Selasa, 15 November 2016

Cak Nun: Aktivasi Akherat di Dunia



Aktivasi Akherat di Dunia
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Terjadi omong-omong serius antara Markesot dengan anggota Perhimpunan Njarem Nasional.

“Puluhan tahun kalian menikmati semua yang enak-enak dari saya. Yang nyaman-nyaman, yang sedap-sedap, yang menggembirakan dan meringankan hidup kalian. Dan itulah kesalahan besar dalam hidup saya”

“Bukankah menggembirakan orang, meringankan beban orang, memberi keamanan dan kenyamanan, adalah sedekah yang terbaik, Cak Sot? Kenapa itu kesalahan?”

“Karena saya kurang mengantarkan kepada kalian pelatihan dan pengalaman bagaimana menjadi manusia yang selalu siap memberi kenyamanan, kegembiraan dan keringanan”

“Kan hidup kita yang miskin dan serba kekurangan di Patangpuluhan dulu dengan sendirinya merupakan pelatihan untuk menjadi manusia yang siap menyamankan orang lain?”

“Apa kemampuan menyebar kegembiraan selalu dilatihkan dengan kemiskinan dan penderitaan?”

“Tidak juga. Tapi nyatanya selama di Patangpuluhan kita belajar dari pengalaman-pengalaman itu”

“Siapa bilang di Patangpuluhan dulu kita miskin dan menderita?”

“Lho memangnya kaya dan bahagia?”

“Kebahagiaan tidak selalu berada dalam sebab-akibat dengan kekayaan. Juga penderitaan tidak harus selalu dikaitkan dengan kemiskinan. Kalau begitu cara pandang kita, Patangpuluhan dulu bukan Universitas, tapi lebih cocok Usaha Dagang”

“Kan semua masyarakat hampir seratus persen menyepakati bahwa sukses adalah kaya harta, memuncak karier, syukur termasyhur. Yang disebut kebahagiaan ya begitu itu”

“Kamu juga berpendapat begitu?”

“Tidak juga sih. Tapi kan jelas di Patangpuluhan dulu kita miskin”

“Tapi tidak menderita”

“Ada yang tidak, tapi Cak Sot mungkin tidak tahu ada juga yang merasa menderita karena semua yang di rumah hitam itu miskin”

“Apa tanda-tandanya kita dulu miskin?”

“Makan tidak pasti”

“Terus?”

“Tidur menggeletak di sembarang tempat yang lowong”

“Oke”

“Seluruh kondisi rumah sangat tidak sepadan dengan rumah-rumah di sekitarnya. Tembok-temboknya lembab. Kamar hanya ada dua untuk puluhan orang. Kamar mandi terlalu tradisional, harus menimba sendiri-sendiri dari sumur. WC-nya memalukan. Sampai-sampai dijadikan parameter, kalau ada artis atau tokoh-tokoh bertamu, dan berhasil buang air besar di WC kita, berarti lumayan insan kamil dia”

“Ya”

“Bagaimana tidak miskin. Pintu depan, samping dan belakang tidak ada kuncinya. Bisa dibuka oleh siapa saja dan kapan saja. Itu tanda sangat gamblang bahwa tidak ada apa-apa di dalam rumah itu yang menarik hati para pencuri untuk mengambilnya”

“Oke”

“Pintu depan ringsek, kayunya semakin pecah dan bolong. Kita ganti pintu dengan kayu yang tidak lebih baik atau mahal. Tetangga sebelah merasa kita sedang memamerkan kemampuan finansial dengan mengganti pintu. Maka dia perbarui pintu-pintu dan jendela-jendela rumahnya, dengan harga mungkin sepuluh kali lipat dari harga pintu kita”

“Ya”

“Kita tidak tahu kalau sedang bersaing dengan tetangga. Sampai kemudian ketika pagar depan kita lengkapi tali-talinya, tetangga sebelah itu merestorasi pagar bambu menjadi pagar tembok dengan hiasan yang mewah. Kesadaran tentang kompetisi materialisme itu kemudian membuat kita mengambil keputusan untuk mengecat rumah Patangpuluhan dengan hitam penuh. Tembok hitam. Pintu hitam. Jendela hitam. Kaca hitam? Mana ada kaca. Deretan level-level untuk pentas teater juga hitam. Seterusnya baju kita celana kaos dan semua pakaian kita menjadi hitam. Mungkin juga hati kita”

“Oke”

“Oke ya oke ya oke ya….”

“Apakah kita menderita oleh itu semua?”

“Tidak sih”

“Tidak ada penderitaan di dunia. Hanya njarem”

“Njarem juga bisa menjadi penderitaan”

“Njarem itu lucu. Itu semacam rasa sakit yang berbasa-basi”

“Itu kalau hanya njarem. Yang kita alami ini juga keseleo, kecethit, bengkak”

“Menjadi kesengsaraan kalau yang keseleo pikiranmu, yang kecethit hatimu, yang bengkak mentalmu”

“Tapi meskipun yang keseleo hanya badan, sakit juga”

“Sakit, tapi bukan penderitaan….”

Kemudian Markesot omong panjang tanpa memberi peluang kepada teman-temannya untuk menyela.
“Penderitaan terjadi hanya di Akhirat kelak kalau pengelolaan kita salah atas dunia. Maka mulai pertemuan hari ini bikin simulasi kesengsaraan. Hanya simulasi beberapa saat. Itu pun sekedar dengan pergi jauh ke belakang. Melompat jauh ke wilayah-wilayah di balik produksi keenakan, kenyamanan, kesedapan dan kegembiraan itu”

“Dan wilayah itu adalah wilayah pelatihan kanuragan-kajiwan yang sangat panjang. Yang berat dan sengsara. Yang hampir-hampir tak tersangga dan setiap saat dibanting oleh rasa putus asa. Pelatihan-pelatihan yang bisa sangat mengerikan agar kita pantas menjadi aktivis kehidupan sejati Akhirat”

“Tetapi harus saya ulang dan ulang lagi: tidak ada penderitaan di dunia. Karena selama yang terasa seolah-olah penderitaan itu membawamu kepada ingatan bahwa kau telah berbuat benar, kemudian Akhirat tampak di depan kesadaranmu – penderitaan itu berubah menjadi gizi kesehatan. Sepanjang manusia mengaktivasi Akhirat dalam proses perjuangan hidupnya, maka ujung tetesan hasilnya adalah Kalimah Thayyibah. Dan Kalimah Thayyibah meringankan yang berat, mencerahkan yang gelap, membukakan yang buntu, menggembirakan yang tadinya serasa sengsara”

“Dunia ini hanya diklat beberapa sesi. Maka pun tidak ada sukses di dunia. Semua bangunan peradaban, kekayaan materialisme dan kejayaan-kejayaan pembangunan Kerajaan dan Negara, adalah tipuan sesaat, artifisialisme dan tipu daya hologram dalam waktu. Karena beberapa saat berikutnya akan kalian tinggalkan dan meninggalkan kalian”

“Kalau kalian tidak pernah tuntas mengalami yang orang-orang menyebutnya kesengsaraan dunia, sebagai agenda-agenda pelatihan untuk aktivasi kehidupan sejati yang disebut Akhirat, yakni keabadian sesudah ujung dunia — saya bertanya: kenyamanan apa yang bisa kalian wasiatkan kepada anak cucu dan sesama jm? Biji apa yang kalian lempar ke masa depan untuk mereka tanam di kebun-kebun peradaban yang akan datang?”

“Ayo sekarang bangun semua”, Markesot mengakhiri, “kita lindas dan siksa jiwa kita dengan pemandangan-pemandangan njarem berikutnya. Lompat masuk ke arena hujan deras. Pelajarilah pergerakan dan jurus-jurus untuk memasuki sela-sela di antara derasnya air hujan. Kalian terus-menerus dihujani, maka sekarang berlatih agar kalian punya kemampuan untuk mengguyurkan hujan derasnya Tuhan” []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar