Anak Indonesia Terancam Bom Bunuh Diri
Oleh: Ahmad Syafii Maarif
Artikel ini masih terkait dengan Resonansi pekan lalu. Sebagaimana telah
dijelaskan bahwa orang tua teroris tega mengorbankan anak-anaknya sendiri yang
masih bocah untuk bersama-sama mengakhiri hidup dalam drama maut, sebagaimana
diamati oleh Syekh Shabra al-Qasimi dari Mesir, baru saja terjadi di Surabaya.
Artinya, di lingkungan alam Indonesia yang relatif lebih aman
dibandingkan beberapa negara Arab yang berantakan akibat perang saudara telah
berlaku suatu tragedi kemanusiaan yang sangat brutal dan meluluhkan batin kita
semua. Perilaku orang tua atas nama kepercayaan agama yang bersumber rongsokan
peradaban yang sedang hancur telah digunakan untuk meluluhlantakkan bangunan
sebuah keluarganya sendiri. Banyak orang yang menangis dan meratapi drama maut
yang sungguh tak terbayangkan sebelumnya.
Kota Surabaya yang selama ini terasa aman-aman saja telah
disentakkan oleh suatu malapetaka dua keluarga yang mengguncangkan jagat raya
kemanusiaan semesta. Dalam hitungan detik berita ini telah menyebar ke seluruh
muka bumi.
Semua orang menundukkan kepala, terisak dalam suasana keprihatinan
yang sangat dalam: mengapa semuanya terjadi? Mengapa tafsiran agama telah
menjadi sumber kematian bagi bocah tanpa dosa?
Tragedi ini harus dinyatakan sebagai tanda bahaya serius bagi
anak-anak Indonesia. Ini adalah puncak dari ketegaan orang tua mengakhiri nyawa
anak-anaknya untuk turut dalam amaliyah (istilah teroris untuk bom bunuh diri).
Pada 19 Mei, saya bersama Yasin Wijaya dari Yayasan Indonesia
Sejahtera dan Barokah Surabaya dan Marbawi, Ketua Asosiasi Guru-Guru Agama
Islam Indonesia, berkunjung ke gereja Pantekosta Surabaya sebagai tanda duka
dan simpati kepada jamaahnya yang wafat. Pendeta Yonathan Bintoro Wahono pada
pagi itu sedang bersiap untuk melayat satpam gereja yang wafat sehari
sebelumnya bercerita banyak tentang tragedi di gerejanya saat akan misa pada 13
Mei yang berlumur darah itu.
Beberapa info yang kami peroleh berikut ini perlu direkamkan di
sini. Adalah satpam Giri Catur Sungkowo, seorang Muslim, yang telah bekerja
selama 23 tahun untuk menjaga gereja itu, termasuk yang menjadi korban luka
bakar dan wafat di RS Dr Soetomo pada sore, 18 Mei.
Sewaktu kami ke sana, pimpinan gereja sedang bersiap untuk melayat
alm Giri ini yang akan dimakamkan. Pdt Yonathan mengatakan bahwa Giri sudah dianggap
sebagai keluarga sendiri. Giri telah menjadi penghalang bagi pelaku bom Dita
Oepriarto dan mobilnya yang membawa lima bom dengan daya ledak tinggi untuk
menerabas masuk ke tengah gereja.
Sekiranya bom itu meledak di tengah kerumunan jamaah, tutur Yonathan,
maka yang akan tewas bisa jadi ratusan, melebihi korban bom Bali 2002. Ada lagi
yang tewas tukang parkir lepas di gereja itu, juga seorang Muslim.
Yang tidak kurang tragisnya adalah dua anak Dita pada malam
sebelum kejadian, saling bertangisan ketika shalat di mushala untuk besok pagi
akan mengakhiri hidupnya bersama beberapa jamaah dengan bom bunuh diri di
gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jl Ngagel Madya. Sedangkan Ais (Aisya
Azzahra Putri), putri pengebom di Polretabes Surabaya, terpelanting dari
boncengan orang tuanya dan diselamatkan pihak kepolisian.
Kita doakan anak yang ditinggal mati orang tuanya akan pulih dari
trauma maut yang mengerikan itu. Akrobatik nekat ini adalah salah satu pertanda
bahwa doktrin Teologi Maut ini punya pengikut yang lumayan di Indonesia. Polisi
dan gereja dijadikan sasaran utama.
Sofyan Tsauri, pengamat terorisme dan mantan teroris dan mantan
anggota Brimob menjelaskan, cara orang tua membujuk dan meyakinkan anaknya
untuk terbang ke surga: “Nak, mau nggak
kamu ikut Abi dan Umi ke surga? Nggak
sakit kok. Cuma
tinggal pencet tombol ini, maka kita sudah terbang dan kita ke surga.” Ya,
Allah, mengapa hamba-hamba-Mu ini lebih mencintai kematian brutal daripada
membela kehidupan yang bermartabat?
Mengapa ajaran-Mu yang bertujuan untuk membangun peradaban yang
adil dan mulia di muka bumi, di tangan teroris telah ditafsirkan untuk
membangun kebiadaban hara-kiri yang mengguncangkan jagat kemanusiaan di muka
bumi? Ya, Allah, mengapa kekalahan dalam perlombaan peradaban telah melahirkan
hamba-hamba-Mu yang membunuh kewarasan dan akal sehatnya sebagai manusia?
Daftar pertanyaan ini bisa panjang, sedangkan jawabannya tidak kunjung muncul,
ya Allah!
Akhirnya, fenomena terancamnya masa depan anak-anak Indonesia oleh
praktik bom bunuh diri semestinya menyadarkan kita semua bahwa agama di tangan
teroris telah dijadikan alat untuk membuat fasâd (bencana dan kerusakan) di
muka bumi, sesuatu yang berkali-kali dikutuk Alquran. []
REPUBLIKA, 22 Mei 2018
Ahmad Syafii Maarif | Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar