Kamis, 30 Juli 2020

(Ngaji of the Day) Andai Tiada Orang Saleh

Andai Tiada Orang Saleh


Seringkali, ketika kita mendengar satu berita bahwa seseorang yang kita kenal baru saja diberi momongan, secara spontan kita memanjatkan doa untuk anak tersebut yang berisi harapan-harapan baik ketika anak itu besar nanti. Dan kalimat doa yang paling sering dan pertama kali kita panjatkan adalah kalimat ‘semoga menjadi anak yang saleh/salehah…’, baru kemudian disusul dengan harapan-harapan yang lain.

 

Mendoakan seorang anak untuk menjadi saleh memang penting. Ini disebabkan sang anak kelak akan tumbuh besar dan hidup di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai permasalahannya yang mesti dihadapi dengan bijak. Dan sebagai anggota masyarakat ia dituntut untuk dapat bersikap secara baik, patut, layak, serta melahirkan kedamaian. Karena memang demikianlah makna kesalehan secara bahasa (Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab - Indonesia, 1997: 1186).

 

Lalu siapakah dan bagaimanakah yang dimaksud sebagai orang yang saleh? Syekh Nawawi Banten dalam kitab Nashȃihul ‘Ibȃd mendefinisikan orang saleh sebagai:

 

القائمون بما عليهم من حقوق الله وحقوق العباد

 

Artinya: “Orang saleh adalah orang-orang yang melaksanakan kewajiban mereka berupa pemenuhan hak-hak Allah dan hak-hak para hamba” (Muhammad Nawawi Al-Jawi, Nashȃihul ‘Ibȃd, [Jakarta: Darul Kutub Al-Islamiyah, 2010], hal. 71).

 

Ini berarti seseorang dianggap sebagai orang saleh apabila ia memiliki perilaku yang baik, layak dan patut dalam menjalin hubungan dengan Allah dan dengan sesama makhluk Allah. Hubungan baik itu diwujudkan dalam bentuk pemenuhan hak-hak Allah yang merupakan perkara-perkara wajib yang harus dilakukannya dan juga pemenuhan hak-hak sesama makhluk yang juga mesti ia lakukan dalam menjalin hubungan dan pergaulan dengan mereka.

 

Kedua aspek itu mesti dimiliki oleh seorang yang saleh. Memiliki salah satunya saja dengan mengabaikan satu lainnya belum dapat menjadikan ia dikatakan sebagai hamba yang saleh. Orang yang begitu baik dalam melakukan peribadatan kepada Allah dan memenuhi hak-hak-Nya, belum dianggap saleh bila di sisi lain tidak menjalin hubungan dan memperlakukan sesama makhluk secara baik pula. Pun bila sebaliknya.

 

Ini dikarenakan, bahwa semua ajaran Islam akan bermuara kepada dua hal; mengagungkan Allah Ta’ala dan kasih sayang terhadap makluk-Nya. Demikian Syekh Nawawi Banten menegaskan dalam kitab Al-Munȋr li Ma’ȃlimit Tanzȋl (2007, I: 117).

 

Bila kita membaca lebih banyak literasi Islam, akan kita dapati satu pelajaran bahwa orang-orang saleh itu tidak saja menjadi orang-orang baik yang menguntungkan dirinya sendiri, tapi juga membawa keberkahan bagi orang-orang yang hidup di sekitarnya.

 

Imam Hasan Al-Bashri—sebagaimana dituturkan Syekh Nawawi Banten dalam Nashȃihul ‘Ibȃd —mengatakan bahwa seandainya tidak ada orang-orang yang saleh, maka hancurlah orang-orang fasik yang senang melakukan kemaksiatan.

 

Apa yang disampaikan oleh Imam Hasan Al-Bashri di atas sesungguhnya merupakan simpulan dari apa yang difirmankan Allah di dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 251:

 

وَلَوْلَا دَفْعُ اللهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَكِنَّ اللهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

 

Artinya: “Seandainya Allah tidak menolak (kebinasaan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.”

 

Apa maksud dari firman Allah tersebut?

 

Dari banyak penjelasan yang disampaikan oleh para ahli tafsir di dalam kitab-kitab tafsir mereka, secara umum penjelasan mereka menunjukkan pada apa yang disampaikan oleh Hasan Al-Bashri di atas, bahwa seandainya tidak ada orang-orang yang saleh maka hancurlah orang-orang yang fasik dikarenakan kemaksiatan yang mereka lakukan.

 

Ya, mereka yang selama ini selalu melanggar aturan-aturan Allah dan tidak melaksanakan berbagai kewajiban yang digariskan oleh Allah, semestinya mereka itu telah mendapatkan siksaan dari Allah Ta’ala. Namun hal itu tidak terjadi, sebab berkah dari adanya orang-orang saleh yang hidup di tengah-tengah mereka.

 

Dalam hal ini banyak ulama tafsir—di antaranya Al-Baghawi—yang menuturkan sebuah hadits Rasulullah dari sahabat Ibnu Umar yang menegaskan:

 

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لَيَدْفَعُ بِالْمُسْلِمِ الصَّالِحِ عَنْ مِائَةِ أَهْلِ بَيْتٍ مِنْ جِيرَانِهِ الْبَلَاءَ

 

Artinya: “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla dengan adanya seorang muslim yang saleh akan menolak bencana dari seratus rumah tetangganya” (Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi, Ma’ȃlimut Tanzȋl, [Kairo: Darul Alamiyah, 2016], juz I, hal. 323)

 

Secara tekstual dari hadits di atas dapat dipahami bahwa berkah adanya seorang Muslim yang saleh yang hidup di tengah-tengah sebuah masyarakat, maka menjadikan tertahannya bencana yang semestinya ditimpakan Allah kepada seratus rumah yang ada di sekitar orang saleh tersebut, karena kefasikan mereka. Sementara ulama ada yang menjelaskan bahwa bilangan seratus pada hadits di atas tidak menunjukkan pembatasan pada bilangan tersebut, namun untuk menunjukkan betapa banyaknya orang yang mendapatkan berkah dari keberadaan orang saleh.

 

Imam Qurthubi dalam kitab tafsirnya Al-Jȃmi’ li Ahkȃmil Qur’ȃn (2010, jil. II, juz III: 221) menuturkan bahwa kebanyakan ulama ahli tafsir memaknai ayat tersebut: seandainya dengan sebab orang yang shalat Allah tidak menahan siksaan terhadap orang yang tidak shalat, dengan sebab orang yang bertakwa Allah tidak menahan siksaan terhadap orang yang tidak bertakwa, maka pastilah Allah hancurkan umat manusia sebab dosa-dosa mereka.

 

Beliau juga menuliskan sebuah hadits dari Rasulullah:

 

إِنَّ اللهَ يَدْفَعُ الْعَذَابَ بِمَنْ يُصَلِّي مِنْ أُمَّتِي عَمَّنْ لَا يُصَلِّي وَبِمَنْ يُزَكِّي عَمَّنْ لَا يُزَكِّي وَبِمَنْ يَصُومُ عَمَّنْ لَا يَصُومُ وَبِمَنْ يَحُجُّ عَمَّنْ لَا يَحُجُّ وَبِمَنْ يُجَاهِدُ عَمَّنْ لَا يُجَاهِدُ، وَلَوِ اجْتَمَعُوا عَلَى تَرْكِ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ مَا أَنْظَرَهُمُ اللَّهُ طَرْفَةَ عَيْنٍ- ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَلَوْلَا دَفْعُ اللهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ".

 

Artinya: “Sesungguhnya Allah meninggalkan siksaan terhadap orang yang tidak shalat dengan sebab orang yang melaksanakan shalat dari umatku, terhadap orang yang tidak membayar zakat dengan sebab orang yang membayar zakat, terhadap orang yang tak berhaji dengan sebab orang yang berhaji, terhadap orang yang tak berjihad dengan sebab orang yang mau berjihad. Seandainya mereka sepakat untuk meninggalkan itu semua maka sekejap mata pun Allah tidak menangguhkan siksaan terhadap mereka. Kemudian Rasulullah membaca ayat wa lau lȃ daf’ullȃhin nȃsa ba’dlahum bi ba’dlin lafasadatil ardlu.”

 

Juga sabda Rasulullah:

 

إِنَّ لِلهِ مَلَائِكَةً تُنَادِي كُلَّ يَوْمٍ لَوْلَا عِبَادٌ رُكَّعٌ وَأَطْفَالٌ رُضَّعٌ وَبَهَائِمٌ رُتَّعٌ لَصُبَّ عَلَيْكُمُ الْعَذَابُ صَبًّا

 

Artinya: “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berseru setiap hari ‘seandainya tidak ada para hamba yang ruku’, anak-anak kecil yang menyusu, dan binatang yang merumput, maka pastilah akan dicurahkan siksaan kepada kalian.”

 

Dari penjelasan singkat di atas dapat diambil satu simpulan bahwa keberadaan orang-orang yang saleh, yang memiliki hubungan baik kepada Allah dan sesama makhluk, adalah berkah bagi masyarakat yang ada di sekitarnya. Disebabkan orang-orang saleh itu, tempat di mana mereka tinggal menjadi aman dari berbagai hal yang tak menyenangkan yang bisa jadi semestinya sudah Allah timpakan kepada penduduk setempat. Atau setidaknya, berkah dari adanya orang-orang saleh, maka bencana yang ditimpakan Allah tidak sebesar yang semestinya terjadi bila tak ada orang yang saleh.

 

Sekarang kembali kepada pribadi kita masing-masing, sebagai anggota masyarakat akan kah kita menjadi orang yang menjadi penyebab terselamatkannya orang lain—yang itu berarti kita menjadi orang yang saleh—atau cukup lah kita menjadi orang yang diselamatkan orang lain.

 

Kiranya, harapan dalam sebuah doa yang menginginkan setiap anak yang terlahir menjadi seorang yang saleh tak cukup hanya sebatas doa saja. Mesti ada usaha yang bersungguh-sungguh untuk mewujudkan harapan itu. Bila setiap pribadi yang terlahir di dunia ini kelak menjadi pribadi yang saleh, diharapkan akan tercipta sebuah keluarga yang sakinah. Dari kumpulan keluarga yang sakinah itu akan terbentuk sebuah masyarakat ideal (khairu ummah), yang pada gilirannya masyarakat khairu ummah itu mengantarkan pada terwujudnya negara yang makmur (baldatun thayyibatun), dan pada akhirnya kumpulan negara yang makmur itu akan mengantarkan pada misi besar terciptanya kehidupan di alam semesta yang penuh dengan kasih sayang (rahmatan lil ‘ȃlamȋn). Wallȃhu a’lam. []

 

Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif di kepengurusan PCNU Kota Tegal dan penghulu di Kantor Kementerian Agama Kota Tegal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar