Rabu, 19 Oktober 2016

Buya Syafii: Akuan Besar Vs Realitas yang Getir (II)



Akuan Besar Vs Realitas yang Getir (II)
Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Firman dalam dua ayat selanjutnya dengan redaksi yang sama semestinya dapat memukul dan menyentak rasa ingin tahu kita: mengapa Islam di tangan kita tidak lebih unggul sebagaimana dijanjikan Allah? Adalah keliru jika kita cepat lari bersembunyi di ranah teologis dengan doktrin keesaan Allah yang tidak ada tandingannya, sementara kehidupan kita di muka bumi terlantar dan dihina pihak lain. Bagaimana dengan bunyi do’a dalam s. al-Baqarah 20: “Rabbanâ âtinâ fî al-dunyâ hasanah wa fî al-âkhirati hasanah wa qinâ ‘adzâba al-nâr” (Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan bebaskan kami dari siksa neraka).

Pemahaman saya terhadap ayat s. al-Baqarah ini adalah agar umat Islam tidak boleh kalah dan hidup dalam kegetiran di muka bumi, seperti yang kita derita sekarang. Umat yang kalah dan sarat dengan derita bukanlah umat yang unggul dalam perspektif agama. Pasti banyak yang salah dan keliru dalam cara kita memahami dan menjalankan ajaran Islam, tetapi mengapa sebagian kita mau mengakuinya? Tanpa pengakuan yang jujur, jangan bermimpi Tuhan akan melakukan intervensi dalam kehidupan duniawi kita agar tampil sebagai umat yang unggul.

Para pemikir dan pembaru Muslim telah datang dan pergi. Mereka telah bertungkus-lumus untuk membangunkan kesadaran umat ini agar bangkit secara berani dan bermartabat. Tetapi suara mereka malah tenggelam di tengah kebisingan dan kesibukan duniawi para elite Muslim di berbagai bangsa. Oleh sebab itu, tingkat kecerdasan umat ini mesti selalu dicerahkan agar tidak mudah jadi korban elite mereka. Di depan Tuhan, elite dan rakyat jelata tidak dibedakan, kecuali dengan raihan taqwâ yang terbuka untuk semua. Alquran bersikap sangat adil terhadap manusia, kualitas pribadilah yang menentukan, bukan keturunan, bukan pula asal-usul. Sayang sekali ajaran persamaan ini sering benar diputar-balikkan, demi status elite yang tak boleh dipersoalkan.

Tentu tidak semua kaum elite yang ditembak oleh Resonansi ini. Mereka yang adil,  jujur, dan sungguh-sungguh dalam membela kepentingan rakyat banyak tentu tidak termasuk dalam kategori yang busuk ini. Mereka adalah pemimpin yang perlu diikuti tanpa membuang sikap kritikal. Elite yang busuk pasti menjadi musuh rakyat yang cerdas dan kritikal. Di antara ciri-ciri kebusukan itu terlihat pada sikap mereka yang padai tetapi licik dalam memanfaatkan kebodohan dan kemiskinan rakyat untuk kepentingan kekuasaan dan benda. Agama kaum elite busuk ini tidak pernah sampai ke hati.

Kritik Alquran terdapat elite Quraisy terasa relevan di sini. Dalam s. al-Rûm 7: “Mereka mengetahui sisi luar dari kehidupan dunia, padahal terhadap akhirat [sebagai tujuan sejati], mereka tak hirau.” Putusnya keterkaitan antara apa yang bersifat duniawi dan kepercayaan tentang akhirat menjadi satu sebab utama mengapa banyak orang melakukan kejahatan, korupsi, culas, dan perbuatan buruk lainnya. Di mata Alquran, kehidupan duniawi baru punya makna jika diarahkan kepada tujuan ukhrawi, tempat segala amal-perbuatan dipertanggungjawabkan di depan Allah. Tetapi kalah dalam kehidupan dunia sama sekali bukan berasal dari ajaran Islam yang benar.

Di atas sudah dibicarakan mengapa pemikiran segar para pembaru seperti lenyap begitu saja. Pada hemat saya, sebab utamanya adalah karena hanya segelintir anggota umat yang mau memahaminya, sehingga tidak pernah membentuk kesadaran kolektif yang mampu menggerakkan arus perubahan besar ke arah keunggulan. Kebiasaan membaca sangatlah lemah di kalangan kita. Sebagai misal, berapa jumlah Muslim Indonesia yang pernah membaca tafsir al-Azhar, susunan Hamka. Betapa banyak pemikiran segar dan revolusioner tentang Islam dapat ditemui di dalamnya. Jangankan rakyat jelata dengan tingkat pendidikan ala kadarnya, kelas intelektual Muslim pun belum tentu berminat membacanya.

Akibatnya, kesadaran kolektif umat untuk bangkit secara autentik dan menyeluruh di berbagai bagian dunia belum pernah menjadi kenyataan. Sebagian besar umat malah jadi korban para penjual ayat. Maka menjadi tugas yang menantang bagi para pemikir dan muballigh yang tercerahkan untuk mencairkan kesadaran itu dalam rentangan radius yang luas, seluas cita-cita kemanusiaan Islam. Corak kehidupan yang kita tuju adalah: akuan besar, realitas mendukungnya! []

REPUBLIKA, 18 Oktober 2016
Ahmad Syafii Maarif | Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar