Selasa, 22 September 2020

Nasaruddin Umar: Jejak dan Derap Peradaban Islam: Perintis Geologi dan Geografi

Jejak dan Derap Peradaban Islam

Perintis Geologi dan Geografi

Oleh: Nasaruddin Umar

 

Tidak diragukanlagi bahwa perintis ilmu geologi dan georgafi ialah ilmuan muslim di abad pertengahan. Yang paling popular ialah alam artikel terdahulu. Nama lain yang amat penting ialah Muhammad ibn Musa al-Khwarizmi, Abu Zayd al-Balkhi, dan belakangan disempurnakan oleh Muhammad l-Idrisi pada abad ke 12. Keempat ilmuan muslim ini saling menyempurnakan satu sama lain. Namun menurut Ajram, sebagaimana dikutip Husain Heriyanto, yang menjadi Bapak Geologi ialah Al-Biruni. Ia membantah Leonardo da Vinci atau Nocolas Desmarest yang hidup lebih 500 tahun kemudian.

 

Alasannya karena Al-Biruni sudah mampu menjelaskan secara ilmiah asal-usul terbentuknya karang, batu, dan mineral. Sebagaimana pernah dijelaskan dalam artikel yang terdahulu Al-Biruni juga sudah mampu mengukur ketinggian bukit dan gunung melalui pendekatan matematika dan mekanisme munculnya sebuah gunung. Ia juga sudah mendalami tentang fosil, asal-usul sumber mata air, pembentukan lembah secara geologis. Yang lebih penting ialah ia sudah mampu melakukan pengukuran geodetic dan menentukan dengan teliti berbagai kordinat melalui peta yang sudah dibuat sebelumnya. Ia menempatkan bagian selatan bumi pada sisi atas, yang kemudian diubah oleh ilmuan dunia Barat dengan meletakkan bagian utara bumi pada sisi atas.


Berkembangnya ilmu pengetahuan di abad pertengahan tidak terlepas dari perhatian besar khalifah penguasa. Perkembangan geologi dan geografi terutama pada zaman pemerintahan al-Ma'mun, khalifah Abbasiyyah yang berkuasa pada tahun 813-833M. Khalifah ini menginstruksikan ilmuan geografi untuk mengukur jarak bumi yang serupa dengan satu derajat meridian samawi. Dari proses inilah yang melahirkan konsep mil (al-mail) lalu menjadi istilah bahasa Inggeris: mile. Al-Mamun juga memerintahkan pembuatan peta besar dunia yang kini sudah sudah hilang. Glob bumi pertama dikembangkan dalam Dunia Islam pada Zaman Pertengahan. Para ahli astronomi dan geografi Islam yang berkhidmat di bawah al-Ma'mun pada abad ke-9. Al-Khawarizmi yang berjasa menentukan Meridian Perdana Dunia Lama di pantai timur Mediterranean, yakni pada 10-13 darjah ke timur Iskandariah (meridian perdana yang ditetapkan Ptolemy) dan 70 darjah ke barat Baghdad. Al-Biruni merupakan orang pertama yang memerikan anjuran sama jarak azimut kutub sfera cakerawala pada lingkungan tahun 1025M.


Al-Biruni juga dianggap sebagai orang yang paling terampil memetakan kota dan mengukur jarak-jarak antar kota, yang beliau lakukan buat beberapa kota di Timur Tengah dan wilayah barat benua kecil India. Beliau sering membangunkan kaedah menetapkan lokasi secara tepat dengan mencatatkan darjah latitud dan longitud dan menggabungkan pembacaan astronomi dengan matematik. Teknik yang sama juga dibangunkan beliau bagi pengukuran ketinggian gunung, kedalaman lembah dan kelebaran ufuk.


Al-Biruni juga ahli di bidang geodesi, bahka ia pernah dinobatkan sebagai Bapak Geodesi kerana sumbangnnya kepada bidang tersebut, bersama-sama sumbangan bermaknanya kepada bidang-bidang geografi dan geologi. Beliau mengukur latitud Kath dengan menggunakan altitud maksimum Matahari dan juga menyelesaikan persamaan geodesi yang kompleks demi mengira lilitan bulat Bumi, yang hampir dengan nilai ukuran moden. Anggaran penelitian al-Biruni bersama para asistennya sudah sangat luar biasa jika diukur pada zamannya. Baginya tidak ada masalah karena hampir seluruh keperluannya ditanggulangi oleh kerajaan. Ia dengan leluasa membuat percobaan dimana pun ia inginkan karena mendapatkan dukungan dana dari istana. Ini pelajaran bagi dunia Islam bahwa jika ingin mencapai tingkat peradaban yang tinggi, seperti yang pernah dialami pada abad pertengahan, maka tidak ada cara lain kecuali harusari segi anggaran mengembangkan riset dan eksperimen yang produktif. Untuk itu pemerintah, dalam hal ini istansi terkait, perlu memberikan dukungan penuh kepada lembaga-lembaga riset dan teknologi. []

 

DETIK, 18 Juni 2020

Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar