Rabu, 16 November 2016

Buya Syafii: Liarnya Lidah Ahok dan Pintu Masuk



Liarnya Lidah Ahok dan Pintu Masuk
Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Sekalipun saya berseberangan dengan pendapat MUI tentang masalah penghinaan terhadap Alquran oleh Ahok, dalam satu hal kita mungkin bisa sefaham: lidah Ahok itu liar. Sekiranya dalam kunjungan kerjanya ke Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu pada 27 September 2016 itu, Gubernur DKI itu lebih memusatkan pembicaraannya pada masalah pembudidayaan ikan, geger besar yang menguras energi bangsa secara sia-sia ini belum tentu akan terjadi.

Saya melalui seseorang telah menyampaikan pesan kepada Ahok agar pandai menjaga lidah, jangan biarkan lidah itu berkeliaran  secara jalang. Tetapi dasar karakter seorang Ahok yang mudah meledak, masalah budi daya ikan menyerempet ke surat al-Maidah ayat 51, sebuah ranah yang dia tidak faham. Akibatnya muncullah prahara besar yang menggoncangkan sendi-sendi kebangsaan kita, sesuatu yang bisa berakibat fatal, jika tidak ditangani secara bijak, tetapi tegas, demi tegaknya hukum. Sekarang Bareskrim Polri sedang dalam proses penegakan hukum itu yang wajib dihormati oleh semua pihak, apa pun hasilnya nanti.

Jika perbuatan Ahok ternyata memang memenuhi unsur pidana, maka prosesnya akan meningkat ke penyidikan, dan seterusnya. Semua pihak tidak punya pilihan dan sikap lain,  kecuali menghormati proses hukum itu, tidak terkecuali Ahok yang dinilai sebagian orang telah memicu kehebohan ini. Sebaliknya, jika ternyata unsur pidana itu tidak ditemukan dalam gelar perkara yang jujur, profesional, dan bertanggung jawab, maka semua pihak tidak boleh pasang kuda-kuda lagi dengan memberikan tafsiran liar: polisi bekerja di bawah tekanan penguasa. Lalu, diteriakkan lagi perlunya gerakan massa untuk menekan penguasa yang dibayangkan itu. Jika ini yang kemudian berlaku, saya khawatir bahwa bangsa dan negara kita ini bisa jadi sedang menggali kuburan masa depannya.

Alangkah bodoh dan pandirnya kita gara-gara seorang Ahok dan penentangnya, kita tega mengorbankan kepentingan yang lebih besar: bangsa, negara, dan rakyat Indonesia yang lagi susah. Hanya mereka yang bersumbu pendek sajalah yang mau bergerak ke arah perbuatan makar dan anarkis ini. Dan secara tidak sadar, akibat perbelahan ini, Ahok telah muncul sebagai sosok yang digunjingkan secara luas dan masif. Saya tidak berkepentingan apakah Ahok bersalah atau tidak bersalah yang bisa mempengaruhi pencalonannya sebagai calon gubernur DKI, sebagaimana banyak suara miring dan brutal melalui medsos yang ditembakkan kepada saya.

Semestinya, dalam iklim demokrasi yang belum sehat ini, masing-masing pihak sama-sama siap untuk berlapang dada dalam menyikapi perbedaan tafsiran dan pendapat. Sikap yang serba mutlak dalam membela pendirian adalah pertanda dari mental yang sedang kalah atau pertanda dari nafsu autoritarian yang bersembunyi di balik pakaian kita masing-masing. Alangkah buruknya perangai sebagian kita manakala perbedaan pendapat disikapi dengan cara-cara di luar keadaban dan kesopanan.

Kemudian tentang pintu masuk. Ada sementara pengamat yang berspekulasi bahwa masalah Ahok dan surat al-Maidah digunakan oleh pihak tertentu hanyalah sebagai pintu masuk untuk meraih tujuan politik yang lebih besar yang belum jelas ujudnya. Denny Siregar bahkan membandingkan iklim politik Indonesia dengan tragedi Suria yang kini sedang berantakan akibat perpecahan politik melalui isu agama yang teramat parah. Peringatan Denny ini tentu tidak perlu terlalu dicemaskan, karena situasi Indonesia tidak seburuk di Suria.

Di negeri ini kita punya modal sosial yang kuat berupa  akar tunggang sebuah masyarakat sipil  Muslim yang cukup besar yang diwakili Muhammadiyah dan NU yang tidak mudah diprovokasi oleh godaan-godaan palsu ISIS, sekalipun memang ada sejumlah sangat kecil warga negara Indonesia yang terbius. Mereka ini memang harus diwaspadai dengan ketat tidak saja oleh aparat keamanan kita, tetapi juga oleh masyarakat secara keseluruhan. Kelengahan sistem pengawasan ini bisa menggiring Indonesia menjadi bangsa dan negara yang tidak aman untuk dihuni.

Bukti tentang ini bukan mengada-ada. Sudah berapa bom yang diledakkan oleh penganut teologi maut ini dengan korban yang bergelimpangan. Oleh sebab itu, aparat keamanan tidak boleh lengah sedetik pun, sebab bahaya makar itu sudah di depan mata. Sekalipun Indonesia bukan Suria atau Iraq, negara ini jangan sampai kalah berhadapan dengan pecundang-pecundang politik yang haus kekuasaan. Dalam perspektif ini, spekulasi Denny menjadi relevan.

Untuk ke depan, mari kita budayakan prinsip bahwa perbedaan pendapat bukanlah tanda permusuhan yang sering disikapi melalui cara-cara brutal dan biadab. Dan Ahok harus pandai menjaga lidahnya agar tidak terkesan main api yang bisa membakar Indonesia tercinta ini. []

REPUBLIKA, 15 November 2016
Ahmad Syafii Maarif | Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar