Rabu, 12 Oktober 2016

Cak Nun: Tidur Sebagai Cara Membaca



Tidur Sebagai Cara Membaca
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Apaan itu si Markesot meledak-ledakkan cambuk? Memangnya film silat. Kisah khayalan para pendekar. Di abad ke berapa lelaki memakai cambuk digulung melingkari pinggangnya difungsikan sebagai sabuk. Apa di abad 21 ini masih ada romantisme Kiai Sabuk Tampar, yang melawan halilintar dengan meletuskan gemerincing ujung cambuk ke angkasa.

Apaan itu berlari-lari sambil tertawa-tawa. Perilaku siapa yang seperti itu selain ekspressi orang tak waras. Orang dewasa di zaman kapanpun dalam sejarah, tidak lazim berperilaku seperti itu. Anak-anak kecil pun tidak mengekspresikan kebebasan kekanak-kanakannya dengan berlari-lari sambil tertawa-tawa, kemudian berhenti bertolak pinggang memelototkan mata ke berbagai arah.

Andaikan Markesot hanya tokoh fiktif, tidak sepantasnya juga untuk diberi adegan menggelikan semacam itu. Tidak ada novel, skrip teater, tradisional ataupun modern, yang mengarang pelakon yang kalau bicara seolah-olah seorang filosof. Kalau berkomunikasi sering memakai bahasa orang terpelajar, tapi berperilaku layaknya gelandangan yang tidak berpendidikan.

Atau preman setengah-setengah yang sok sakti dengan senjata tajam, meskipun tajamnya hanya di rangkaian besi-besi kecil di ujung cambuk.

***

Pertanyaan, penilaian dan pernyataan seperti itu sama sekali tidak bisa disalahkan pada siapapun yang melihat Markesot.

Akan tetapi andaikan ada yang benar-benar berjumpa dengannya, mohon tidak usah melontarkannya kepada Markesot. Bahkan sinar mata dan pancaran wajah siapapun jangan membuat Markesot mendengar bahwa di dalam hatinya berbunyi pertanyaan dan pernyataan seperti itu. Markesot jangan dipancing untuk meluncurkan puluhan argumentasi untuk menjelaskan dan membela apapun yang ia lakukan.

Dan hendaknya dimafhumi oleh siapapun saja bahwa yang sanggup melawan argumentasi Markesot hanyalah Markesot sendiri.

Sudahlah diterima saja ia apa adanya. Daripada nanti kerepotan sendiri harus mendengarkan Markesot menguraikan panjang lebar tentang “Ilmu Peta Diri”, di mana ia menjelaskan karakter dan perilakunya secara amat sangat gamblang dan benar-benar tak terbantahkan. Mending mengalah dan bertoleransi saja menerima Markesot sebagaimana sejatinya dia.

Toh dia tidak akan minta ditraktir makan. Ia pantang numpang tinggal di rumah siapapun. Mustahil akan melamar minta pekerjaan. Pasti tidak akan mengganggu siapapun dan di manapun. Terlebih lagi sangat-sangat mustahil ia merayu untuk dijadikan menantu siapapun yang punya anak gadis secantik apapun.

Direlakan dan dilupakan saja cambuk itu, ledakannya dan tertawa gilanya. Toh memang benar Markesot mengumpulkan empat puluh anak-anak, teman-teman, orang-orang, atau entah bagaimana tepatnya menyebut mereka, di Patangpuluhan.

Mengumpulkan, berpesan sesuatu kepada masing-masing, semacam ‘PR’, untuk saling menghidangkannya satu sama lain dalam pertemuan yang disepakati. Yakni setiap yang hadir harus membawa tulisan, dua tiga sampai empat halaman. Tidak ada batasan. Masing-masing berdaulat untuk menentukan apa yang ditulisnya. Bebas bentuknya. Tidak dipersyarakatkan bermutu tidaknya.

Markesot bukan Guru mereka, senior mereka atau tokoh ini itu yang mereka segani. Bahkan kalau bicara level sosial, mereka rata-rata lebih tinggi pencapaian sosialnya dibanding Markesot. Lebih jelas pekerjaannya, jelas pangkat dan jabatannya, jelas sukses ekonomi dan kariernya. Sementara Markesot boleh dikatakan tidak bisa dicatat apa prestasinya.

Jadi kenapa mereka tidak berkeberatan diminta berkumpul dan dikasih ‘PR’ oleh Markesot?

Itu tidak ada hubungannya dengan peran, fungsi, level sosial, prestasi, reputasi, kewibawaan, apalagi kekuasaan dan ketinggian derajat. Mereka juga bukannya segan, apalagi patuh, kepada Markesot.

Mereka beramai-ramai datang dari berbagai tempat berkumpul di Patangpuluhan didorong oleh satu sebab yang sangat sederhana. Kalau bersama Markesot mereka selalu gembira. Bertahun-tahun di waktu yang lalu hampir tiap hari mereka bergaul dengan Markesot, yang terutama mereka dapatkan adalah kegembiraan dan semangat hidup. Rasa tenteram, hati ringan menghadapi segala sesuatu. Tenaga hidup serasa berlipat-lipat. Jiwa dan mental tetap kokoh kuat meskipun menghadapi persoalan-persoalan seberat apapun.

***

Jadi kenapa tiba-tiba Markesot marah-marah? Memenggal proses, berlaku gila, bikin suara-suara letusan, tertawa-tawa, menghentikan pembacaan tulisan-tulisan yang mereka telah membuatnya dengan tidak mudah? Kenapa?

Yang paling terganggu adalah tujuh orang yang sejak awal tadi intensif mendengarkan tulisan demi tulisan, mengajaknya masuk ke berbagai wilayah-dalam persoalan-persoalan. Kenapa dipotong oleh Markesot? Apa dia tidak suka, tidak setuju atau menilai bahwa karya-karya itu kurang memenuhi syarat?

Atau karena kebanyakan pendengarnya tidur? Bahkan ada yang mengorok terang-terangan. Ada yang belum tuntas mendengar satu tulisan sudah tergeletak badannya. Siapa tahu ia memang capek? Karena perjalanan sangat jauh di seberang pulau ke Patangpuluhan? Bukankah tidur adalah solusi yang paling benar dan tepat untuk capek? Ajaran apa yang menganjurkan badan capek diatasi dengan mendengarkan filsafat dan pemikiran?

Siapa juga yang bisa memastikan bahwa orang yang tidur adalah orang yang terputus hubungannya dengan suara dan peristiwa di sekitarnya? Apakah ada orang yang tidur total? Apakah jantung pernah tidur? Apakah darah pernah berbaring? Apa sesungguhnya yang terjadi pada hati seseorang tatkala tubuhnya tidur? Apa pula yang berlangsung pada pikirannya?

Apakah pikiran pernah tidur? Apakah pikiran pernah tidak bekerja? Siapa yang pernah menyempatkan diri berwawancara dengan pikirannya masing-masing, tentang apa yang dilakukannya ketika tidur?

Bukankah Markesot sendiri yang sering menyeret-nyeret semua di sekitarnya ke wilayah imajinasi dan eksplorasi probabilitas seperti itu? Apakah Markesot menyangka tiga puluh tiga teman yang tidur itu dipastikan terputus hubungannya dengan tulisan-tulisan yang dibacakan?

Bagaimana kalau ternyata mereka mendengarkan sambil tidur? Mendengarkan dalam tidur? Mendengarkan dengan cara tidur? Bukankah pernah ada dua Kepala Negara mengadakan pembicaraan resmi dan salah satunya tidur? []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar