Senin, 24 Oktober 2016

(Buku of the Day) Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Orde Baru



Islam, Benny Moerdani dan Politik Militer Soeharto


Penulis             : Salim Haji Said
Judul                : Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Orde Baru
Penerbit            : Mizan, Agustus 2016
ISBN                 : 978-979-433-952-7  
Peresensi          : Munawir Aziz, Peneliti Islam dan Kebangsaan, bergiat di Gerakan Islam Cinta dan PPM Aswaja.  

Bagaimana Islam dipahami oleh pemerintahan Soeharto, yang disokong kekuatan penuh militer? Serta, bagaimana militer melihat Islam sebagai kekuatan di tengah keragaman bangsa Indonesia? Buku ini, 'Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (Mizan, 2016)', yang ditulis wartawan senior dan diplomat, Salim Haji Said, berhasil memberikan perspektif baru tentang bagaimana militer dan pemerintahan Orde Baru memandang Islam.

Dalam buku ini, Salim Haji Said berusaha mengkonstruksi tiang utama pemerintahan otoriter Orde Baru, yang dikuatkan oleh barisan militer. Komando militer, menjadi andalan utama Soeharto dengan Benny Moerdani sebagai orang kepercayaannya. Melalui serangkaian wawancara, pengamatan dan penggalian arsip, Salim Said menggali latar belakang di balik strategi politik Benny Moerdani yang mendulang kebencian di kalangan umat muslim. Bagaimana kebijakan Benny terhadap kaum muslim Indonesia? "Setelah mempelajari latar belakang perwira-perwira itu, saya berkesimpulan, bahwa yang dicurigai Benny dan perwira-perwira di sekitarnya, serta pengikutnya adalah mereka yang ditengarai  menonjol keislamannya, misalnya dengan mengirimkan anak ke pesantren kilat pada masa libur atau sering menghadiri pengajian" (hal. 98).

Dalam catatan Salim Said, kelompok perwira militer yang berlatar belakang militer akan mendapatkan diskriminasi dalam karir dan pendidikan. Mayor Jenderal TNI Edi Budianto, dalam kisah yang ditulis Salim Said, pernah dianggap sebagai fundamentalis. Mengapa demikian? Benny Moerdani menganggap Edi Budianto sebagai fundamentalis, hanya karena menyekolahkan anak gadisnya ke pesantren kilat semasa libur.

Benny juga punya metode untuk memilah dan menggariskan cara berpikir anak buahnya. Dalam tes bagi perwira untuk pendidikan militer lanjutan, dicantumkan pertanyaan tentang apakah perwira yang beragama Islam bersedia menerima pemuda non-Muslim sebagai suami bagi anak gadisnya? Jika jawaban yang diberikan adalah perlu iman yang sama, maka perwira tersebut bisa dipastikan akan mendapat nasib yang buruk (hal. 99).

Soeharto sebagai Raja

Dalam buku ini, pembaca bisa melihat bagaimaan sisi-sisi lain dari hubungan militer, Soeharto dan kelompok muslim terjadi. Meski Soeharto memandang Islam sebagai kekuatan utama, tapi dia berusaha menjaga kekuasaan dengan mengokohkan barisan militer. Para tokoh muslim hanya menjadi alat kekuasaanya, terutama ketika munculnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) sebagai lembaga yang didukung oleh Soeharto. Buku ini, juga merekam bagaimana Soeharto secara licin menggunakan strategi politik adu-domba terhadap orang-orang di sekelilingnya. Untuk apa? Tidak lain, adalah untuk mempertahankan kekuasaan.  

Benny Moerdani sosok kontroversial dalam sejarah militer di negeri ini. Di panggung politik, Benny Moerdani memerankan body guard yang mengamankan lapis internal kekuasaan Soeharto. Benny juga mengawasi gerak-gerik keluarga Soeharto, untuk memastikan mereka aman. Dalam hubungannya dengan Islam, Benny sering dianggap sebagai musuh politik kaum muslim. Terlebih, insiden Tanjung Priok menjadi puncak kebencian mayoritas kaum muslim terhadap Benny.

Akan tetapi, kisah menarik diperankan Benny dengan Gus Dur. Kisah persahabatan dua tokoh ini, diliputi misteri: antara persahabatan dan permusuhan, antara percaya dan curiga. Ketika Benny dikritik dan dihujam kebencian kaum muslim, Gus Dur mengajak Benny untuk keliling pesantren, sowan ke beberapa kiai sepuh, dan mengenalkan dunia santri kepada Jenderal Benny. Padahal, beberapa tahun silam, ketika Soeharto mengintervensi kaum santri, hingga pada pemilihan Ketua Umum PBNU, Benny lah yang menjadi komandan lapangan untuk melakukan operasi melemahkan NU dan pesantren, khususnya pada Muktamar 1987 di Asembagus, Situbondo.

Namun, Gus Dur memaafkan Benny dengan mengajaknya bersafari ke pesantren-pesantren, ketika posisi Sang Jenderal sedang terjepit. Mengenai Benny, Gus Dur menulis: "Sebagian teman menyatakan kepada penulis, bahwa Benny Moerdani adalah musuh Islam yang sesungguhnya, tapi penulis berkesimpulan itu sebagai sesuatu yang salah. Justru, Pak Benny adalah orang yang melaksanakan pola hubungan negara dan agama seharusnya. Di antaranya, dia memegang pendiriannya bahwa harus ada perbedaan tegas antara mana yang menjadi tanggungjawab negara dan mana milik negara itu sendiri" ungkap Gus Dur, dalam buku LB Moerdani: Langkah dan Perjuangan (2005).

Buku karya Salim Haji Said ini, melengkapi beberapa karyanya terdahulu: Dari Gestapu ke Reformasi: Serangkaian Kesaksian (Mizan, 2013), dan Gestapu 65: PKI, Aidit, Soekarno dan Soeharto (Mizan, 2015). Ulasan Salim Haji Said memiliki perspektif yang segar, karena sebagai peneliti, wartawan dan diplomat, ia mampu menjangkau beberapa narasumber kunci yang selama ini menjadi saksi sejarah dalam tubuh militer Indonesia. []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar