Senin, 10 Oktober 2016

(Buku of the Day) Dinamika Pemikiran Intelektual Muda NU



Bunga Rampai Pemikir Muda NU


Judul buku        : Dinamika Pemikiran Intelektual Muda NU
Penulis             : Rohmat Zaini, dkk (ISNU TULUNGAGUNG).
Penerbit            : Lentera Kreasindo Yogyakarta
Tahun Terbit      : April 2016
Tebal                : 270 halaman
Peresensi          : Rizal Mubit, Peneliti Farabi Institute

Semangat jihad intelektual masih tetap dan terus tumbuh di beberapa kalangan yang sungguh-sungguh memahami arti perjuangan NU. Untuk itu “kembali ke khittah” selalu menjadi diskursus yang hangat diperbincangkan. Kiranya, semangat itulah yang menjadi intisari buku yang ditulis oleh Ikatan Sarjana Nahdhatul Ulama (ISNU) Tulungagung. 

Buku ini berawal dari perbincangan santai pengurus ISNU Cabang Tulungagung yang merasa bahwa tradisi menulis di kalangan NU masih kurang. Ceramah dan berdiskusi sudah biasa di kalangan Nahdliyin, tetapi untuk menulis masih belum. Memang ada beberapa warga NU yang rajin menulis, tetapi jumlahnya tidak berbanding dengan jumlah warga NU.

Nahdhatul Ulama yang identik dengan pondok pesantren; mulai dari gaya hidup, metode pembelajaran dan pengajaran, sampai pola pikir dalam segala bidang perlu untuk dituliskan sebagai inspirasi masyarakat Islam pada umumnya dan manusia seluruhnya. Sehingga NU bisa dipahami banyak orang di semua kalangan tidak hanya sebatas orang-orang yang mampu membaca kitab kuning dengan pemaknaan yang tepat menurut gramatikal bahasa arab, atau mereka yang aktif di Lajnah Bahtsul Masail dengan segudang problematika fiqih serta jawaban yang acap kali tanpa menggunakan pertimbangan kajian holistik dan sumber rujukan yang kolektif.

Kehadiran buku kumpulan tulisan para intelektual NU ini cukup kaya warna dan menggugah pemikiran kalangan muda. Kajiannya mampu memberikan jawaban atas kegelisahan pengikut NU pada umumnya. Pertama, topik yang ditulis mencakup tema yang variatif. Ada yang menulis masalah ideologi, politik, ekonomi, manajemen, pendidikan, budaya, sampai soal hadits. Topik yang melintas batas tersebut sungguh merupakan kekayaan warna dalam dimensi intelektual. Kedua, latar belakang penulis yang beragam. Ada yang berlatar belakang guru, dosen, mahasiswa, santri, hingga enterpreneur. Latar belakang mereka memengaruhi terhadap tulisan yang mereka buat. Ketiga, keragaman geografis. Memang buku ini yang menerbitkan ISNU Tulungagung. Tetapi penulisnya tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Eko Siswanto misalnya, ia adalah dosen STAIN Alfatah Jayapura, tetapi beliau dulu adalah Pengurus IPNU Tulungagung. Ada juga penulis dari Jambi, Ponorogo, Malang, Surabaya, Lamongan dan dari beberapa kota lain. Tetapi sebagian besar diisi pengurus ISNU Tulungagung.

Para penulis menghadirkan data, informasi, dan pemikiran-pemikiran cerdas para intelektual NU Tulungagung dan sekitarnya. Misalnya tulisan Sekretaris Umum ISNU Tulungagung. Pembaca akan menemukan pernik-pernik ideologis ke-NU-an dan kecerdasan argumentatif di dalam ulasannya. Pembaca mungkin akan  tergelitik saat membaca ulasan dari Agus Zaenul Fitri yang juga Wakil Direktur Pascasarjana IAIN Tulungagung ketika merangkai narasi Gus Dur. Juga bagaimana secara elok ia bertutur tentang pluralisme Gus Dur lewat tangan Kiai Marzuki Mustamar. 

Bagaimana NU di Papua? Mungkin kita akan terkejut dengan pertanyaan ini. NU cukup eksis di Papua. Gerak dan aktivitas NU cukup produktif, khususnya dalam konteks kerukunan umat beragama. Secara detail Ketua Tanfidziyah NU Jayapura periode 2009-2014, Eko Siswanto bertutur kompleksnya kehidupan sosial keagamaan di Jayapura. Pelan tapi pasti NU menancapkan kiprahnya di bumi Indonesia ujung timur tersebut. Baca dan simak uraian Eko dan kita akan menemukan spirit transformasi yang kuat.

Buku ini  diharapkan memberikan kontribusi untuk mengaktualkan potensi warga NU. Pengalaman dan pengetahuan mereka cukup kaya semoga menjadi respon atas bentuk keprihatinan terhadap fenomena masyarakat. Meskipun tidak semua tema terangkum di dalamnya, termasuk solusi pertanian ekonomi yang akhir-akhir ini menjadi kekurangan NU. Selamat membaca. []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar