Jumat, 14 Oktober 2016

Sultan Hadiwijaya dan Lahirnya LSM Menurut Gus Dur



Sultan Hadiwijaya dan Lahirnya LSM Menurut Gus Dur

Membaca sejarah masa lalu bagi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak sekadar mengetahui dan memahami peristiwa dan kejadian yang telah lewat. Menariknya, di samping dapat memetik pelajaran atau hikmah dari sejarah masa lalu, tidak kalah pentingnya lagi adalah bahwa di tangan Gus Dur sejarah masa lalu juga mampu dihubungkan ke dalam  konteks masalah kehidupan kekinian.

Misalnya dalam tulisan Gus Dur yang termuat dalam bukunya yang berjudul Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur (terbitan LKiS: 2010). Dalam salah satu kolom dalam buku tersebut Gus Dur dengan cerdik mampu menghubungkan atau mengaitkan sejarah Sultan Hadiwijaya atau yang terkenal dengan nama Jaka Tingkir dengan fenomena munculnya Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Perkembangan LSM di Indonesia yang jumlahnya bahkan sudah meruyak sejak era Orde Baru tersebut menurut KH. Abdurrahman Wahid, bukanlah sebagai fenomena baru. Karena sejarah masa lampau bangsa ini kalau disimak dengan teliti sebenarnya telah memperlihatkan adanya asal-usul LSM itu.        

Dalam masyarakat Jawa, tradisi LSM tercermin dalam episode kelanjutan pertentangan antara Sultan Hadiwijaya melawan menantunya, Sutawijaya. Sutawijaya yang memenangkan pertarungan fisik akhirnya menggunakan gelar Panembahan Senopati ing Alogo Sayyidin Ponotogomo Khalifatullah ing Tanah Jawi, dan menjadikan dirinya sebagai pembangun dinasti Mataram awal.

Sebaliknya Sultan Hadiwijaya yang dikalahkan sang menantu itu lari ke ibunya yang berada di pulau Madura. Sultan yang bergelar Pangeran Karebet dan juga Jaka Tingkir ini memperoleh empat puluh buah kesaktian atau kanuragan dari ibunya yang kini dimakamkan di Astana Tinggi, di sebuah pulau yang kini masuk dalam daerah Kabupaten Sumenep.

Dalam perjalanan kembali dari pulau Madura ke Pajang, Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir singgah di Pulau Pringgoboyo (sekarang masuk Kabupaten Lamongan) dan malam harinya mendapat impian/vision dari gurunya yang melarang dirinya kembali ke Pajang untuk memperebutkan takhta kerajaan. Mimpi tersebut juga mengirim pesan kalau hal itu dilakukan Ia hanya akan menjadi korban nafsu kekuasaan belaka.

Setelah mempercayai pesan dalam mimpinya itu, dengan sendirinya Hadiwijaya kemudian menahan diri dan mengembangkan sesuatu yang baru, yang harus dilakukannya tidak dari pusat kekuasaan di Pajang, melainkan dari tempat ia berada, yaitu di Pringgobayan.

Dengan demikian lahirlah sebuah tradisi baru yaitu adanya LSM di luar pusat kekuasaan pajang. Posisi seperti itu meminjam istilahnya Taufik Abdullah disbut sebagai hubungan multi-kratonik. Dalam hubungan sperti ini, selama kraton kecil menyatakan kedudukan nominal kpada kraton besar sudah dianggap cukup. Bahwa pihak periperal mengembangkan diri dalam pola yang tidak dikehendaki oleh pusat kekuasaan adalah ssuatu yang baru dalam sejarah bangsa indonesia.    

Hubungan periperial-pusat yang tidak simetris ini justru dipergunakan untuk pengembangan Islam tanpa merugikan agama hindu dan budha yang sedang berkuasa saat itu. Sedikit demi sedikit agama baru yang datang kemudian mengambil alih kehidupan agama-agama terdahulu, tanpa menimbulkan perbenturan yang berarti. Dengan cara ini, sesuatu yang baru telah menggantikan hal lama tanpa ada perbenturan politik yang dahsyat.

Dengan menelusuri sejarah dan latar belakang munculnya LSM seperti di atas, Gus Dur akhirnya mengimbau terhadap keberadaan berbagai LSM saat ini yang pada umumnya bergerak di akar rumput supaya lebih mengembangkan jati dirinya sendiri, yaitu dengan langkah tidak harus selalu mengikuti pola LSM-LSM internasional. Dengan kata lain Gus Dur menekankan agar mereka menggunakan cara dan gaya hidup masing-masing yang benar-benar berasal dari rakyat. []

(M. Haromain)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar