Rabu, 12 Oktober 2016

Kisah Nyai Wahid Hasyim Mendidik Gus Dur dan Kelima Adiknya



Kisah Nyai Wahid Hasyim Mendidik Gus Dur dan Kelima Adiknya

Nyai Wahid Hasyim dan keluarga/Dok: Perpustakaan PBNU
Tidak ada yang berat di pundak Nyai Hj Sholehah, ibu Abdurrahman Addakhil yang saat ini dikenal sebagai Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan kelima adik Gus Dur saat ditinggal untuk selama-lamanya oleh suami tercinta KH Abdul Wahid Hasyim. Wahid Hasyim wafat pada 19 April 1953 dengan meninggalkan 6 orang anak yang masih duduk di sekolah dasar.

Keenam anak tersebut yaitu Abdurrahaman Addakhil berusia 14 tahun dan baru lulus sekolah dasar saat itu. Konon nama ini berasal dari nama tokoh Bani Umayyah yang mendirikan Daulah Umayyah di Andalusia. Kedua, Aisyah berusia 12 tahun dan baru kelas 5 sekolah dasar, ketiga Salahuddin Al-Ayyubi yang kini dikenal Salahuddin Wahid berusia 10 tahun dan baru kelas 3 sekolah dasar.

Keempat, Umar Al-Faruq berusia 9 tahun dan baru duduk di kelas 2 sekolah dasar, kelima Lilik Khadijah yang baru berusia 5 tahun dan masih belajar di taman kanak-kanak, terakhir Muhammad Hasyim yang saat itu masih di dalam kandungan Nyai Sholehah yang baru berusia 3 bulan.

Ketika itu mereka menempati rumah di Jalan Matraman Barat atau di Taman Amir Hamzah. Perasaan sedih kala itu memang menggelayut dalam diri Nyai Sholehah ketika 6 orang putra-putrinya ditinggal KH Wahid Hasyim padahal mereka masih memerlukan kasih sayang seorang ayah. Wahid Hasyim meninggal dunia akibat kecelakaan mobil yang menimpanya saat perjalanan antara Jakarta dan Bandung.

Beban untuk mendidik hingga menyekolahkan keenam anaknya itu betul-betul sangat dirasakan oleh Nyai Sholehah karena tidak banyak peninggalan suaminya selain ilmu dan perjuangan yang tiada tara. Nyai Sholehah menuturkan, suaminya adalah seorang pejuang yang tentunya tidak banyak perhatiannya pada harta benda selain keikhlasan. Pada saat itu, kisahnya, kondisi dan keadaan negara tidak semaju sekarang ini.

“Jadi, walaupun jadi Menteri juga tidak banyak uang. Wal hasil tidak ada persiapan ekonomi apa-apa dan tidak meninggalkan warisan harta yang cukup untuk keperluan hidup dan pendidikan anak-anak,” tutur Nyai Sholehah (Risalah Islamyah, 1977: 28).

Namun demikian, bagi Nyai Sholehah yang terpenting suaminya telah meninggalkan ilmu pengetahuan dan pelajaran hidup yang sangat berharga untuk bekal anak-anaknya di masa yang akan datang. Hal ini menjadi keyakinan dirinya dalam setiap usaha yang dilakukannya agar keenam anaknya dapat mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, termasuk ketika Nyai Sholehah membuka usaha jualan beras. 

“Dalam usaha dagang beras itu, seingat saya bisa mendapat keuntungan Rp2,50 alias seringgit tiap kuintalnya,” ujar Nyai Sholehah (1977: 29).

Uang satu ringgit kala itu memang bukan uang yang sedikit sehingga usaha dagangnya itu mampu mencukupi bagi kehidupan dan pendidikan anak-anaknya. Usaha dagang beras terbilang sukses, Nyai Sholehah juga berusaha membuka usaha-usaha lainnya, seperti usaha leveransir (semacam jasa penyedia barang, red) bagi pembangunan Tanjung Priok kala itu.

Bagi Nyai Sholehah, meskipun suaminya seorang menteri, pejuang bangsa dan salah satu perumus dasar negara Indonesia, tidak lantas membuatnya bergantung pada sederet kiprah dan prestasi tersebut. Biarlah bangsa Indonesia yang menilai, mengingat, atau bahkan memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi KH Wahid Hasyim. Dalam hal inilah Nyai Sholehah berprinsip bahwa tidak ada usaha yang tidak pantas dalam mencari rezeki halal, tentu asal usahanya halal pula. 

Atas kerja kerasnya tersebut, Nyai Sholehah berhasil mencukupi kebutuhan bagi pendidikan keenam anaknya. Apalagi 6 anaknya tersebut terbilang anak-anak yang cerdas dan sholeh. Semua anaknya itu dididik dan disekolahkan di Jakarta untuk pertama kali, kemudian ada yang melanjutkan ke Jawa Tengah (Pesantren Tegal Rejo), ITB, dan Mesir.

Dalam hal pendidikan agama, ketika suaminya masih hidup, anak-anak Nyai Sholehah sering mengaji kepada ayahnya  sendiri di tengah kesibukannya menjabat sebagai Menteri Agama. Tradisi shalat jamaah pun diterapkan betul oleh Nyai Sholehah untuk mewujudkan kedisiplinan anak-anaknya. Setiap maghrib harus berjamaah, lalu dilanjut dengan mengaji Al-Qur’an bersama-sama. Khusus malam Jumat, mereka juga diharuskan membaca tahlil secara berjamaah.

Dalam pandangan Nyai Sholehah, pendidikan agama sangat penting dalam membina moral anak-anak sehingga peran apapun yang dijalani anak-anaknya kelak, mereka tetap terjaga untuk taat kepada Tuhannya. Selain itu, pendidikan rohani juga mampu menjadikan anak tidak mudah minder (kecil hati) karena Islam mendidik manusia berhati besar tetapi tidak sombong.

Pendidikan berharga yang selalu ditekankan oleh Nyai Sholehah juga terkait dengan berusaha menjadi diri sendiri, beramal dengan karya sendiri, tidak menggantungkan dan membonceng orang lain, terutama membonceng kebesaran orang tua. Karena menurutnya, lebih baik menjadi orang besar karena karyanya sendiri daripada menjadi besar karena orang tuanya. Oleh sebab itu dalam pandangan Nyai Sholehah, bekal akhlak dan ilmu pengetahuan mempunyai peran yang sangat penting. []

Disarikan dari Majalah Risalah Islamyah Jakarta, Edisi Nomor 7-IX, tahun 1977. 

(Fathoni)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar