Antara Jihad dan Patriotisme
Oleh: Nasaruddin Umar
SETIAP kali mendekati pemilihan umum (pemilu), setiap itu pula
kita sering menyaksikan pengerahan dua jenis emosi, yaitu emosi membela
kepentingan agama (emosi jihad) dan emosi membela kepentingan bangsa (emosi
patriotisme).
Bagi warga bangsa Indonesia sering kali kita menyaksikan
bertindisan antara kedua emosi tersebut. Hal ini bisa dimaklumi karena setiap
hari warga bangsa selalu mendapatkan seruan keagamaan untuk membela dan
memperjuangkan agama. Di sisi lain, kita juga selalu mendengarkan seruan untuk
membela dan memperjuangkan bangsa tercinta.
Jika kedua emosi ini berhadap-hadapan satu sama lain, bangsa dan
agama akan rugi. Akan tetapi, jika keduanya di-manage dengan baik, justru bisa
menjadi kekuatan luar biasa bagi bangsa ini. Jika salah dalam me-manage,
keduanya akan saling memakan dan sudah pasti merugikan semuanya.
Emosi jihad dimiliki umat beragama dan emosi patriotisme dimiliki
warga bangsa yang mengedepankan kepentingan primordialisme kebangsaannya. Emosi
jihad akan mudah terbakar manakala ada orang yang menghina sendi-sendi agama
yang diyakininya. Demikian pula emosi patriotisme akan meledak manakala
martabat kebangsaan yang dijunjung tinggi para warganya diinjak-injak.
Jika kedua kekuatan emosi ini bersinergi, apa pun dan siapa pun
serta sehebat apa pun ancaman dan musuh di hadapannya, tidak akan pernah
membuatnya gentar. Sejarah Indonesia membuktikan dengan pekikan 'Allahu Akbar!'
dan 'Merdeka!', maka penjajah yang tangguh bisa diusir. Bisa dikatakan bahwa
Indonesia merdeka berkat pekikan kedua kata tersebut.
'Allahu Akbar!' adalah komando jihad yang menakutkan, dan
'Merdeka!' adalah komando patriotisme yang menggetarkan. Kedua pekikan ini
memicu andrenalin perjuangan umat dan warga bangsa untuk menyingkirkan musuh-musuhnya.
Pengalaman pahit
Jika kedua kekuatan emosi ini berhadap-hadapan satu sama lain, bayangan perang saudara mahadahsyat akan terjadi. Indonesia juga pernah mempertontonkan sederetan pengalaman pahitnya ketika dua komunitas, yaitu etnik dan agama berhadapan satu sama lain. Pengalaman yang sama juga pernah terjadi di beberapa negara.
Kesemuanya itu harus menjadi pelajaran berharga bagi bangsa
Indonesia, sebuah bangsa yang besar dan dipadati kondisi objektif yang amat
plural. Begitu banyak ikatan primordial, seperti agama, aliran, etnik, suku,
dan organisasi paguyuban yang berpotensi memicu konflik emosional sehingga hal
itu perlu terus dicermati semua pihak, baik oleh pemerintah, tokoh agama, tokoh
adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, maupun kaum cerdik
pandai negeri ini.
Ada fenomena kekuatan kedua emosi ini akan berhadap-hadapan satu
sama lain. Indikator yang bisa dilihat ialah mencuaknya aliran salafi jihadi
yang bukan hanya menuntut pemurnian ajaran (puritanism), melainkan juga
melakukan gerakan menghidupkan kembali semangat keislaman (revivalism) yang
dinilai mulai tergerus arus liberalisme yang semakin gencar di dalam
masyarakat.
Gerakan internasional
Lebih memprihatinkan lagi karena kelompok ini dimotori kelompok usia muda, pintar, menguasai teknologi informasi, dan menguasai beberapa bahasa asing sehingga gerakan mereka lebih gampang menginternasional. Apalagi, dengan dukungan fasilitas media yang begitu mudah diakses. Rasa percaya diri mereka sangat tinggi karena meskipun kelompoknya minoritas, didukung komunitas internasional.
Kita belum tahu pendanaan mereka dari mana, yang pasti mereka
memiliki penguasaan media dan penerbitan. Basis penyebarannya bukan lagi di
dalam masyarakat RT, RW, atau jemaah masjid, melainkan mereka lebih
berkonsentrasi kepada kampus dan sekolah. Mereka sangat ahli
mengimplementasikan pengaruhnya melalui kegiatan ex-schools, semisal komunitas
bela diri, pencinta alam, dan kelompok-kelompok studi.
Bahkan, dilaboratorium pun bisa menyebarkan pengaruh melalui
program animasi 'cuci otak'. Dampaknya lebih jauh ketika mereka menjadi
'manusia jadi', misalnya sudah bekerja sebagai guru, memimpin perusahaan, dan
menjadi pejabat, maka dengan mudah bisa menghubungkan mata rantai ideologi itu
antara satu dengan lain sehingga suatu saat bisa menjadi komunitas ideologis
yang luar biasa kuatnya.
Bandingkan dengan 'komunitas patriotisme' yang sudah mulai tumpul.
Pendalaman dan penghayatan terhadap Pancasila sebagai dasar ideologi bangsa
sudah lama tercerabut di lingkungan kampus. Di sekitar lingkungan pacu kita
begitu kuat pengaruh globalisasi. Akhirnya ideologi bangsa terjepit di antara
ideologi agama dan ideologi pasar bebas. Mungkinkah 'revolusi mental' menjadi
penyelamat 'ideologi bangsa?'. []
MEDIA INDONESIA, 04 Mei 2018
Nasaruddin Umar | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar