Kasmaran: Puisi-puisi
Menuju Tuhan
Judul
Buku : Kasmaran
Penulis
: Usman Arrumy
Penerbit
: Diva Press
Cetakan
: Pertama, 2017
ISBN
: 978-602-391-416-6
Peresensi
: Ali Adhim, Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta & Pegiat
Sastra di Pesantren Baitul Kilmah.
Acep Zamzam Noor
berkata seperti ini dalam catatan yang ia berikan kepada Usman Arrumy. “Ada dua
hal yang akan berdampak positif pada proses kreatif kepenyairan seseorang di
masa yang akan datang, keduanya itu adalah aktif menulis dan menerjemahkan
puisi-puisi.”
Hal itu terbukti
dalam puisi-puisi Usman yang sufistik, ia tidak akan pernah menghasilkan puisi
yang sufistik tanpa membaca puisi-puisi karya Jalaluddin Rummy, Ibn Arabi,
Robi’ah Adawiyah dll. Seorang Usman juga tidak mungkin bisa melahirkan
puisi-puisi indah tanpa mempraktekkannya langsung dengan menulis puisi itu
sendiri.
Mengapa Usman Arrumy
bisa mendapat ruang khusus di Indonesia dalam dunia sastra? Saya rasa, ia telah
mendapatkan keberkahan dari aktivitas yang ia tekuni dengan tulus, selain itu,
ia juga nampaknya mendapat keberkahan dari tokoh-tokoh besar yang karya nya ia
terjemahkan.
Sebelum buku Kasmaran
ini diterbitkan oleh Diva Press, Usman Arrumy berhasil menerjemahkan
puisi-puisi Nizar Qobbani ke dalam bahasa Indonesia dengan Judul “Surat dari
Bawah Air”, kemudian Usman juga menerjemahkan puisi-puisi karya Sapardi Djoko
Damono ke dalam Bahasa Arab dengan Judul “Hammuka Daimun”.
Pada tahun 2012 Usman
Arrumy berangkat ke Mesir untuk melanjutkan pendidikan di Al-Azhar University,
Fakultas Bahasa Arab dan Sastra. Melihat latar belakang pendidikan seperti itu,
rasanya tidak heran jika puisi-puisi dalam buku yang bertajuk “Kasmaran” ini
memiliki gaya bahasa dan ruh yang berbeda. Sedikit religius bercampur
nafas-nafas anak muda zaman sekarang dalam mengekspresikan cintanya.
Ketika Usman Arrumy
menulis puisi nya yang berjudul Manunggaling Kawula Cinta, pada bait
pertamanya, ia sudah menunjukkan jati dirinya sebagai penyair yang sufi, juga
sebagai pemuda yang sedang gandrung terhadap Cinta. Setiap Kali Kau Tersenyum,
Aku Menyaksikan Tuhan ada di Bibirmu.
”Di situ ada kata
“Kau” “Senyum” “Tuhan” dan “Bibir”. Empat kata yang sangat cukup untuk mewakili
manusia dan penciptanya. Usman bisa menghadirkan Tuhan ketika ia sedang jatuh
Cinta, meskipun saya sendiri tidak cukup tahu, apa yang ada di dalam ruang
bathin Usman yang sesungguhnya. Hal inilah yang tidak dimiliki oleh penyair
lain di Indonesia, yang melulu berpuisi tentang cinta, tanpa mengingat dan
melibatkan pemberi cinta itu sendiri.
Sebagaimana dikatakan
oleh Aguk Irawan MN, seorang penyair yang sama-sama pernah mengenyam pendidikan
di Al-Azhar Mesir, puisi yang bagus adalah ketika puisi itu mampu mewakili
perasaan orang lain, tidak hanya satu dua manusia, bahkan manakala setiap
pembaca sepakat dan setuju dengan puisi yang tertulis, maka puisi itu
sebenarnya semakin sah untuk dicemburui.
Misalnya dalam buku
Kasmaran ini Usman Arrumy berpuisi tentang senyum, ia tidak hanya melibatkan
eksistensi Tuhan, ia juga mengajak makhluk-makhluk lain yang ada di sekitarnya
untuk hadir dalam puisinya, sehingga puisi yang ia tuliskan bisa semakin
hidup.
Senyummu selalu
sejuk, apakah saat menciptakan bibirmu tuhan membasuhnya dengan embun pagi?
Memandang senyummu selalu mengingatkanku saat menyesap sari tebu. Gila! Kenapa
puisi ini tidak lahir dari kita? Kenapa Usman bisa begitu jeli dan sangat adil
dalam memposisikan diri sebagai seorang penyair, makhluk tuhan, dan makhluk
sosial.
Untuk membuktikan
pernyataan Aguk Irawan MN di atas, apakah Anda merasa setuju dan merasa
terwakili oleh puisi pemuda kelahiran Demak yang pernah nyantri di Al-Fadlu,
Djagalan, Kaliwungu ini? Saya sendiri sangat terwakili, karena dengan membaca
puisi-puisi dalam buku ini saya merasa telah berhadap-hadapan dengan seseorang
yang berulangkali membuat saya rindu, tentu rindu itu berasal dari senyumnya
yang dalam.
Sedalam harapan yang
saya simpan untuknya, juga sedalam puisi Usman yang telah berhasil membuat saya
berterima kasih, sebab, Usman telah membuat saya menjadi seorang pemberani,
meskipun hanya berani bercita-cita untuk membuat puisi yang lebih bagus dari
Usman. Tidak berani menyatakan Rindu itu secara terang-terangan, maka untuk
menyembunyikan Rindu itu. Saya harus sesegera mungkin belajar membuat puisi.
Puisi-puisi dalam
buku yang memiliki ketebalan 144 halaman ini ditulis di Mesir dalam rentang
waktu antara 2013-2016, diantaranya pernah terbit di buku Mantra Asmara,
beberapa yang lain sudah pernah rilis di surat kabar, dan sisanya dipersiapkan
secara khusus oleh Usman untuk buku ini. Usman Meyakini bahwa cinta dan puisi
memiliki ikatan bathin yang sangat purba, dan diam-diam ikatan tersebut
bertaut-kelindan dalam diri Usman sendiri. Itulah yang membuat Usman merasa
semangat dalam menjalani proses kreatif selama ini.
Sapardi Djoko Damono
merasa kesulitan ketika ingin memilih antara Tuhan, Manusia, dan Cinta dalam
buku Kasmaran ini. Karena menurut Prof Sapardi, buku ini tidak semata-mata
dihadirkan oleh Usman untuk memetakan antara ketiganya. Justru sebaliknya, apa
yang ditulis oleh Usman dalam buku ini sebagai upaya untuk membuktikan kepada
kita bahwa ketiganya ada bersama-sama, membentuk sebuah struktur yang
hubungan-hubungan di antaranya selalu muncul dalam puisi.
Hal itu diakui Usman
dalam kata pengantarnya, “Cinta dan Puisi menjadi rukun yang konstitusional
dalam kehidupan saya, dan dari sini saya merasa berhak untuk beriman bahwa
kesetiaan yang saya berikan kepada keduanya telah menjadi bagian yang sah dari
tanggung jawab umat manusia.”
Meskipun Buku ini
terdapat banyak kata “terbuat” yang menjadikan pembaca bosan, saya yakin buku
ini mustahil bisa dikhatamkan jika tidak dibarengi dengan keinginan yang kuat
untuk menjumpai cinta kita sendiri, yang secara diam-diam berkeliaran di
belantara puisi dalam buku ini. Karena ketika buku ini dihatamkan, hakikatnya
cinta, kesedihan, kesepian, nafas, air mata Usman telah menjadi milik kita,
kita mempunyai nasib yang sama dengan Usman, tetapi tidak dalam keberhasilannya
menuliskan puisi.
Maka ketika kita
telah menyadari hal itu, bahwa setiap manusia memiliki perasaan dan nasib yang
sama. Sesungguhnya cinta belumlah menemui garis finish, cinta akan terus tumbuh
dan hidup bebas di alam lain bernama puisi, dan jika kita ingin menulis puisi
dengan segala penghayatan, sebenarnya kita telah memperbarui cinta dalam bentuk
yang baru, dan akan seterusnya begitu. []
Tidak ada komentar:
Posting Komentar