Selasa, 11 Oktober 2016

Buya Syafii: Akuan Besar Vs Realitas yang Getir (I)



Akuan Besar Vs Realitas yang Getir (I)
Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Resonansi ini bukan untuk mendorong orang jadi pesimistis menatap masa depan yang sepenuhnya berada di tangan umat ini. Jika kadang-kadang terasa nada pesimisme dalam tulisan saya, tujuannya tunggal: agar kita sadar dan mau berubah ke arah kondisi yang lebih baik dan lebih adil. Islam berdasarkan Alquran adalah sebuah agama yang punya akuan besar untuk kemuliaan dan kehebatan manusia dibandingkan dengan makhluk mana pun (lih. misalnya s. al-Isrâ’: 70; al-Tîn: 4). Lebih dari itu, Alquran s. al-Taubah: 33 dan s. al-Shaff: 9 dengan redaksi yang persis sama, menegaskan bahwa Islam mesti lebih unggul dibandingkan dengan agama mana pun. Kita kutip maknanya: “Dialah yang telah mengutus rasulnya dengan membawa petunjuk dan agama kebenaran agar mengungguli semua agama [yang lain), sekalipun orang-orang musyrik tidak menyukainya.”

Dua ayat pertama adalah gambaran tentang keperkasaan umat manusia secara umum, beriman atau tidak beriman. Untuk menjadi perkasa itu terbuka buat semua orang, asal syarat-syaratnya dipenuhi dengan menggunakan anugerah Allah berupa akal, rasa, dan ketrampilan secara maksimal melalui penguasaan hukum-hukum alam yang dapat dipelajari. Semua manusia dilengkapi dengan anugerah ini, tanpa kecuali. Agama di sini tidak menjadi syarat. Ilmu dan teknologi adalah capaian manusia yang spektakuler, dengan sisinya yang positif dan sisinya yang merusak, tergantung kepada si penggunanya. Dalam penggunaan ini, agama dan pertimbangan moral menjadi sangat mustahak.

Sekarang, layangkanlah pandangan ke dunia Muslim dengan jumlah penduduk sekitar 1,6 miliar manusia, bertebaran di seluruh keping bumi. Ada sedikit yang makmur dan kaya raya, bukan karena penguasaan ilmu dan teknologi, tetapi karena pemberian alam yang melimpah. Apakah di bumi Muslim yang kaya ini terwujud keadilan dan kebebasan manusia? Jawabannya pasti negatif. Penguasa dan sebagian ‘ulama cenderung memperlakukan rakyatnya sebagai hamba yang selalu taat. Fenomena Musim Semi Arab yang gagal itu adalah bukti teranyar dari ketidakpekaan elite mereka. Saya gagal memahami elite Suria: penguasa dan pihak oposisi, sama-sama tega membiarkan rakyatnya dalam jumlah jutaan “berkeliaran” mencari tempat berlindung ke berbagai negara. Ini adalah krisis kemanusiaan yang terparah pasca Perang Dunia II.

Barangkali, ketertinggalan di ranah ilmu dan teknologi tidak akan menjadi masalah yang terlalu besar, asal prinsip keadilan, moral, dan kebersamaan dirasakan oleh seluruh anggota masyarakat. Yang sedang berlaku adalah: ilmu dan teknologi berada pada tingkat yang rendah, sedangkan keadilan dan moral juga jauh kenyataan. Para elite sibuk dan manja dengan kekuasaannya, rakyat jelata diperlakukan sebagai setengah manusia. Coba tunjukkan kepada saya: bangsa Muslim mana sekarang yang dapat dijadikan contoh tentang tegaknya keadilan dan unggulnya moralitas?

Ceramah para khatib dan tuturan para muballigh telah lama kehilangan daya pikatnya. Sebagian malah biasa menghibur umat yang menderita dan tekapar di bumi dengan janji-janji surgawi yang nun jauh di sana. Inikah yang bernama “umat terbaik yang dilahirkan untuk jadi contah manusia lain?” Mari kita bersedia berfikir tenang, jujur, cerdas, dan berani, mengapa semuanya berlaku? Apakah kita tidak malu mengaku bahwa Tuhan masih berpihak kepada kita dalam kondisi yang serba runyam di lingkungan realitas yang getir ini?

Dalam situasi keos ini, muncullah gerombolan ISIS dan Boko Haram dengan slogan-slogan palsunya. Tetapi ajaibnya, ada saja Muslim yang percaya dan siap pula untuk menumpahkan orang lain yang tidak sefaham. Tragedi ini sedang melanda sebagian bumi Muslim yang malang. Tuan dan puan bisa membayangkan nasib kaum perempuan dan anak-anak yang mesti meninggalkan kampung halamannya karena ulah kaum elitenya yang berseteru dan telah lama mati rasa itu.

Firman Allah pasti benar, tetapi pemahaman terhadap firman itu bisa saja keliru karena ketidakjujuran dan kelemahan kita dalam memahami sumber agama yang sudah menyejarah dalam bilangan kurun yang panjang. []

REPUBLIKA, 11 October 2016
Ahmad Syafii Maarif | Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar