Senin, 14 November 2016

(Buku of the Day) Minhajul Abidin, Meraih Derajat Ahli Ibadah



Jalan Cahaya Makhluk Semesta


Judul Buku        : Imam Abu Hamid Al-Ghazali, Minhajul Abidin, Meraih Derajat Ahli Ibadah, diterjemahkan dari kitab Khulasatu Minhaj Al-Abidin, karya KH. R Abdullah bin Nuh
Penerbit            : Jakarta, Noura Books
ISBN                 : 978-602-1306-94-9
Peresensi          : Munawir Aziz, aktif di Gerakan Islam Cinta dan Gusdurian.

Kitab Minhaj al-Abidin, karya Syaikh al-Ghazali menjadi penuntun jalan bagi umat muslim untuk mendekat kepada Allah, Pencipta Langit dan Bumi. Kitab ini, berisi petunjuk bagi setiap 'abid, atau ahli ibadah untuk mempersiapkan kebaikan-kebaikan sebagai sarana ibadah. Bagaimana mempersiapkan ibadah agar dapat menjadi ruang pertaubatan dan lading amal bagi makhluk? Imam Al-Ghazali mengungkapkan secara mendalam dalam kitab Minhaj Al-Abidin. Nah, dari karya Imam Al-Ghazali, seorang ulama asal Cianjur, Kiai Abdullah bin Nuh, meringkasnya menjadi karya yang mudah dipahami.

Buku ini, Meraih Derajat Ahli Ibadah, merupakan terjemahan dari kitab karya Abdullah bin Nuh, yang meringkas Minhaj Al-Abidin, karya penting dari Syaikh Al-Ghazali. Dengan membaca karya ini, pembaca dimudahkan untuk menikmati lapisan-lapisan makna penuh gizi, dari renungan dan fatwa Imam Al-Ghazali. Kitab ini, meringkas tema-tema penting terkait dengan taubat, ibadah, hingga tantangan bagi muslim untuk khusyu' beribadah.

Dalam cacatan Syaikh Abdullah bin Nuh, yang mengutip pendapat Syaikh Al-Ghazali, ada tiga hal penting yang mendorong orang untuk bertaubat. Yakni: (1) Ingat akan kejahatan dan buruknya dosa, (2) Ingat akan hebatnya siksaan Allah, serta pedihnya murka Allah, (3) Ingat kelemahan diri dan kedurhakaan.

Lalu, apakah yang dimaksud taubat itu? Taubat itu perbuatan hati, yakni membersihkan hati dari dosa, berniat tidak akan mengerjakan dosa, serta mengagungkan Allah dan tidak takut dimurkai Allah. Dengan makna yang sama, jika orang yang meninggalkan dosa hanya karena malu terhadap orang lain atau takut dipenjara, tidak dapat dianggap sebagai taubat kepada Allah (hal. 21).  Intinya, taubat itu terkait dengan pembersihan dosa, pembersihan hati dari kotoran-kotoran yang selama ini melingkupi.

Kemudian, Syaikh Abdullah bin Nuh, dengan merujuk pada pemikiran Al-Ghazali, mengatakan bagaimana cara agar manusia dapat membersikan dosa. Menurutnya, ada tiga hal yang dapat menuntun manusia, sebagai makhluk Allah, membersihkan dosa-dosa yang selama ini menjadi kotoran.  Di antaranya, (1) Dosa meninggalkan kewajiban, semisal shalat, puasa, zakat, maka wajib mengqadha atau membayarnya, (2) Dosa terhadap Allah, seperti minum arak atau makan riba, maka harus menyesal dan bertaubat kepada Allah, (3) Dosa terhadap sesama makhluk, maka harus meminta maaf dengan yang tersakiti. Jika perkara harta benda dengan mengganti yang sepadan, dan jika terkait perkara jiwa maka harus meminta maaf dengan sungguh-sungguh untuk mengharap pemaafan. 

Pentingnya istiqomah

Dalam kitab ini, Al-Ghazali mengajak manusia untuk senantiasa istiqomah beribadah. Ketika rajin beribadah, tanjakan atau penghalang akan menghadang. Tanjakan ini, ada empat hal, yakni: dunia, makhluk, setan dan nafsu.

Menurut al-Ghazali, setan sebagai penghalang atas ibadah manusia, harus diperangi. Memperangi setan dengan tiga perkara: (1) mengetahui tipu daya yang biasa digunakan oleh setan, (2) setan harus dihina, jangan didengar ajakannya, (3) harus senantiasa zikir dan ingat kepada Allah dengan lisan dan hati. Dengan demikian, memerangi setan dengan menggunakan cara yang tepat, dapat menjadikan ibadah kita tenang.

Dalam hal ini, zikir kepada Allah menjadi cara ampuh untuk mengusir setan. "Sesungguhnya, zikir kepada Allah dapat menimpa setan, seperti penyakit lepra yang menimpa manusia" sabda Rasulullah Saw. Imam Al-Ghazali, mengajak manusia untuk mengenali tipu daya setan. Pertama, setan biasanya memasang jaring-jaringnya berupa was-was atau godaan seperti panah untuk memanah hati manusia. Kedua, setan mempunyai bermacam akal, seperti jaring-jaring yang dipasang olehnya (hal. 34).  

Imam Al-Ghazali membahas tentang hati, kalbu dan perasaan khawatir yang dimiliki manusia. Khawatir itu melintasi hati manusia, yang dapat mempengaruhi tindakan maupun ibadah-ibadah yang dikhususkan kepada Allah. Menurut Imam Al-Ghazali, khawatir ada empat bagian, yakni: (1) khawatir yang diadakan Allah tanpa disertai ajakan malaikat atau setan, dinamakan khatir, (2) khawatir yang diadakan Allah setelah ajakan malaikat Mulhim, dinamakan Ilham, (3) khawatir yang diadakan Allah setelah ajakan setan, namanya waswasah, (4) khawatir yang diadakan Allah dan sesuai dengan tabiat manusia, dinamakan hawa nafsu.

Dengan demikian, khawatir terkait bagaimana seseorang mengelola hati. Bagi muslim yang memiliki iman, hatinya selalu tersambung dengan kemahakuasaan Allah. Sayyidina Salman Ra, berkata: "hamba yang zuhud terhadap dunia, hatinya terang oleh cahaya hikmah dan anggota badannya saling membantu untuk beribadah. Selain itu, amal ibadahnya orang zuhud sangat berharga di sisi Allah Swt".

Menurut Al-Ghazali, dalam melaksanakan ibadah dan menjaga kebaikan dalam rangka ketaatan pada Allah, senantiasa ada halangan. Hambatan dan halangan ini, di antaranya ujub, perasaan bangga atas ibadahnya, serta ingin dihormati. Lawan ujub itu dzikrul minnah, artinya ingat kenikmatan yang ada merupakan pemberian Allah dengan karunia taufik dari-Nya. Dzikrul minnah merupakan ibadah batin yang wajib ada pada setiap orang, agar tidak menjadi ujub. Demikianlah, melalui kitab ini, Al-Ghazali mengajak manusia untuk senantiasa mengingat fitrahnya sebagai hamba, yang memiliki kewajiban beribadah kepada Allah. []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar