Kamis, 15 Oktober 2020

Buya Syafii: Muhammad Asad, Risalah Alquran, dan Dunia Melayu (III)

Muhammad Asad, Risalah Alquran, dan Dunia Melayu (III)

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

 

Pentingnya Risalah Alquran bagi dunia Melayu. Dari sisi mazhab fikih, sebagian besar Muslim di dunia Melayu pengikut Imam Syafii, sekalipun mereka belum tentu pernah membaca kitab asli imam mazhab itu.

 

Dengan hadirnya karya Muhammad Asad, boleh jadi dunia Melayu akan sedikit mengalami keguncangan karena pandangannya yang modern dengan menempatkan nalar pada posisi terhormat.

Namun, jika keguncangan ini benar-benar berlaku, sepatutnya disyukuri karena akan memberi elan vital baru yang lebih segar dalam pemahaman dan penafsiran agama.

 

Jika kita mau jujur, paham keislaman konservatif di dunia Melayu pada umumnya, patut benar mendapatkan darah baru untuk sebuah kebangkitan intelektual dan spiritual kreatif, demi masa depan yang lebih baik dan adil di rantau ini.

 

Pernyataan Asad berikut ini patut direnungkan: The cause of the intellectual and spiritual decadence of the entire Muslim world is not to be found in a supposedly overwhelming “worldliness” of the Muslim people but, on the contrary, in the insufficient worldliness on the part of their religious leadership: a failure which resulted in the gradual alienation of The Muslim faith from the Muslim reality. (Lih. Asad dalam Wikiquote dikutip dari Muhammad, Laws of Ours and Other Essays. Kuala Lumpur: Islamic Book Trust, 1987, hlm. 133).

 

Peta buram dunia Islam yang disoroti Asad ini, sampai sekarang belum banyak mengalami perbaikan dan perubahan seperti yang diharapkan. Mentalitas kita masih terpasung dalam pemahaman agama sebagai tradisi nenek moyang. Peran nalar lemah sekali.

 

Islamic Renaissance Front (IRF) yang merancang terjemahan The Message of the Qur’an ke bahasa Melayu dalam bentuk Risalah Alquran ini telah lebih dulu diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, Swedia, dan Jerman.

 

Dengan demikian, pesan pembaruan Asad menjalar ke kalangan rakyat yang lebih luas, terutama yang kurang memahami bahasa Inggris.

 

Inilah komentar Asad tentang Alquran: “Antara ayat pertama dan terakhir terkembang lebarlah sebuah kitab yang melebihi gejala lain mana pun yang kita kenal, telah memengaruhi secara fundamental sejarah agama, sosial, dan politik dunia. Tidak ada kitab suci lain yang pernah memiliki dampak langsung serupa atas kehidupan orang yang pertama kali mendengarkan pesannya dan via mereka dan generasi yang mengikutinya atas seluruh arus peradaban.” (Asad, The Message, hlm. i).

 

Sebagai seorang yang telah memahami perkembangan peradaban Barat dan Timur dengan bacaan luas dan kritis, komentar Asad di atas tentang Alquran, tidak datang secara tiba-tiba, tetapi melalui kajian panjang yang penuh perenungan.

 

Sekalipun harus menanti hampir 40 tahun sejak The Message of the Qur’an kali pertama diterbitkan, berkat kerja keras IRF dengan penerjemahnya, akhirnya Risalah Alquran hadir di tengah-tengah kita sebagai bukti dunia Melayu tak tinggal diam dalam mengikuti berbagai perubahan dan perkembangan penafsiran terhadap Alquran.

 

Pada usia muda, Asad pernah mendengar suara seorang tua di Kurdistan sebagai berikut: “Jika air tergenang tanpa riak dalam kolam, ia akan pengap, berdebu, dan kumuh; hanyalah manakala mengalir air itu akan tetap jernih.” (Chaghatai, op.cit., hlm. 6).

 

Asad ingin terus bergerak dan mengalir sebagai seorang pencari kebenaran dalam upaya pemahaman makna sejati Alquran melalui kekuatan nalar yang jernih.

 

Menurut Asad, ada pertanyaan kunci yang hendak dijawab Alquran: “Bagaimana seharusnya saya berperilaku agar meraih kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan dalam kehidupan yang akan datang?” (Asad, The Message, hlm. i).

 

Asad menerjemahkan ummatan wasathan pada ayat 143 surah al-Baqarah sebagai a community of the middle way (komunitas jalan tengah) (Ibid., hlm. 30). Tidak ekstrem ke kiri atau ke kanan, tetapi posisi tengah dengan doktrin tauhid yang tegas dan tegak.

 

Dunia Melayu semestinya terus bergerak menuju posisi jalan tengah ini dengan kepala tegak sebagai tanda kepercayaan diri yang tinggi sebagai umat beriman dan berilmu. Alquran, tulis Asad, adalah “untuk kaum yang berpikir.” (Lih. Risalah al-Qur’an, hlm. iii).

 

Penutup. Di ujung prakata untuk The Message of the Qur’an, Asad menulis, “…saya sadar sepenuhnya, terjemahan saya tidak dan memang sesungguhnya tidak mungkin ‘berlaku adil’ terhadap Alquran dan lapisan di atas lapisan maknanya: karena: jika seluruh lautan dijadikan tinta untuk menulis kalam Tuhanku, pasti lautan itu akan kering sebelum habis kalam Tuhanku.” (Asad, The Message, hlm. viii dan Risalah al-Qur’an, hlm. xxxviii. Ini merujuk kepada ayat 109 surah al-Kahfi).

 

Dengan Risalah Alquran, kita berharap dunia Melayu akan bersedia untuk berpikir ulang tentang pemahaman agama, yang telah diwarisi selama sekian abad. []

 

REPUBLIKA, 29 September 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar