Selasa, 10 Desember 2013

(Ngaji of the Day) Korupsi dan Kosongnya Spiritualitas



Korupsi dan Kosongnya Spiritualitas
Oleh: Wasid Mansyur*

Mereka yang memiliki spiritual unggul atau sejati, memastikan Allah swt. sebagai sentrum bagi semua energi kehidupannya. Selain Dia, pada hakekatnya tiada sebab adanya selain Dia selalu dibatasi ruang dan waktu. Maka, pengaguman berlebihan atas mawjud selain Allah berdampak pada sikap mengabaikan hakekat-Nya, jika tidak mengatakan lalai, bahkan tidak jarang sikap itu berpengaruh pada mentalitas nilai yang diperebutkan.

Statemen di atas adalah salah satu pernik dari orasi ilmiah bertajuk Studium General dengan Tema “Tasawuf; Spiritualitas dan manusia Universal” yang disampaikan oleh KH. DR. Said Aqil Siraj, MA di Audutorium UIN Sunan Ampel Surabaya (7/11). Statemen ini syarat makna hingga layak direfleksikan kembali kaitannya dengan konteks kehidupan yang nyata sebab hidup ini pasti ada ujungnya (berakhir dengan kematian), tinggal bagaimana kepastian sampai keujung itu dengan selamat atau dalam bahasa agama disebut khusnul khotimah.

Oleh karenanya, masih maraknya praktik korupsi dan tindakan kekerasan atas nama apapun yang dilakukan oleh individu atau kelompok setidaknya menggambarkan rapuhnya mentalitas spiritual anak bangsa. Tertangkapnya Akil Mochtar, ketua MK, semakin menunjukkan bahwa gelombang korupsi mampu menyapu semua orang, bahkan penegak hukum sekalipun. Ketika hukum tidak diindahkan akibat ulah segelintir orang, maka tidak sedikit orang beranggapan bahwa jalan pintas adalah hal terbaik sekalipun akhirnya melakukan pembunuhan.

Maka menegaskan kembali orientasi nilai seseorang untuk hidup penting untuk terus didiskusikan, alih-alih di zaman dimana rasionalitas dipandang sebagai “jenderal” bagi penentu kebenaran. Budaya rasionalitas sebagai potret manusia modern nampaknya telah mulai digugat –termasuk dikalangan Barat—sebab ternyata ini adalah sumber bencana bagi munculnya individu-individu kanibalistik yang tidak menghormati sendi-sendi kemanusiaan demi sekedar memperebutkan kepentingan sesaat dan jangka pendek, lagi-lagi itungannya hanya sisi rasional-materialistik.

Ada persoalan persepsi yang kurang tepat, jika tidak mengatakan salah, dalam memaknai hidup. Jika memang persepsi hidup ini hanya untuk makan, bukan makan untuk hidup, maka adalah niscaya bila kemudian model orang seperti ini akan mengumbar syahwatnya dengan mencari kekayaan sebanyak mungkin agar syahwat perut terpenuhi. Padahal, mengutip al-Ghazali dalam bukunya Ihya’ Ulum al-Din, perut adalah sumber bencana dan syahwat. Jika syahwat perut tidak dikendalikan akan berdampak pada munculnya syahwat-syahwat lainnya bahkan akan mematikan pertumbuhan spiritualitas seseorang.

Manusia Luhur

Maka dengan itu, manusia tidak cukup hanya mengandalkan rasionalitas dengan kebanggaannya menggunakan standar ilmiah dalam menilai sesuatu, manusia perlu spiritualitas untuk dijadikan “panglima” yang mendasari setiap ranah perjalanan hidupnya. Spiritualitas dengan makna yang lebih membumi dimaksudkan bukan mereka yang hanya taat mengerjakan rutinitas peribadatan secara syar’i, tapi lebih dari itu menjadikan orientasi nilai hidup mengarah pada satu titik- bukan yang lain, yakni pada dzat yang mutlak tanpa dibatasi oleh relativitas ruang dan waktu.

Dengan cara itu cita-cita manusia luhur sedikit demi sedikit akan tercapai. Manusia yang luhur tidak terjebak pada formalitas semata, tapi lebih dari itu selalu tergugah untuk memahami secara utuh –dan mengamalkan—makna dibalik formalitas tersebut. misalnya, ajaran tentang sholat bukan saja persoalan ruku’ sujud dan lain-lain, tapi adalah proses ketertundukan manusia secara total di hadapan sang Pencipta. Kalau persoalan sholat hanya sebatas formalitas, anak kecil pun bila melakukannya.

Atas dasar pemahaman ini, maka demi dan atas nama kebenaran, seseorang tidak mudah ditundukkan, alih-alih disuap. Tindakan korupsi menggambarkan pelakunya ditundukkan oleh hawa nafsu, setidaknya ia ingin menegaskan eksistensi dirinya agar diakui orang lain. Dengan korupsi semakin banyak, pelakunya dengan mudah membeli fasilitas mewah dan merasa bangga di hadapan mereka yang tidak punya. Mereka tertawa, tapi rakyat selalu dijadikan tumpal sebab sebagaimana lazim dana-dana yang dikorupsi adalah dana untuk kemaslahatan rakyat kecil.

Manusia luhur dan kaya tidak diukur oleh penumpukan kekayaan yang melimpah melainkan sejauh mana kekayaan itu diperoleh dan digunakan sebagai sarana kemaslahatan manusia yang lain. Manusia yang luhur diukur dengan mantap sejauh mana pembumian spiritual diproses secara menyeluruh dalam kehidupan, setidaknya sebagai manifestasi dari pemahaman bahwa cinta kepada Tuhan tidak akan wujud sempurna, bila tidak mencintai yang lain.

Akhirnya, selain Allah adalah ciptaan-Nya sekaligus manifestasi dari diri-Nya. Karenanya, yang lain adalah bagian dari kita sehingga tidak boleh mudah menyalahkan dan juga tidak boleh merasa paling benar. Sesuatu yang dianggap jelek hakekatnya baik sebab tidak ada kebaikan tanpa ada bandingannya, yakni kejelekan. Maka manusia tanpa spiritual adalah mereka yang lupa diri, suka mengumbar syahwat dan cenderung merugikan orang banyak, sekalipun mereka aktif beribadah.

* Pengurus Pusat Ma’had al-Jami’ah UIN Sunan Ampel Surabaya, Aktif di PW Lembaga Dakwah NU Jatim

Tidak ada komentar:

Posting Komentar