Jumat, 28 Oktober 2016

(Khotbah of the Day) Tegak di Atas Agama yang Lurus dan Toleran



KHOTBAH JUM'AT
Tegak di Atas Agama yang Lurus dan Toleran

Khutbah I

 اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِىْ جَعَلَ الْاِسْلَامَ طَرِيْقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ لِلْمُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ وَيَنْهَوْنَ الْفَسَادَ مَكَانًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا حَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا. اَللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلاً نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِىْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى : بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ، يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ


Jamaah shalat jum’at rahimakumullâh,

Kehadiran Islam sejak awal menunjukkan sikap-sikap yang merangkul. Rasulullah mengawali dakwahnya di Makkah secara pelan-pelan: mulai dari keluarga, kawan-kawan terdekat, orang-orang tertindas seperti budak, dan seterusnya. Yang penting dicatat, tahapan demi tahapan dilalui tanpa paksaan, apalagi kekerasan. Bahkan, beliau sendiri yang justru kerap mendapatkan perlakuan kasar hingga percobaan pembunuhan dari para penentangnya, terkecuali dua pamannya, Abu Jahal dan Abu Lahab. Kita tahu, sejak belia Nabi mendapat julukan “al-amin” karena karakternya yang jujur. Rasulullah juga dikenal sebagai pribadi yang ramah kepada siapa pun, gemar menolong, dan pembela yang lemah. Kepribadian inilah yang menjadi modal dasar beliau mengatasi beragam tantangan tersebut hingga sukses mensyiarkan Islam di Tanah Arab yang kemudian terus meluas ke seluruh penjuru dunia.

Sikap ini sejalan dengan pesan Surat Al-Baqarah Ayat 256:

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ  قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memeluk) agama (Islam). Jalan kebenaran dan kesesatan telah jelas. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada thaghut (berhala-berhala yang mematikan akal) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Dalam tafsir Jalâlain dijelaskan, ayat ini turun ketika ada anggota Ansor, yakni golongan pendukung/penolong Nabi saat hijrah di Madinah, yang berusaha memaksa anaknya untuk masuk Islam. Wahyu kemudian turun untuk memperingatkan bahwa Islam seyogianya diterima dengan suka rela dan penuh kesadaran, bukan dengan tekanan-tekanan. Ayat ini menyiratkan pelajaran bahwa Islam sangat menghargai proses penyadaran. Di samping karena Islam sangat rasional alias bisa dibuktikan kebenarannya, manusia juga dibekali akal sehat.

Itulah sebabnya saat Islam berjaya di tanah Arab pasca-hijrah Nabi ke Madinah, Rasulullah tak serta-merta memaksa masyarakat secara keseluruhan meyakini kebenaran Islam. Dalam catatan sejarah, Islam menarik jizyah (semacam pajak), misalnya,  kepada kelompok Yahudi dan Nasrani. Jizyah adalah penanda bahwa para pembayarnya mendapat jaminan keamanan dan perlindungan di bawah kekuatan Islam saat itu. Islam menghargai dan memberikan hak-hak kebebasan kepada golongan lain selama taat pada kesepakatan untuk mewujudkan kedamaian bersama.

Sikap Nabi yang terbuka ini lantas dilanjutkan para khalifah selanjutnya yang berjasa menyebarluaskan Islam berbagai belahan dunia. Negara-negara yang memiliki jejak dakwah Islam dari Khulafaur Rasyidin itu hingga kini terbukti tetap majemuk, karena dakwah dilancarkan tidak dengan memaksa penduduk untuk menganut Islam. Islam lebih banyak disebar dengan akhlak dan ilmu pengetahuan.

Jamaah shalat jum’at yang semoga dirahmati Allah,

Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَحَبُّ الدِّيْنِ إِلَى اللهِ الْحَنِيْــفِيَّةُ السَّـمْحَةُ

“Agama yang paling dicintai allah adalah agama yang hanîf (lurus) dan toleran.” [HR Bukhari]

Apa itu agama yang hanîf?

Fitrah dari setiap manusia yang juga menjadi dasar keagamaan adalah pandangan hidup yang hanîf atau lurus. Hanîf merupakan ciri semua ajaran yang dibawa para rasul sebelum Nabi Muhammad. Seperti dikatakan dalam Al-Qur’an:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا  وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): "Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif" dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS An-Nahl: 123)

Dalam QS. 'Ali `Imran: 67, Nabi Ibrahim dikatakan bukan bagian dari Yahudi ataupaun Nasrani, melainkan seorang yang hanîf lagi berserah diri kepada Allah. Golongan Yahudi dan Nasrani pada zaman Rasulullah, Yahudi dan Nasrani dikenal sebagai kelompok yang sektarian, merasa paling benar sendiri—kendatipun klaim ini juga bisa dilakukan oleh kaum muslim zaman sekarang. Nabi Ibrahim sebagai hanîf karena belaiau mengusung ajaran tauhid, yakni mengakui tuhan hanya Allah semata, dan keharusan berserah diri total kepada-Nya. Hal ini yang membedakan ajaran tersebut dari pandangan hidup kaum musyrikin penyembah berhala, fanatik terhadap suku, dan tak memandang manusia sebagai makhluk yang setara.

Selain hanîf, ciri lain dari agama yang dicintai Allah adalah samîh atau yang murah hati dan toleran. Artinya, Islam bukan agama bengis, yang tega menjatuhkan kelompok-kelompok di luar dirinya demi “tegaknya” Islam. Namun, ia membuka pergaulan dan komunikasi dengan pihak-pihak berbeda pandangan. Kalaupun harus berdakwah, maka ajakan itu dilakukan dengan metode-metode yang ramah dan cerdas—sebagaimana yang ditunjukkan sejarah peradaban Islam periode awal.

Hadits tentang karakter agama yang al-hanafiyah assamhah tersebut kian menopang argumentasi Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin). Islam tegak di atas pondasi imam akan Keesaan Tuhan (tauhid) yang kokoh, namun tetap lembut dalam pergaulan yang luas, menembus batas-batas suku, ras, warna kulit, status sosial, bangsa, dan lain-lain. Wallahu a‘lam bish shawâb.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلكمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالآياتِ والذِّكْرِ الحَكِيْمِ.  إنّهُ تَعاَلَى جَوّادٌ كَرِيْمٌ مَلِكٌ بَرٌّ رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ


Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا

أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَىيَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءُ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

Sumber: NU Online

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar