Rabu, 05 Oktober 2016

Cak Nun: Hak Asasi Kanker dan Benalu



Hak Asasi Kanker dan Benalu
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Jika tiba hari Jumat, ada desakan dari dalam diri keAdaman Yu Sumi untuk ikut berjamaah shalat Jumat. Tapi itu akan membingungkan semua orang dan pasti menjadi sumber pertengkaran masyarakat. Maka ia duduk di balik rerimbunan daun-daun di belakang masjid. Ia mendengarkan khotbah dan merenung.

Penggalan kisah sederhana ini kuperuntukkan bagi anak cucuku dan para jm, karena masyarakat umum tidak memerlukan butiran kecil ilmu dan pengetahuan yang tidak istimewa. Jadi anak cucuku dan para jm simpan sendiri saja.

Ketika itu belum ada khotbah yang menyebarkan kebencian dan kutukan. Belum ada khotib yang merasa dirinya selevel dengan Tuhan sehingga tak mungkin salah, yang pendapatnya pasti benar, dan kebenaran yang ada di otaknya bersifat absolut. Waktu itu belum ada pemimpin agama yang sombong dengan pandangannya, yang angkuh dengan ilmunya dan takabbur dengan merasa pandainya.

Di zaman Yu Sumi hidup, juga Guk Urip dan Mas Bardi, belum ada manusia yang begitu yakinnya bahwa ia dan mereka akan pasti menjadi penghuni sorga, dan mempercayai bahwa siapapun yang tidak berpandangan dan tidak hidup seperti mereka akan pasti menjadi penghuni neraka.

Sehingga Yu Sumi, Guk Urip dan Mas Bardi tidak pernah berjumpa dengan manusia yang sombong karena agamanya, yang angkuh karena ibadahnya, yang merendahkan orang lain karena imannya, yang mengutuk siapapun saja yang bukan mereka. Mereka bertiga belum pernah mengalami pergaulan dengan manusia yang mampu menciptakan harmoni antara ibadah kepada Allah dengan kekejaman kepada manusia. Yang merangkai dengan mantap iman kepada Tuhan dengan perusakan dan penghancuran atas sesama manusia.

Indah benar hidupnya Yu Sumi, Guk Urip dan Mas Bardi karena di era mereka belum ada manusia beragama yang meyakini bahwa bumi dan alam semesta adalah hak mereka, sehingga yang bukan mereka harus dimusnahkan. Bahwa Tuhan menciptakan bermilyar galaksi, bertrilyun-trilyun planet ini tidak untuk siapapun kecuali segolongan manusia, yang jumlahnya sangat sedikit, sehingga cukup ditampung di beberapa Kecamatan di suatu negeri kecil. Tuhan menciptakan alam semesta yang luasnya tak terukur ini tidak untuk siapapun kecuali untuk sejumlah manusia yang hanya memerlukan sebuah pulau kecil di bumi yang sangat kecil untuk tempat tinggalnya.

***

Berbahagia benar Yu Sumi, Guk Urip dan Mas Bardi, yang hidup tanpa pernah menjadi masalah bagi lingkungan masyarakatnya. Yang masyarakat sekitarnyapun tidak pernah riuh rendah memperdebatkan diri eksistensi mereka, karena ummat manusia pada zaman itu selalu menjalankan toleransi tanpa menyadari adanya kata toleransi dan mereka sendiri tak pernah mengucapkan kata toleransi dari mulutnya.

Masyarakat di mana ketiga sahabat kita hidup sangat mengerti aurat, memahami hakekat batas, tahu persis apa yang harus dibuka dan apa yang sebaiknya ditutupi. Apa yang sebaiknya dikendalikan dan apa yang tidak masalah jika dilampiaskan. Mengerti apa yang harus dikontrol untuk tidak berkembang karena daya perusakannya luar biasa atas kehidupan dan masa depan.

Meskipun Yu Sumi aman mendengarkan khotbah Jumat dari kebun belakang masjid, tapi sebenarnya ia menempuh jalan cukup jauh membelah desa untuk bisa sampai ke gerumbul tempat ia bersembunyi dan nguping khotbah. Masjid itu terletak di jalur tengah desa, yang penghuninya pada umumnya berkultur santri. Hanya ada masjid dan musholla di jalur tengah. Sedangkan di jalur selatan dihuni oleh para petani abangan. Dan Yu Sumi sendiri tinggal di jalur utama. Jalur dan lingkungan yang anak-anak sekolahan menyebut sebagai jalur masyarakat yang terbelakang, kurang berbudaya dan belum mengenal agama.

Karena lingkungan sosialnya, hampir mustahil Yu Sumi berpeluang untuk belajar mengaji, duduk di bangku sekolah atau belajar apapun kecuali dari kehidupan dan perenungannya sendiri. Padahal Yu Sumi tidak pernah mendengar apa itu perenungan, apa itu santri atau abangan. Yu Sumi tidak punya ustadz, tidak berguru kepada kiai, tidak pernah tahu selama hidupnya suatu benda ajaib yang bernama televisi. Jangankan lagi gadget, internet, medsos, browsing, IT, demokrasi, Revolusi Industri ke-IV, terlebih-lebih lagi Bank Syariat. Yu Sumi tidak punya mursyid, syekh, guru bangsa, begawan, panembahan. Yu Sumi hanya tahu secara naluriah bahwa ada yang maha besar dan berkuasa dalam hidupnya, ada hidup dan kelak ada mati, ada asal-usul dan titik tujuan, entah akan ada akhirnya atau tidak.

Yu Sumi hanya punya Tuhan. Bahkan Muhammad hanya sesekali ia dengar nama itu dari khotbah di masjid yang ia nguping. Tetapi Yu Sumi memiliki kecerdasan intelektual dan kewaspadaan sosial, serta tahu secara alamiah bahwa ia tidak boleh menjadi beban bagi siapapun, tidak boleh menjadi masalah bagi lingkungannya, meskipun tidak pernah berani beranggapan bahwa ia harus atau bisa atau punya kemungkinan untuk bermanfaat bagi kehidupan di mana ia menumpang.

***

Maka ia mengambil keputusan untuk memenuhi waktunya untuk bekerja. Bekerja keras sepanjang siang dan kalau perlu tambah separo malam.

Yu Sumi sangat sedikit berbicara. Ia menyapa dan menjawab sapaan siapapun yang ia berpapasan dan bertemu. Tetapi ia tidak pernah berdiskusi, meminta, menuntut, membantah, berdebat, membela diri, mempertahankan apapun. Ia bekerja saja dan bekerja saja. Sampai akhirnya Tuhan memindahkannnya dari desa saya ke kampung baru yang hanya Tuhan yang tahu. Entah di bumi ini, atau mungkin di planet lain, atau di luar galaksi, atau siapa tahu tetap di sekitar desanya namun di koordinat dan gelombang yang berbeda.

Yu Sumi bekerja keras memenuhi hidupnya, sehingga unsur lain dalam dirinya, misalnya nafsu sex, tersingkir dan bagaikan tak ada. Sepanjang hidup Yu Sumi aku hanya pernah melihatnya berpakaian sarung yang itu-itu juga. Kira-kira ada dua lembar sarung, satu dua kaos dan baju. Wajahnya tidak pernah mengekspresikan tuntutan, harapan, atau amarah dan perlawanan. Yu Sumi madhep mantep bekerja dan bekerja.

Ia tidak pernah mendengar kata hak atau kewajiban. Dan beruntunglah dia. Sebab kalau ia sampai tahu hak dan memahami artinya, kecerdasannya akan memberi ucapan-ucapan yang berbahaya bagi dirinya: “Aku berhak memenuhi nafsuku. Aku berhak kawin dengan sesama manusia apapun jenisnya, bahkan adalah hakku juga untuk kawin dengan lembu, pohon pisang atau buah mentimun. Aku berhak menjadi apapun sesuai dengan hak asasiku. Aku berhak menjadi kanker, menjadi benalu, menjadi penyakit, menjadi kuman, bakteri, virus, racun, atau apapun yang aku mau….” []

Dari CN kepada anak-cucu dan JM
26 Februari 2016

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar