Jumat 9 Ramadhan,
Kemerdekaan Indonesia Diproklamirkan
Sejarah mencatat,
seluruh komponen pejuang kemerdekaan Indonesia tidak ingin melepaskan diri dari
peran para ulama di pesantren. Hal ini dibuktikan ketika para pejuang
nasionalis seperti Bung Karno, Jenderal Soedirman, Bung Tomo, dan lain-lain
senantiasa sowan ke KH Muhammad Hasyim Asy’ari dalam memutuskan segala sesuatu
yang berkaitan dengan kepentingan bangsa dan negara.
Meminta nasihat,
saran, dan masukan para kiai bagi para pejuang merupakan hal penting karena
segala sesuatunya tidak terlepas dari Rahmat dan Ridho Tuhan Yang Maha Esa
yaitu Allah. Hal ini relevan dilakukan karena para ulama merupakan manusia yang
paling dekat dengan Tuhannya.
Meminta nasihat
terjadi ketika Bung Karno, dan kawan-kawan hendak memproklamasikan kemerdekaan
bangsa dan negara Indonesia. Tiga bulan sebelum proklamasi kemerdekaan, Bung
Karno sowan Kiai Hasyim Asy’ari.
Kiai Hasyim Asy’ari
memberi masukan, hendaknya proklamasi dilakukan hari Jumat pada Ramadhan. Jumat
itu Sayyidul Ayyam (penghulunya hari), sedangkan Ramadhan itu Sayyidus Syuhur
(penghulunya bulan). Hari itu tepat 9 Ramadhan 1364 H, bertepatan dengan 17
Agustus 1945, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan.
Proklamasi
kemerdekaan Indonesia telah melalui proses yang panjang dan berdarah-darah dari
seluruh elemen bangsa. Selain pertempuran militer dengan pihak penjajah, para
pejuang seperti Bung Karno, Bung Hatta, KH Wahid Hasyim, KH Wahab Chasbullah,
dan tokoh-tokoh lainnya juga melakukan langkah diplomasi. Diplomasi tersebut
tidak hanya berhenti di tataran dalam negeri, tetapi juga luar negeri sehingga
kemerdekaan Indonesia kala itu langsung mendapat dukungan banyak negara di
dunia.
Diplomasi luar negeri
dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari sendiri dengan melakukan korespondensi dengan
Syekh Al-Amin Al-Husaini. Saat itu, janji kekaisaran Jepang untuk memerdekakan
bangsa Indonesia memang menarik perhatian bukan hanya di tanah air, tetapi
masyarakat dunia Islam, khususnya Syekh Muhammad Al-Amin Al-Husaini.
Sampai pada 3 Oktober
1944, Choirul Anam (Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 1985) mencatat, Syekh
Al-Amin Al-Husaini yang merupakan pensiunan mufti besar Baitul Muqadas
Yerusalem yang ketika itu juga menjabat Ketua Kongres Muslimin se-Dunia
mengirim surat teguran kepada Duta Besar Nippon di Jerman, Oshima. Kala itu Syekh
Al-Husaini sedang berada di Jerman.
Kawat teguran
tersebut berisi imbauan kepada Perdana Manteri Jepang Kuniki Koiso agar
secepatnya mengambil keputusan terhadap nasib 60 juta penduduk Indonesia yang
50 juta di antaranya bergama Islam. Kongres Islam se-Dunia menekan Jepang untuk
segera mengusahakan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Atas teguran
tersebut, Kuniki Koiso berjanji akan mengusahakan kemerdekaan untuk bangsa
Indonesia. Jawaban Koiso itu disebarluaskan melalui Majalah Domei. Kawat
teguran dari Syekh Al-Amin Al-Husaini tersebut sampai kepada Hadratussyekh
Hasyim Asy’ari. Ia selaku Ketua Masyumi menerima tindasan kawat teguran
tersebut.
Menyikapi kawat
teguran tersebut, Kiai Hasyim Asy’ari yang juga pemimpin tertinggi di Nahdlatul
Ulama (NU) merasa perlu mengumpulkan para pengurus Masyumi yang terdiri dari
berbagai golongan umat Islam dari sejumlah organisasi pada 12 Oktober 1944.
KH Hasyim Asy’ari
selaku pemimpin NU dan Masyumi segera membalas kawat tindasan Syekh Muhammad
Al-Amin Al-Husaini yang telah membantu bangsa Indonesia dengan menegur Perdana
Menteri Jepang Kuniki Koiso tersebut.
Catatan sejarah
tersebut merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh KH Hasyim Asy’ari untuk
mempersiapkan kemerdekaan bangsa Indonesia dari sisi diplomasi internasional.
Selain itu, Kiai Hasyim dibantu para kiai lain juga menyiapkan pasukan santri
yang tergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah untuk mengantisipasi
kemungkinan perang pasca kemerdekaan diproklamirkan.
Kemungkinan tersebut
terjadi, sebab tentara NICA Belanda yang menumpang sekutu hendak kembali
menguasai Indonesia setelah Jepang takluk kepada tentara sekutu. 10 November
1945 di Surabaya merupakan hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, di mana para
santri dan seluruh rakyat Indonesia berhasil menumpas agresi militer Belanda II
sehingga mampu mempertahankan kemerdekaan yang sudah diproklamirkan. []
(Fathoni Ahmad)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar