Kamis, 27 Oktober 2016

Azyumardi: Jepang, Sharia Tourism



Jepang: Sharia Tourism
Oleh: Azyumardi Azra

Memasuki kamar sebuah hotel ternama di Tokyo menjelang akhir pekan lalu (18-19/10/2016), penulis Resonansi ini terkejut ketika menemukan petunjuk arah kiblat seukuran kertas A4 terletak secara mencolok di atas meja. Padahal ketika check-in, resepsionis tidak  bertanya soal agama.

Dengan adanya penunjuk arah kiblat itu, resepsionis yang mengetahui penulis Resonansi adalah warga negara Indonesia —dan karena itu mengasumsikan (secara tepat) tanpa perlu bertanya lagi—beragama Islam. Ini terbukti dengan segeranya house keeping hotel menyiapkan petunjuk arah kiblat.
Berulang kali ke Tokyo, Kyoto dan berbagai kota Jepang lain sejak 1979, baru kali ini penulis Resonansi menemui pengalaman mengesankan itu. Padahal, secara konvensional, warga Jepang tidak terlalu peduli pada agama. Ketika orang bertanya agama apa yang mereka anut, biasanya warga Jepang bilang agama bagi mereka tidak terlalu penting. Mereka jarang pergi ke kuil Shinto atau Budha.

Lalu kenapa tiba-tiba kini ada petunjuk arah kiblat di hotel? Memang bisa dipastikan belum terlalu banyak hotel di Jepang yang memberikan petunjuk arah kiblat. Tidak aneh, karena bahkan di Indonesia sekalipun yang pelanggan hotel sebagian besar  Muslim—karena penduduknya mayoritas mutlak Muslim—masih sangat banyak hotel yang tidak memberi petunjuk arah kiblat.

Banyak hotel di Indonesia sama sekali tidak memfasilitasi pelanggan Muslim dengan arah kiblat. Kalau ada, sering disurukkan di dalam meja, atau di dalam lemari tempat menggantung pakaian. Karena itu, pelanggan Muslim yang tidak menemukan arah kiblat di manapun di kamar dan tak membawa petunjuk arah (kompas) atau tidak memiliki aplikasinya dalam telepon genggam terpaksa melongok ke luar jendela, melihat ke arah mana bayangan sinar matahari. 

Jadi meski Kementerian Parawisata Indonesia sangat gencar dengan promosi ‘Halal Tourism’, masih sangat banyak hotel di tanahair yang belum ‘Islamic friendly’ atau ‘Muslim friendly’ dengan menyediakan hal-hal dasar bagi para pelanggan Muslim untuk beribadah.

Penulis Resonansi ini pernah dua tahun lalu menyatakan ironi ini dalam ceramah umum di sebuah hotel besar di Medan. Pemilik hotel yang juga kebetulan hadir seusai acara menyatakan telah langsung memanggil manajer hotelnya untuk membuat hotelnya ‘Muslim friendly’.

Kontras dengan Jepang. Negara ‘matahari terbit’ dalam beberapa tahun terakhir ini mengkampanyekan ‘sharia tourism’. Tujuannya agar Jepang dapat meningkatkan jumlah pelancong dari Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia, yang memiliki ‘kelas menengah Muslim’ cukup besar; mereka punya punya dana untuk jalan-jalan ke tempat jauh seperti Jepang.

Dalam percakapan dengan pejabat tinggi kota Fukuoka dua tahun lalu, penulis bertanya apa maksud Jepang dengan ‘sharia tourism’. Ia menjelaskan, sharia tourism mencakup adanya beberapa fasilitas Muslim friendly di hotel: 1.Restoran halal atau makanan halal yang disiapkan dengan alat masak halal; 2.Petunjuk arah kiblat yang jelas; 3.Keran air untuk berwuduk sehingga kaki tidak harus naik wastafel; 4.Sajadah dan mukenah; 5.Kopy al-Qur’an di dalam laci meja.

Pada saat yang sama, Jepang juga memberikan kemudahan visa bagi warga Indonesia. Sejak awal 2015, warga Indonesia tidak lagi memerlukan visa Jepang; cukup memiliki paspor bio-metric yang menyimpan data personal bersangkutan.

Hasilnya adalah terus meningkatnya jumlah turis Indonesia yang berkunjung ke Jepang. Pada 2015 lalu, jumlah pelancong Indonesia yang ‘jalan-jalan’ ke ‘Negeri Sakura’ mencapai 205.088, yang naik 29.2 persen dibanding tahun sebelumnya. Jumlah para pelancong asal Indonesia menurut data Kementerian Parawisata Jepang mayoritas beragama Islam; jumlahnya bakal terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya.

 Peningkatan jumlah pelancong Indonesia dapat terlihat secara kasat mata. Keluarga pelancong dengan perempuan berjilbab bisa terlihat di berbagai bandara, sejak dari Tokyo (Narita atau Haneda) sampai Osaka. Mereka juga bisa ditemukan di hotel-hotel atau pusat perbelanjaan semacam Shinjuku, Tokyo.

Meningkatnya jumlah pelancong Indonesia ke Jepang, kontras dengan memburuknya persepsi dan citra warga negara ini tentang Islam. Kejadian menyangkut ISIS, perang di Syria-Iraq, perang di Yaman, bom bunuh diri di Dhaka yang menewaskan tujuh warga Jepang (1/7/2016) beserta 13warga asing lain, membuat kian terperosoknya citra Islam.

Dalam seminar di Kyoto dan Tokyo dengan publik Jepang, penulis Resonansi ini mendapat pertanyaan tentang kenapa ada orang Muslim yang menjadikan orang asing, khususnya warga Jepang yang tidak paham urusan politik di kalangan Muslim sebagai target pemboman. Pertanyaan yang bernada gugatan ini sangat sulit dijelaskan tanpa terkesan defensif dan apologetik.

Tetapi juga jelas, citra seperti itu tidak menimbulkan penolakan kedatangan Muslim ke Jepang; apakah sebagai pelancong, pelajar-mahasiswa atau pekerja. Muslim yang diterima orang Jepang dengan baik, patut menampilkan diri sebagai ‘Duta Islam’ dengan menampilkan citra, sikap dan perilaku rahmatan lil ‘alamin. []

REPUBLIKA, 27 October 2016
Azyumardi Azra | Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mantan Anggota Dewan Penasihat Undef (New York) dan International IDEA (Stockholm)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar