Jumat, 28 Oktober 2016

Cak Nun: Universitas Patangpuluhan



Universitas Patangpuluhan
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Agak berlebihan-lah tujuh orang itu. Memang bisa saja ada kemungkinan seseorang tidur tapi mendengar dan belajar. Ada perangkat-perangkat tertentu di dalam sistem kesadarannya yang tetap bekerja meskipun resminya ia sedang tidur. Markesot sendiri ketika dituduh oleh sejumlah orang bahwa ia seorang pemikir, ia membantah.

“Saya bukan pemikir. Sama sekali bukan. Sebab yang berpikir adalah akal saya yang mendayagunakan otak. Yang mengerjakan pemikiran bukanlah saya, melainkan kerjasama jasad otak di bawah ubun-ubun saya, dengan pendaran magnet hidayah dari Tuhan yang menembus batok kepala saya”.

Tapi lupakan itu. Biasa, Markesot sok makrifat. Juga yang tidur dan mengigau biarkan terus menjalani kedaulatannya untuk tidur dan mengigau. Tujuh teman Markesot ini tadi sudah dicampakkan masuk ke ‘hutan belantara Indonesia dan Dunia’, tiba-tiba diputus arus listriknya oleh Markesot. Kalang kabut hati dan pikiran mereka. Sampai terengah-engah nafas di dada mereka.

Berdasarkan urutan tulisan-tulisan, hutan belantara itu harus segera diteruskan dengan ‘Hujan Deras Tidak Basah Kuyup’, ‘Bismillah Lompat Masuk’, ‘Persaudaraan dengan Hujan’, ‘Tuhan Berakibat Sorga’, ‘Hujan Berputar-putar Abadi’ dan seterusnya. Semua itu tak sengaja bersambung tema dan nuansanya satu sama lain.

Tidak karena kencan untuk itu. Tetapi karena empat puluh orang itu memang bertahun-tahun mengalami pembiasaan penyatuan hati. Seberagam apapun pikiran, kesibukan pekerjaan dan pengalamannya, tetapi mereka selalu menyatu di area jiwa yang lebih dalam.

Kalau Markesot seenaknya menghentikan kesatuan rangkaian itu, bisa merusak irama, komposisi dan aransemen urat-urat saraf tujub orang yang sudah sangat khusyuk sejak awal tadi.

***

Salah satu dari tujuh orang itu tidak tahan untuk tidak protes kepada Markesot. Tetapi sebelum mulutnya membuka, dilihatnya Markesot malah tertidur di pojok ruang. Mendadak saja tidur lelap sambil duduk. Padahal gema ledakan cambuk dan suara tertawanya belum lenyap dari telinga tujuh temannya.

Tujuh teman itu berpandangan satu sama lain. Kemudian bersama-sama mereka tertawa terpingkal-pingkal.

Sangat bahagia. Memang beginilah Universitas Patangpuluhan. Suasananya. Nuansanya. Pola interaksinya. Komposisi nilai-nilainya. Dimensi-dimensi yang baku, yang baru, yang mengejutkan, yang aneh, yang liar. Iklim Universitas Patangpuluhan menyeret setiap penghuninya untuk menemukan yang paling hidup dari kehidupan. Yang paling luas dari keluasan dan paling dalam dari kedalaman.

Universitas Patangpuluhan seakan punya ‘kedung kahuripan’ atau sumber daya hidup yang sangat sukar ditemukan di universitas yang secara resmi benar-benar universitas. Bukankah orang-orang di Pasar Patangpuluhan pun mafhum bahwa rumah hitam di belakang area pasar itu sama sekali bukan gedung Sekolah, apalagi Universitas. Melainkan tempat mangkalnya orang-orang atau entah siapa saja yang tidak jelas.

Rumah hitam yang pintunya tak pernah ditutup. Yang orang-orang berdatangan tanpa ukuran waktu, siang, malam, tengah malam, menjelang Subuh, sesudah subuh, terus-menerus. Orang-orang kecopetan di Stasiun Kereta atau Terminal Bus parkir di situ. Orang-orang frustrasi mau bunuh ini itu mendarat di bawah pohon waru depan rumah hitam itu. Orang sakit, orang gila, gelandangan dari luar kota, macam-macam makhluk lainnya, bercengkerama di naungan kehitaman rumah itu.

***

Mungkin terasa agak muluk-muluk. Tapi memang ciri komunitas Markesot adalah pendidikan kedaulatan diri. Menemukan sejarah diri. Asal usul diri. Sangkan diri dan paran diri. Dari mana diri ke mana diri. Tidak dibatasi ‘pakai’ Tuhan atau tidak.

Tidak disarankan untuk memilah antara alam dengan kebudayaan. Tidak diharuskan untuk memulai sejarah itu dari kurun sebelum alam diciptakan. Boleh cukup dimulai dari Ibu Bapaknya, atau klan keluarganya, suku-nya, atau ‘wiwitan’ kebangsaannya.

Bahkan masing-masing berdaulat untuk melandasi tulisannya dari pandangan yang sesubyektif apapun. Misalnya bahwa dulu setiap manusia menciptakan dirinya sendiri, sehingga sejak awal hingga akhir kelak ia menggenggam hak asasi dirinya sendiri.

Manusia punya kebebasan untuk memenggal asal-usulnya dengan kedua orang tuanya, termasuk dengan manusia yang pertama dahulu kala. Manusia berdaulat untuk mengklaim hak asasinya dan tidak ada urusan atau ikatan dengan kewajibannya kepada sesama manusia, alam lingkungannya serta bumi tempat tinggalnya.

Empat puluh orang yang berkumpul di Patangpuluhan itu sepenuhnya berdaulat atas diri dan setiap keputusan yang diambilnya. Kedaulatan diri itu nanti mungkin berjumpa dengan nilai-nilai, dengan benar atau salah, rasional atau tidak nalar, baik atau buruk, pas atau melenceng, bermanfaat atau sia-sia. Dan bermacam nilai-nilai lainnya. Tapi itu nanti. Sekarang urusannya berdaulat atas diri masing-masing terlebih dulu.

***

Siapakah sebenarnya empat puluh orang, empat puluh teman, empat puluh anak itu? Barang siapa pernah sedikit tahu gambaran sosok Markesot, mestinya bisa mengidentifikasi juga siapa empat puluh makhluk yang berada di sekitarnya.

Markesot mungkin bisa menjadi salah satu contoh tipologis manusia Negeri Katulistiwa. Manusia-manusia komplit meskipun kebanyakan masih pada tingkat potensial-embrional. Orang yang secara alamiah memiliki ragam bakat, multi-talent, komprehensif dan luwes mengatasi pembidangan-pembidangan. Terampil untuk melakukan banyak hal sekaligus. Secara keseluruhan sebenarnya tinggal satu-dua langkah bagi mereka ini untuk menjadi seperti yang di jaman dulu pernah digambarkan sebagai “manusia seutuhnya”.

Markesot sendiri sangat komplit, sampai-sampai tidak jelas yang mana yang Markesot. Bukan tipologi manusia spesialistik, meskipun tidak berarti di dalam proses hidup mereka harus kalah dengan jenis manusia-spesialistik. Tapi sekaligus ragam bakatnya itu bisa justru menjadi halangan banyak di antara mereka. Mampu melakukan banyak hal, sehingga sukar menentukan satu hal untuk ditekuni. Akhirnya tidak mencapai satu hal pun, karena banyak bakatnya itu dilakukan semua tapi setengah-setengah.

Terus terang, meskipun tolong tidak usah diucapkan ini dengan menyolok di depan siapapun saja, sesungguhnya bagi pandangan umum: Markesot termasuk contoh manusia yang gagal seperti itu. Tampak mampu melakukan banyak hal, tapi ternyata tidak ada satu halpun yang ia fokus dan tekun. Jadinya Markesot tidak mencapai dan tidak menjadi apa-apa. []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar