Rabu, 05 Oktober 2016

(Buku of the Day) Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus



Mengarungi Samudra Sufisme Gus Dur


Judul Buku        : Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus
Penulis             : KH. Husein Muhammad
Penerbit            : Noura Books, Februari 2016
ISBN                 : 978-602-385-009-9
Peresensi          : Munawir Aziz, bergiat di Gerakan Islam Cinta (@munawiraziz) 

Bagaimana sosok KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dalam tradisi pesantren negeri ini? Kisah dua tokoh ini, Gus Dur dan Gus Mus, adalah kisah tentang persahabatan, persaudaraan  dan kerja keras pembelajar. Gus Dur sudah diketahui publik sebagai pembelajar sejati, yang tidak pernah meninggalkan ruang kosong dalam hidupnya. Hidup Gus Dur adalah ilmu tanpa batas. Segala sikap, pemikiran dan geraknya adalah ilmu. Beliau memiliki perspektif luas tentang keindonesiaan, kebangsaan, pesantren dan dunia Islam.

Sementara, Gus Mus merupakan kawan dekat Gus Dur yang sehati dengannya. Sosok Gus Mus menjadi referensi bagi muslim Indonesia saat ini. Bahkan, pemikiran Gus Mus juga menjadi bahan pertimbangan, pemantik diskusi dan penebar kedamaian di pelbagai kawasan. Sosok Gus Dur dan Gus Mus tidak hanya milik muslim Indonesia. Mereka berdua adalah milik warga dunia.

Gus Dur Sang Pembelajar

Lalu, bagaimana keduanya dipahami sebagai rangkaian gagasan? Bagaimana sikap, perspektif dan gerakan Gus Dur-Gus Mus ini diresapi oleh warga negeri ini? KH. Husein Muhammad menjelaskan dengan jernih dan mengalir dalam buku 'Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus' ini. Lewat buku ini, Kiai Husein ingin menjelaskan pemikiran-pemikiran Gus Dur melalui pantulan refleksi Gus Mus.

Sebagai sahabat dekat Gus Dur, Gus Mus menyimpan mutiara kisah, kepingan memori, kenangan humor terhadap sosok mantan presiden Indonesia itu. Ketika kuliah di Mesir, Gus Mus-lah sosok yang sangat dekat dengan Gus Dur. Bahkan, Gus Mus sering diajak untuk nonton film di beberapa bioskop di Mesir. Gus Dur, dengan ungkapan khas, selalu bergerak untuk menikmati ilmu, menyerapnya dengan cara pandang pribadi, dan merenungkan refleksi-refleksi yang segar terhadap ilmu tersebut.

Sementara, penulis buku ini, Kiai Husein merupakan sosok yang juga dengan Gus Dur. Terutama, pada akhir masa hidup Gus Dur. Kang Husein sering berdialog dengan Gus Dur di ndalem Ciganjur.

Menurut Kiai Husein, Gus Dur adalah orang yang sangat cerdik, sangat cerdas serta menguasai beragam ilmu. Gus Dur juga memiliki pengetahuan yang sangat luas, serta terbuka pada pengetahuan baru. Menurutnya, Gus Dur dianugerahi keistemewaan paripurna, yakni weruh sak durunge winarah (mengetahui sebelum terjadi)".

Sufisme Gus Dur

Dalam catatan Kiai Husein, para ulama besar memiliki keistimewaan semacam ini, semisal Abu Yazid al-Busthami, Ibn 'Arabi dan Imam al-Ghazali. Bahkan, Ibn Arabi pernah mengungkapkan, ketika menulis karya besarnya Futuhat al-Makiyyah: "Seluruh pikiran dalam buku ini, lahir dari ilham yang terus mengaliri otakku,". Dalam renungan Kiai Husein, para intelektual besar memperoleh anugrah berupa ilham dan kewaskitaan, setelah melalui perenungan panjang, seraya menggunakan kejernihan hati untuk memahami akar permasalahan dalam kehidupan.

Gus Dur, Maulana Rumi, dan para wali Allah adalah orang-orang yang selama hidupnya diabdikan untuk mencintai seluruh manusia, dengan tanpa pamrih apapun. Mereka memberikan kebaikan karena semata-semata kebaikan itu sendiri, bukan karena mengharap kebaikan itu kembali kepada dirinya. Menurut Kiai Husein, cara hidup seperti ini diungkapkan dalam sebuah puisi indah, oleh sufi Ibn Athaillah as-Sakandari. "tanamlah eksistensimu di bawah tanah yang tak dikenal. Sesuatu yang tumbuh yang tak ditanam, tidak akan berbuah segar", begitu petuah penulis mahakarya Al-Hikam.

Ketika membahas sosok pribadi Gus Dur, Kiai Husein bertanya kepada Gus Mus. Namun, Gus Mus melemparkan pertanyaan ini kepada Kiai Husein, yang dijawabnya begini: "Kalau menurut saya begini, Gus. Pemetaanku mungkin salah, ya mohon maaf dengan segala hormat. Gus Dur itu seorang pemikir, budayawan, seorang penulis brilian, narasumber seminar yang laris, mengusai sastra prosais dan puisi Arab serta Inggris, menyukai musik klasik dan mengerti, tetapi tidak atau sedikit sekali menulis puisi. Kalaupun kadang menyanyi, suaranya menurutku kurang enak, tidak merdu (hal. 165).

Dengan segala kelebihan dan kekurangan sebagai manusia, Gus Dur menjadi panutan bagi semua orang, Gus Dur menjadi guru sekaligus sahabat untuk memahami makna terdalam kehidupan. Melalui buku ini, kita diajak untuk mengarungi samudra terdalam spiritualitas Gus Dur, memahami makna cinta yang ditebarkan olehnya. []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar