Senin, 29 Oktober 2018

Kang Komar: Freedom from the Known


Freedom from the Known
Oleh: Komaruddin Hidayat

KETIKA media sosial meributkan peristiwa pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid, saya teringat Pak Lurah Desa Pabelan, Magelang, Muchtar Abbas. Waktu itu, sekitar tahun 1980-an, saya bertemu Pak Lurah.

Dia menceramahi saya tentang isi buku Freedom from the Known (1969), karangan J Krishnamurti. Terhadap kasus pembakaran itu bagi saya kedua belah pihak sama-sama tidak bijak. Hanya menimbulkan perpecahan umat.  

Buku itu tidak membahas organisasi dan gerakan sosial, melainkan tentang Tuhan dan kebertuhanan. Pak Lurah menjelaskan, Tuhan yang kita sembah dan cintai itu mahasuci dan mahaabsolut, bebas dari yang dikenal (freedom from the known) oleh nalar manusia.

Nalar mencoba mendekati dan membuat deskripsi tentang nama dan sifat-sifat Tuhan, namun semua itu hanyalah konstruksi penalaran manusia yang terbatas dan sering takluk pada nafsu egoisme. Apa pun yang digambarkan manusia tentang Tuhan, pasti bukan Tuhan, karena Dia tidak menyerupai apa pun dan siapa pun. Laisa kamitslihi syaiun, tulis Alquran.

Saya balik tanya, "Kalau Tuhan tidak bisa digambarkan, lalu bagaimana manusia mengenal Tuhan?" Pak Lurah menerangkan lebih lanjut. Dalam kesendirian-Nya, Dia yang mahasuci dan mahamutlak itu tidak memerlukan nama. Kebesaran Tuhan bukan karena manusia menyembah-Nya.

Kasih Tuhan bukan karena manusia selalu datang memanjatkan doa dan permohonan. Dia mahabesar lagi mahaperkasa bukan karena manusia kecil dan lemah.

Andaikan seluruh manusia tidak menyembah-Nya, Tuhan tetap mahaagung. Manusia berpikir dan membayangkan Tuhan berdasarkan kapasitas kemanusiaan dan hukum nalarnya, lalu sifat Dia ditambahi dengan predikat "maha", menunjuk pada kehebatan dan kebesarannya yang melampaui apa yang bisa ditangkap dan digambarkan manusia.

Pak Lurah Muchtar Abbas itu hebat sekali, saya membatin. Dia tunjukkan buku Freedom from the Known, bukunya tipis. Katanya mirip pemikiran Ibn Araby dan Jalaluddin Rumi. Tetapi, itu hanya bisa dinikmati oleh mereka yang sudah masuk pada maqam sufi.

Para sufi itu tak lagi berdebat tentang konsep Tuhan dengan kata dan kalimat, tetapi sudah merasakan dan melihat dengan mata hatinya. Mereka sudah masuk lingkaran perjamuan cinta dan kasih Tuhan, bukan diskusi tentang Tuhan yang transenden, terhalang hijab nalar dan egoismenya.

Kata-kata tak akan cukup dan tak akan sampai menangkap wajah Tuhan, karena penalaran hanya melahirkan pemikiran konseptual, bukan menghadirkan realitas. Dalam istilah tasawuf, Pak Lurah tadi berbicara Tuhan pada level makrifah, syahadah atau wilayah.

Sedangkan saya masih berada pada level nubuwwah dan syari'ah, yaitu memahami Tuhan berdasarkan berita atau informasi tentang Tuhan yang disampaikan oleh para Nabi lewat wahyunya. We are still discussing and thinking about God.

Level risalah atau syariah, yaitu aspek eksoterisme atau lahiriah yang berisi perintah dan larangan, banyak dijelaskan oleh ilmu fikih berisi himpunan perintah dan larangan. Dalam beragama itu pintu masuk yang mudah diraih adalah pintu syariah yang mudah diamati dan diukur.

Lalu bersamaan dengan pertumbuhan usia dan pengetahuan, orang naik ke jenjang nubuwwah, lalu naik lagi ke jenjang makrifah. Ketiganya merupakan perjalanan naik dan turun yang dijalani oleh para salik, atau spiritual traveller. Dalam tradisi Islam, perpaduan ketiga ilmu dan maqam itu dicontohkan oleh Imam Ghazali, yang memadukan kesadaran ilmu fikih, kalam-filsafat dan tasawuf.

Lalu, bagaimana soal ribut-ribut pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid? Karena kedua pihak yang bertikai sama-sama mengaku sebagai orang yang menjunjung tinggi Tuhan dan agama yang sama, disuruh duduk saja berdiskusi tukar pikiran, disaksikan wartawan. Tulisan saya ini merupakan memori lama bertemu Pak Lurah Muchtar Abbas yang muncul kembali karena terpicu oleh kasus di atas. []

KORAN SINDO, 26 Oktober 2018
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar