Jumat, 17 Juli 2020

Nasaruddin Umar: Jejak dan Derap Peradaban Islam: Perintis Tenaga Kincir Air (Hydropower)

Jejak dan Derap Peradaban Islam

Perintis Tenaga Kincir Air (Hydropower)

Oleh: Nasaruddin Umar

 

Ilmuan Islam telah berjasa merintis penciptaan daya melalui tenaga kincir air. Adalah Al-Jazari, yang bernama lengkap Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz Al-Jazari. Ia lahir di Al-Jazari, antara sungai Tigris dan sungai Efrat, Iraq. Ia mengikuti ayahnya mengabdi kepada raja Urtuq atau Artuqid di Diyar Bakir dari 1174 sampai 1200. Ia dieglari The Father of Modern Engineering atau The Father of Robotic, karena dasar-dasar tehnik robotika sudah dirancangnya. Temuan-temuannya banyak menginspirasi para ilmuan modern. Donald Routledge dalam Studies in Medieval Islamic Technology, menyebutkan hingga zaman modern ini, tidak satupun dari suatu kebudayaan dapat menandingi lengkapnya imu rancang-bangun dan mesin-mesin yang dibuat oleh Al-Jazari.

 

Menurut pengakuan Donald Routledge, dalam tahun 1206, Al-Jazari sudah mampu membuat jam gajah yang bekerja dengan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis sistem mekanis, yang dalam interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Prinsip humanoid automation inilah yang mengilhami pengembangan robot masa sekarang. Kini replika jam gajah tersebut disusun kembali oleh London Science Museum, sebagai bentuk penghargaan atas karya besar Al-Jzari. Karya monumental lain Al-Jazari ialah mesim pembakar (combustion engine), mesin krukas (crankshaft), mesin penyedot (suction pump), mesin pemrograman (programmable), mesin otomatisasi (automation), dan termasuk mikro teknologi.

 

Al-Jazari berjasa merancang lima mesin yang intinya untuk memanfaatkan tenaga air untuk menggantikan tenaga binatang. Di antara mesin yang dibuatnya diletakkan di Sungai Yazid di Damaskus yang mampu memasok kebutuhan air di rumah sakit yang berada di dekat sungai tersebut. Mesin lainnya menggunakan balok dan tenaga binatang. Balok digerakkan secara naik turun oleh sebuah mekanisme yang melibatkan gigi gerigi dan sebuah engkol. Inilah mesin pertama kali menggunakan engkol sebagai bagian dari sebuah engine. Di Eropa hal ini baru terjadi pada abad ke 15. Satu lagi mesin dibuatnya untuk berupa mesin pompa yang digerakkan oleh air. Gerakan roda air yang ada di dalam mesin itu menggerakan piston yang saling berhubungan. Silinder piston ini dihubungkan dengan pipa penyedot, yang selanjutnya menyedot air dari sumber air dan membagikannya ke sistem distribusi air.

 

Al-Jazari mewariskan jasa yang luar biasa bagi masyarakat Bagdad ketika itu dengan teknologi kincir airnya. Rintisan Al-Jazari ini menginspirasi teknologi hydrolic di kemudian hari di berbagai Negara. Darimana Al-Jazari belajar, masih misteri. Yang pasti keuletan self sudi dan self research-nya yang peril diapreasiasi. Sayang sekali dunia Islam tidak lagi bisa mencetak ilmuan sekreatif Al-Jazari dan ilmuan tersohor lainnya di abad pertengahan. Yang pasti, ilmuan muslim di abad pertengahan mendapatkan dukungan politik penuh dari penguasa abad pertengahan.

 

Di antara kelebihan lain Al-Jazari ialah kemampuannya untuk menuliskan ide dan karya-karyanya sehingga menjadi manuskrip yang amat berharga bagi dunia keilmuan. Di antara karyanya ialah: "Al-Jami' Bain al-'Ilm wa al-'Aml al-Nafi' fi Shinat'at al-Hiyal" (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices). Donald Routledge mencatat masih ada tidak kurang 50 buku karya Al-Jazari, baik dalam bentuk buku advance, buku manual, maupun buku-buku praktis. Dan yang tak kalah menariknya, seperti halnya ilmuan lainnya di abad pertengahan, ia juga ahli dalam ilmu-ilmu agama seperti fikih. Keunikan ilmuan Islam di abad pertengahan ternyata integritas keilmuan dan keagamaannya tak terpisahkan. Tidak salah jika disebut dalam artikel terdahulu bahwa peradaban Islam ialah Iqra' bi ism Rabbik. Allahu a'lam. []

 

DETIK, 02 Juni 2020

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar