Rabu, 19 Oktober 2016

Kang Sobary: Kalah Jadi Abu Menang Jadi Gubernur



Kalah Jadi Abu Menang Jadi Gubernur
Oleh: Mohamad Sobary

PERIBAHASA ini aslinya ”kalah jadi abu, menang jadi arang”, gambaran dari sebuah kesia-siaan. Peribahasa ini dimaksudkan sebagai ajaran moral, yang intinya memberi kita suatu peringatan agar dalam hidup ini kita tak terjebak ke dalam kesia-siaan, apa pun bentuknya.

Banyak hal harus dihindari agar kita juga terhindar dari kesia-siaan. Orang biasa bertempur melawan orang hebat yang sudah teruji kehebatannya, hanya akan menghasilkan kesia-siaan.

Orang biasa itu menjadi sia-sia karena sebagai yang kalah dia menjadi abu: sesuatu yang dianggap tak berguna. Meskipun abu bisa menjadi pupuk yang menyuburkan tanaman, sepadankah kehidupan seseorang ditukar hanya dengan abu?

Orang-orang bijak zaman dulu memahami dengan baik arti kalah menang yang terkandung di dalam ungkapan simbolik peribahasa tadi. Ada yang kalah dan tersingkir biasa, seperti halnya orang yang kalah pada umumnya. Sebaliknya ada yang menang dan memperoleh kemenangan. Hadiah kemenangan itu bisa bermacam-macam.

Mungkin sebuah kerajaan, mungkin putri cantik jelita, mungkin hadiah berharga lainnya. Meskipun begitu, di dalam suatu konteks kehidupan tertentu, menang pun dianggap menjadi arang karena kemanusiaan secara utuh tak terbeli, dan tak pernah sepadan dengan harta benda berupa apa pun. Termasuk sebuah kerajaan besar seperti disebut di atas.

Kalah jadi abu, menang jadi arang merupakan kesia-siaan yang tak boleh terjadi. Mungkin kisah dalam novel Toha Mohtar, Pulang, yang pernah meraih penghargaan Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN).

Digambarkan adanya sebuah pertarungan pedang di dalam sayembara yang diselenggarakan baginda raja. Dijelaskan di dalam novel itu bahwa hadiah dari baginda raja berupa sebuah kerajaan dan putri jelita, putri istana satu-satunya. Pemenang bakal menjadi pewaris tahta, menggantikan baginda raja dan memperistri sang putri jelita.

Sayembara itu menggemparkan dunia. Tapi ketika seorang pangeran dari negeri lain yang sangat ahli bermain pedang, dan belum pernah terkalahkan mendaftarkan diri untuk mengikuti sayembara tadi, dunia pun senyap.

Tak ada yang menyusul sebagi penantang sang pangeran. Tetapi sehari menjelang sayembara ditutup, tukang kuda istana mendaftarkan diri. Dan ini menjadi sebuah kegemparan tersendiri.

Tukang kuda? Apa urusan seorang tukang kuda dengan sayembara? Tahukah dia bahwa ilmu dan keterampilannya bermain pedang sama sekali tak sebanding dengan apa yang dimiliki sang pangeran?

Dia tahu. Dirinya bukan pemain pedang. Bahkan selama hidupnya belum pernah dia memegang pedang. Tukang kuda hanya tahu sabit untuk memotong rumput yang bakal dijadikan makanan kuda-kuda istana. Hanya itu.

Mengapa dia membabi buta untuk mendaftarkan diri juga? Tak seorang pun tahu bahwa dia sedang mempertahankan cintanya pada putri raja yang jelita tadi.

Sang putri pun telah jatuh cinta kepadanya. Cinta bertemu cinta, ini harus dikapitalisasi dengan baik. Si tukang kuda menunjukkan sebagai laki-laki, apa yang dikhawatirkan tentang kematian? Cintanya harus dibuktikan pada putri tadi bahwa bahkan kematian bisa dihadapinya dengan tenang demi cintanya.

Ringkasnya, di medan laga tukang kuda tewas. Ketika tiba hari penobatannya menjadi raja, hari gembira itu digemparkan oleh berita bahwa sang putri lenyap dari keputren. Di mana pun dicari, dia tak ditemukan. Tapi ketika seseorang menemukannya, keadaan sudah terlambat. Sang putri tewas bunuh diri di atas pusara kekasihnya, si tukang kuda tadi.

"Kalah jadi abu, menang jadi arang" mungkin di sini merupakan sebuah ajaran yang gagal karena tragedi si tukang kuda bukan gambaran dari kegetiran tragis yang terakhir dalam sejarah kehidupan manusia.

Tragedi demi tragedi masih bermunculan. Seolah setiap tragedi merupakan pengalaman baru yang khas, otentik dan baru terjadi untuk pertama kalinya sejak bumi terbentang dan langit memayunginya.

Mungkin karena memang begitukah watak manusia? Kata belajar dari sejarah di sini dianggap tak relevan. Apakah tiap sejarah kegetiran memiliki maknanya sendiri?

Kata orang, bahkan keledai tak mau jatuh untuk kedua kalinya ke dalam lubang yang sama. Tapi apa sebabnya manusia malah kelihatan senang untuk belajar mengulangi pengalaman yang sama. Apakah terjatuh secara getir dalam pengalaman kedua memiliki makna lain yang lebih dibutuhkan untuk menyempurnakan dirinya sebagai manusia dibanding pengalaman pertama?

Dan itukah pula sebabnya Siciphus, dalam tragedi Yunani, tak jemu-jemunya mendorong batu ke atas bukit, untuk dibiarkan meluncur lagi ke bawah, dan kemudian didorongnya lagi ke atas, terus-menerus, berulang-ulang tanpa henti, dan setiap saat dibiarkannya hasil kerjanya itu percuma? Tugas hidup Siciphus hanya mendorong batu itu ke atas, dan selesai?

Di dunia modern ini banyak jenis Siciphus, terutama di dunia politik, yang mengulang pengalaman tragis, seolah tak peduli "kalah jadi abu menang jadi arang". Kalah dalam pencalonan bupati, maju dalam pencalonan bupati berikutnya. Ketika kalah lagi, kalah yang tak dihiraukan orang, dia maju dalam pencalonan wali kota.

Relasi kapitalisme dan demokrasi menghasilkan tokoh-tokoh yang hanya berfungsi seperti boneka yang bergerak karena dibiayai. Sebentar lagi kita akan menyaksikan fenomena seperti itu di dalam pemilihan gubernur DKI Jakarta.

Kita akan melihat yang kalah di mana-mana akan mungkin kalah lagi tapi tak peduli. Dan kita akan jadi saksi, yang menang jadi gubernur. []

Koran SINDO, 15 Oktober 2016
Mohamad Sobary | Budayawan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar