Gaya Kepemimpinan KH
Idham Chalid
KH Idham Chalid
diketahui memiliki hubungan yang erat dengan KH Abadul Wahab Chasbullah. Ia
merupakan ‘kader’ dari Kiai Wahab. Maka dari itu, gaya berpikir, bersikap, dan
kepemimpinannya sedikit banyak dipengaruhi oleh Ra’is ‘Aam itu. Selain itu,
Kiai Idham juga memiliki kedekatan dengan Presiden Soekarno. Bahkan, bisa
dikatakan mereka berdua memiliki kesamaan soal gaya kepemimpinan. Meski
demikian, keduanya memiliki gaya kepemimpinan yang khas.
Merujuk buku Idham
Chalid Guru Politik Orang NU, Kiai Idham Chalid menjadikan rumahnya sebagai
kantor PBNU semenjak terpilih menjadi ketua umum organisasi Islam terbesar
tersebut. Pertama-pertama ia mengubah jalur administrasi organisasi dengan menjadikan
rumahnya sebagai markas organisasi. Dengan demikian, ia bisa ‘mengontrol dan
mengendalikan’ NU dari rumahnya.
Kiai Idham Chalid
bukanlah orang yang terlalu kaku dan ketat menjalankan aturan-aturan
organisasi. Di samping itu, ia juga lebih suka memberikan bantuan kepada
siapapun yang datang, baik berupa materiel ataupun imateriel. Hal inilah yang
membuatnya memiliki jaringan-jaringan yang kuat hingga ke tingkat bawah
organisasi.
Bahkan, Kiai Idham
mendapat julukan ahli yahannu yang berarti orang yang mengatakan hal-hal yang
menyenangkan orang dan menyampaikan apa yang orang ingin dengar. Gaya
kepemimpinan yang seperti inilah yang membuatnya awet memimpin NU hingga hampir
tiga dekade. Pun di dunia pemerintahan. Karirnya juga awet meski presiden
berganti.
Pengamat Islam asal
Australia, Greg Fealy, menilai bahwa Kiai Idham Chalid adalah orang ahli dalam
berkomunikasi. Kiai Idham memiliki banyak lelucon dan mampu membaca situasi
hati audiennya. Oleh karena itu, kemampuannya dalam menyenangkan hati dan
menggerakkan massa membuatnya bertahan lama menjadi pimpinan NU. Singkatnya, ia
selalu menyambut lawan-lawannya dengan jurus yang halus dan lembut, namun
mematikan.
Kiai Idham adalah
seorang orator ulung. Kemampuannya ini diasah sejak ia masih kecil. Ia suka
berpidato dan sempat menjadi penceramah di beberapa daerah di sekitar desanya.
Dalam berpidato, Kiai Idham adalah orang yang tahu bagaimana menghadapi emosi
massa dan mendatangkan simpati. Ia merupakan orang yang sangat diplomatis yang
seringkali membuat orang yang marah kepadanya tidak berkutik.
Ia juga dikenal gemar
bermain catur, sebuah cabang olah raga yang membutuhkan teknik, taktik, dan
strategi untuk mengalahkan lawan. Secara tidak langsung, ini juga yang
mempengaruhi Kiai Idham berpolitik dan menjadi pimpinan organisasi.
Setiap pemimpin pasti
dihadapkan pada dua pilihan resiko dalam menjalankan roda organisasinya.
Pertama, gagah berani berlayar menghadapi badai dan karang namun akibatnya
bahteranya karam menghantam karang. Kedua, tidak mau melawan arus tetapi
berlayar menentang pulau atau setiap usaha harus ada tujuannya, meski dicemooh
karena dinilai hanya cari selamat bahkan dicap sebagai opurtunis.
Sebagai seorang
pemimpin, Kiai Idham Chalid memilih resiko yang kedua. Meski mendapatkan cap
seorang yang 'opurtunis', namun sejarah mencatat bahwa Kiai Idham Chalid
sebagai nahkoda NU berhasil membawa organisasi yang didirikan KH Hasyim Asy’ari
itu melintasi badai dan gelombang sejarah.
Kiai Idham seringkali
digambarkan sebagai orang yang mudah beradaptasi, luwes, dan cenderung
menghindari konflik yang tidak perlu. Ia juga memiliki insting politik yang baik
dan pandai membaca situasi. Hal itulah yang menyebabkannya mampu bertahan di
pemerintahan meskipun orde berganti. Terlepas dari itu semua, bagi Kiai Idham
berpolitik harus memiliki orientasi kepada kemaslahatan masyarakat. Pendirian
Kiai Idham Chalid tersebut melahirkan sikap politik yang luwes. []
(A Muchlishon
Rochmat)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar