Rabu, 31 Oktober 2018

(Hikmah of the Day) Balasan Tak Terduga KH Hasyim Asy’ari saat Dikerjai Santrinya


Balasan Tak Terduga KH Hasyim Asy’ari saat Dikerjai Santrinya

Alkisah, KH Muhammad Hasyim Asy’ari – pendiri organisasi Nahdlatul Ulama - memiliki seorang santri dari bernama Sulam Syamsun. Ia adalah ayah dari Munyati Sulam, penyiar di TVRI yang biasanya disuruh qira’ah. Sulam Syamsun ini adalah santri yang tergolong bandel. Saking bandelnya, ia sampai memiliki banyak hutang.

Pada suatu waktu pasca hari raya, setelah musim liburan, Sulam tidak berani kembali ke pondok. Ia kemudian berkirim surat kepada kiainya, KH Hasyim Asy’ari yang kurang lebih isinya: 

Teruntuk Hadratussyekh Hasyim Asy’ari. Ini saya ayahanda Sulam. Mengabarkan, bahwa Sulam tidak bisa kembali ke pondok, karena Sulam telah meninggal dunia. Jika ada salahnya mohon dimaafkan. Jika ada utangnya mohon untuk di-ikhlasaken.

Mendapat surat seperti itu, Kiai Hasyim menangis (muwun), karena salah satu santrinya meninggal dunia. Kemudian beliau mengumpulkan para santri untuk diajak shalat ghaib (sholat yang dilakukan tatkala seorang muslim yang meninggal dunia pada tempat yang jauh dan tidak memungkinkan didatangi). Setelah shalat ghaib, beliau mengumumkan:

“Hadirin sekalian, ini Sulam telah meninggal dunia. Maafkan kesalahannya, ya? Dimaafkan, ya?,” pinta Kiai Hasyim, dalam bahasa Jawa.

Semua santri menjawab: “Nggih...” (Iya)

Kemudian yang agak berat, soal utang. “Kalau ada utangnya, diikhlaskan, ya?”

Karena Kiai Hasyim yang berbicara, semua santri menjawab kompak: “nggih...”

“Halal?”

“Halal,” jawab santri, serempak.

Tak dinyana, tiba-tiba kemudian, dari pintu pondok, Sulam berlari mendekat sambil berteriak: “matur nuwuuun” (terima kasih....!)

Melihat kelakuan santrinya yang “kurang ajar” seperti itu, Kiai Hasyim bukannya marah, malah justru menangis, merangkul Sulam.

“Alhamdulillah, Lam, kamu masih hidup. Aku kira meninggal dunia beneran. Ya sudah, aku sudah terlanjur mengikrarkan: kamu di sini sudah tidak punya salah dan tidak punya hutang. Adapun yang masih belum ikhlas dengan hutangmu, karena kamu masih hidup, Lam, dan aku sudah berbicara, aku yang menanggungnya sekarang. Jadi kalau ada yang punya hutang di Sulam, atau yang dihutangi Sulam, tagihlah aku,” tutur Kiai Hasyim.

Itulah, sekelumit kisah kearifan sosok KH Hasyim Asy’ari. Juga salah satu potret kenyonyolan santri sekaligus keteladanan kiai dalam balutan kultur pesantren. Kekonyolannya jelas, bahwa Sulam mencari akal agar bagaimana hutangnya bisa lunas dengan caranya yang seorang “santri nakal”.

Di sisi lain, kita melihat bagaimana sang pendiri NU, yang kini ekspansi kulturalnya dikespor ke berbagai negara itu, tak mudah marah. Beliau memperlakukan santri yang nakal diluar batas kewajaran pun – dengan mengaku telah meninggal sekalipun – dengan penuh kasih sayang dan cinta. Beliau membalas kekonyolan dengan harum kebaikan.

Ini baru akhlak seorang ulama Kiai Hasyim Asy'ari, belum Baginda Nabi Muhammad SAW yang akhlaknya tak ada tandingannya. Itu mengapa, jika Nabi terlalu jauh bagi kita untuk menggapai-gapai keteladanannya, kita bisa melihat percikan cahayanya dalam diri seorang ulama. Ulama yang benar-benar ulama. Ulama yang tak sekadar hafal beberapa ayat atau hadis dan “berbaju ulama”. Namun juga akhlaknya. Cinta dan kasih sayangnya kepada siapa saja.

Adakah orang yang mengaku atau merasa ulama, pemimpin, intelektual, dan kita semua umat Islam hari ini – mampu melaksanakan serpihan keteladannya? Melaksanakan dan menerjemahkan agama dengan cinta dan kasih sayang, ditengah godaan setan berupa hasud, marah, dan dendam? Semoga kisah di atas mampu menyadarkan: betapa indah cinta dan kasih sayang. []

Sumber kisah: sejarah tutur yang disampaikan oleh Kiai Ahmad Muwafiq, orator ulung Nahdlatul Ulama dalam ceramahnya di Pucung, Tirto, Pekalongan, Jawa Tengah, 6 Januari 2017 lalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar