh melampaui batas-batas toleransi, keadaban, dan mencederai kepentingan yang lebih besar: bangsa dan negara.

Saya termasuk salah seorang yang dihujat habis-habisan karena  berseberangan dengan MUI, termasuk dilakukan oleh sebagian orang Minang, suku saya, dan sebagian warga Muhammadiyah. Organisasi sosial keagamaan ini adalah tempat saya berkiprah selama puluhan tahun. Karena pendapat saya yang dinilai melawan arus di atas, bahkan ada warga Muhammadiyah meminta PP Muhammadiyah untuk memecat saya sebagai anggota. Dari Batam ada orang yang menuduh saya sudah terlalu banyak makan daging kondiak (bahasa Minang untuk babi). Ungkapan-ungkapan kafir, munafik, terima sogok, dan yang sejenis itu dialamatkan kepada mereka yang tidak sejalan dengan MUI. Sungguh dahsyat dan brutal.

Saya berada di pusaran arus panas itu. Kelas intelektual semisal DR. Indra J. Piliang, DR. Sumanto al-Qurtubi, K.H. Musthofa Bisri, Denny Siregar, dan puluhan yang lain melalui sosmed tanpa diminta telah menjelaskan di mana posisi saya dalam masyarakat dengan bantahan bahwa segala hujatan dan kutukan itu tidak layak dan tepat sasaran. Tetapi karena publik telah terbelah tajam, pikiran-pikiran jernih betapa pun tinggi nilainya dianggap angin lalu saja oleh mereka yang sedang marah dan kalap, sekalipun ada di antaranya yang mulai sadar.

Dalam hati kecil, segala hujatan dan kutukan di atas, saya tanggapi biasa-biasa saja. Adapun yang cukup merisaukan adalah kegaduhan dan prahara besar ini sengaja ditompangi oleh kekuatan-kekuatan hitam dengan syahwat kekuasaan yang tak terbendung yang bisa menjurus kepada tindakan makar terhadap pemerintah. Sinyal ke arah itu dengan mudah dapat terbaca dalam media cetak, lebih-lebih dalam sosmed.

Pertanyaannya: apakah kita ingin mempertaruhkan masa depan bangsa ini gara-gara seorang Ahok dan MUI? Terlalu naïf dan ceroboh jika ada orang yang punya fikiran demikian. Terlalu berjibun masalah lain yang lebih penting dari itu semua, seperti rasa keadilan yang terkoyak dan kedaulatan bangsa yang melemah, khususnya di bidang ekonomi dengan segala cabangnya. Semestinya energi kita dipusatkan untuk memecahkan masalah-masalah besar yang akan menentukan hari depan kita semua.

Dengan dijadikan Ahok sebagai tersangka, sesungguhnya proses hukum telah berjalan sebagaimana semestinya dan tugas kepolisian selanjutnya diambilalih oleh kejaksaan. Tetapi ada saja pihak yang tidak puas dengan proses ini, lalu mengajukan pertanyaan: mengapa Ahok tidak ditahan? Memang Ahok dapat ditahan dan dapat juga tidak ditahan berdasarkan tafsiran atas undang-undang. Alhamdulillah,  sekarang suhu politik mulai mereda, sekalipun suara-suara keras masih saja diteriakkan yang katanya akan diteruskan dengan demo yang ketiga pada 25 Nop. 2016, sesuatu yang diragukan bakal terjadi.

Pernyataan MUI yang dijadikan pintu masuk oleh mereka yang sedang marah telah memunculkan aktor radikal yang masif. Presiden Jokowi tampaknya cukup risau dengan perkembangan ini. Sebagai antisipasi, presiden melakukan safari konsolidasi dengan mengunjungi pusat-pusat pertahanan negara. Safari politik presiden ini ditafsirkan sementara pihak sebagai indikasi bahwa situasi negara memang mengkhawatirkan, sementara pihak yang lain memandangnya agak berlebihan.

Akhirnya, untuk merawat hari depan bangsa ini agar bertahan lama sungguh diperlukan suasana hati yang teduh, pikiran yang jernih, dan jiwa besar dalam menghadapi perbedaan pandangan. Tanpa itu, bangsa ini benar-benar bisa menjadi bangsa kuli yang hina-dina. []

REPUBLIKA, 22 November 2016
Ahmad Syafii Maarif | Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar