Rabu, 19 Oktober 2016

(Buku of the Day) Durrun Syarif



Durrun Syarif, Kitab Unik Mempelajari Syair Klasik


Dalam bentangan khazanah Islam dan pesantren, tak dipungkiri memang jika ulama-ulama masa lalu negeri ini telah banyak menorehkan karya (sajak/syair) yang luar biasa monumentalnya, bahkan bertaraf dunia. Sebut saja Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi, Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz At-Termasi, Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai   Bisri Mustofa yang telah menulis begitu indah Syarh Qashidah Munfarijah, buah pena Taqiudin As Subki yang kesemuannya berbahasa Arab.

Kepiawaian para kiai bermain diksi, juga rima dalam sajak (syair), tentu lantaran selain kemahirannya dalam ilmu bahasa Arab (seperti ilmu arudl dan balaghah) juga ditunjang oleh malakah insting ekspresinya yang begitu lembut, karena ia sering terlibat dan turut merasakan kegetiran yang terjadi di sekelilingnya. Salah seorang kiai  yang punya kelebihan seperti itu ialah Kiai Abdul Hamid Pasuruan, yang dikenal sebagai seorang wali. Menurut Kiai Mustofa Bisri, dalam menerangkan berbagai hal ilmu agama kepada santrinya, ia kerap menjadikan kitab fiqih yang awalnya sulit dimengerti menjadi bentuk nadzaman (sajak) yang begitu indah. Beliau, secara khusus juga telah mengadaptasi kitab sufistik Sullam At Taufiq yang begitu tebal menjadi sajak yang hanya 553 bait dengan warna lokal Jawa. Selain beliau, Kiai Ahmad Qusyairi Siddiq Jember, yang juga mertua Kiai Hamid Pasuruan juga telah menulis 312 bait sajak di bawah judul Tanwir Al Hija. (Irawan, 2013:136).

Persoalannya kini, mengapa tradisi kreatif dan arif di masa lalu itu tak bisa bertahan sampai kini? Padahal jumlah kiai dan para gus selalu bertambah. Apalagi jumlah santri yang belajar ke Timur Tengah kian hari kian membludak juga? Sedikitnya ada dua alasan yang mempengaruhinya. Pertama, sebab kiai (santri dan alumni pesantren) kurang menghargai warisan masa lalunya. Kedua, masih sulitnya pedoman membuat syi’ir (sajak) yang praktis dan mudah pada dewasa ini.

Durrun Syarif Menjawab Kebutuhan

Semenjak menulis kitab Amtsilati, Kiai Taufiqul Hakim semakin produktif membuat karya-karya update tentang kitab-kitab linguistik arab dan kepesantrenan. Ada Aqidati, Tafsir Al-Mubarok, Mukhtasor Tuhfat Al-Thullab (Pasca Amtsilati) dan ratusan kitab lainnya. Lima tahun terakhir ini, Kiai muda sarwa produktif ini juga sering menerbitkan kitab-kitab nadloman yang memuat beragam tema yang diambilkan dari kitab-kitab khas pesantren. Kitab nadloman ini menjadi ringkasan dari tema pembahasan sebuah kitab, ambil saja satu contoh kitab paling laris yakni Kitab Hidayatul Mutaallimin adalah kitab nadlom yang kontennya diambil murni (intisari) dari kitab Ta’lim Al-Mutaallim. Banyak sudah kitan nadlom yang diterbitkan dan setelah ditelusuri, sampai saat ini beliau sudah menulis sekitar 170-an kitab!

Dari seluruh karya yang ditulis, ada satu kitab yang paling unik dan menarik untuk dikaji dan didalami yaitu kitab Durrun Syarif (Mutiara Mulia). Kitab ini disebut oleh penulisnya sebagai kitab yang berisi metode praktis tuntunan menjadi Muallif. Sekali lagi, menjadi Muallif! Ternyata dengan modal keilmuan dasar nahwu-sharaf yang cukup, kata Kiai Taufiq, seseorang bisa mempelajari kitab Durrun Syarif sekaligus langsung praktek. Ini adalah sebuah tawaran terobosan revolusi pembelajaran pesantren yang luar biasa. 

Lebih konkritnya, Durrun Syarif ini adalah sebuah kitab yang menerangkan metodologi membuat syiir atau di kalangan pesantren biasa disebut Ilmu ‘Arudh. Ilmu Arudh adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk mengetahui benar atau tidaknya sebuah wazan syi’ir, dan juga perubahan wazan syi’ir dari beberapa zihaf atau illat. Ilmu arudh bisa dibilang satu cabang keilmuan linguistik Bahasa arab yang lumayan rumit. Metode pengajarannya juga bisa dibilang masih tradisional dan minim pembaharuan. Disinilah tawaran Durrun Syarif agar Arudl mudah dipelajari dan mudah diajarkan. Ilmu Arudl ini memiliki 16 pola Bahar (wazan tertentu yang dijadikan pola dalam menggubah syi’ir arab). Namun fokus dalam kitab ini hanya membahas bahar Rajaz, karena bahar ini yang paling banyak ditulis oleh ulama klasik dan paling mudah dihafal.

Selain kitab Durrun Syarif, perangkat pembelajaran lainnya adalah kamus Durrun Syarif terdiri dari kamus Bahasa Arab, Indonesia, dan Bahasa Lokal seperti Jawa, Sunda,dan Madura. Kamus ini sangat berbeda dengan kamus pada umumnya. Jika kamus umum digunakan untuk mencari awal huruf, namun kamus DS ini khusus mencari akhir huruf kalimat. Karena menggubah syiir, kesamaan dalam akhir kalimat adalah sebuah keniscayaan. Baik versi Bahasa Arab maupun versi Indonesia, kamus ini mencari akhir huruf yang sama. Maka seorang penulis tidak perlu repot memikirkan huruf-huruf akhir yang sama dari sebuah kalimat untuk menulis syiir baik bahasa Arab maupun Indonesia. Tinggal buka kamus, lalu tentukan huruf akhir yang sesuai selera dan sesuai kebutuhan.

Dalam pengantar kitab DS, Kiai Taufiq menceritakan pengalamannya bahwa ia begitu sulit mempelajari ilmu arudl yang banyak istilah-istilah yang sulit ia pahami. Namun dengan berbekal ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) pada bait Alfiyah, Zubad, dll Kiai Taufiq memberanikan diri untuk membuat syiir-syiir, walaupun awalnya banyak kesalahan. Maka dari pengalaman ATM itulah, kiai Taufiq ingin menularkan kepada santri-santri dan pembaca, metode menulis syiir. Oleh sebab itu, kiai Taufiq membuat sendiri istilah-istilah baru dalam Durrun Syarif dengan maksud untuk mempermudah dalam mempelajari.

Konten Kitab

Kitab yang berisi 64 halaman ini memiliki 8 bab pembahasan. Diantaranya bab (1) tentang mengenal Syiir/Bait, bab (2) & (3) tentang kunci Rajaz yang membahas detail tentang bagian bait yang terdiri dari Hasywun, Arudl dan Darbun. Kemudian bab (4) membahas mengenai darurat-daruratnya syiir. Bab (5) mengkaji tentang langkah-langkah dalam praktik menggubah syiir, lalu bab (6) menceritakan tentang sejarah syiir dan bab terakhir hanya menampilkan 16 bahar secara keseluruhan.

Seperti halnya Amtsilati, Durrun Syarif menekankan kepada contoh yang praktis. Kunci mempelajari kitab ini adalah bagaimana pembaca bisa memiliki pemahaman dasar tentang kunci rajaz, seperti kemampuan menghafal dan memahami not bahar rajaz yang terdiri dari 6 x mustaf’ilun. Seperti yang tertulis dalam kitab DS :

حشو    حشو     ضرب/عروض 

مستفعلن    مستفعلن    مستفعلن  

Hasywun pasti terdiri dari 4 suku kata. Suku kata yang ke 3 hanya satu huruf hidup dan suku kata yang ke 4 terdiri dari dua huruf, yang pertama berharokat dan yang kedua dibaca sukun. Perhatikan, ini kunci utama selain kondisi darurat. Itu kunci membuat bagian Hasywun, mengenai kunci Arudl/ Darbun itu pasti terdiri dari 4 suku kata atau 3 suku kata. Jika empat suku kata maka suku kata ketiga berupa satu huruf berharokat dan bila tiga suku kata maka suku kata kedua berupada dua huruf, huruf pertama berharokat dan huruf kedua sukun. Ini semua kunci selain kondisi darurat.

Ketika Anda sudah memahami keilmuan dasar ini, maka pembahasan terpenting lainnya adalah Anda harus mendalami 4 langkah dalam praktik menggubah syiir yang terdapat dalam bab (5).

Dalam bab ini, pembaca difasilitasi sebuah metodologi bagaimana proses menjadikan sebuah paragraf bahasa Arab diringkas menjadi sebuah syiir. Langkah ini ditempuh dengan 4 tahapan yaitu (1) Anda  harus menentukan materi yang akan disyiirkan. Tahapan ini bisa Anda ambil sebuah paragraf dari satu kitab, kemudian Anda pahami dan simpulkan materi yang dipilih kemudian tentukan kata kunci dari kesimpulan yang Anda pahami tanpa meninggalkan bahasa Arabnya.

Setelah memiliki kata kunci dari sebuah kesimpulan maka langkah yang lumayan menguras pikiran adalah merangkai dan menyesuaikan kesimpulan Anda dengan nada baharnya. Di sinilah proses kreatifitas penulis diuji. Pada tahap ini, nahwu-sharaf sangat diperlukan sekali, terutama sharaf karena perubahan kata akan diperlukan untuk menyesuaikan not bahar Rajaz. Proses dalam merangkai syiir ini dijelaskan detail oleh Kiai Taufiq dengan disertakan 10 contoh bagaimana proses membuat syiir dari sebuah keterangan sebuah kitab.

Tidak hanya sekedar janji, para santri Pasca Amtsilati di ponpes Darul Falah, ponpes yang diasuh oleh Kiai Taufiq sudah memberikan bukti. Kelas Durrun Syarif di bawah salah satu ustadz di sana sudah menelurkan karya-karya nadham yang ditulis dan dikarang sendiri oleh para santri Pasca. Hal ini tentu sebuah progres dan capaian yang sangat membanggakan dari kalangan pesantren. Kita bisa melihat, bahwasanya santri yang telah memiliki dasar nahwu dan sharaf kemudian dibimbing melalui kitab Durrun Syarif telah dapat mensyairkan berbagai macam materi dari berbagai macam kitab ulama-ulama terdahulu. Yang lebih menggembirakan ialah proses menuju hal ini tidak sampai memakan waktu yang lama. (Zulfa, 2016:01)

Dengan adanya sebuah kitab yang sangat mempermudah para kalangan pesantren (kiai dan santri) untuk menjadi pengarang dan menjadi penyair tentu kita sangat berharap, akan terlahirnya masa kejayaan dunia Islam Nusantara kita kembali. Telah sangat lama, kita menunggu penerus para ulama kita yang mendunia. Pernah kita mendengar nama-nama besar yang asli Indonesia seperti Syekh Yasin Al Fadani, Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Syekh Imam Nawawi Al Bantani, Syekh Mahfudz At Termasi dan lain sebagaianya. Beliau-beliau semua menjadi ulama Indonesia yang karyanya membelah sekat dan batas negara bahkan benua. Itu semua berkat karya-karya beliau yang memiliki kualitas mumpuni dan memakai bahasa yang universal bagi dunia Islam yaitu bahasa Arab. []

Kang Ipung, Penulis ialah alumni PBA Unhasy Jombang yang juga santri Darul Falah Amtsilati Jepara.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar