Rabu, 24 Februari 2021

Buya Syafii: Palsu dan Kepalsuan (I)

Palsu dan Kepalsuan (I)

Oleh: Ahmad Syafii Maarif  

 

Perkataan palsu bukan asli kosakata nusantara, melainkan dari bahasa Latin “falsus” atau vals (Belanda), false (Inggris). Bahasa Arab punya pula padanannya yakni zaif, kadzib yang artinya palsu, bohong.

 

Alquran dalam surah Yusuf (12) ayat 18 merekam ungkapan ini: Wajau ‘ala qamishihi bidamin kadzib (dan mereka datang membawa bajunya yang berlumur darah palsu), nanti diulas di seri ketiga soal drama Nabi Yusuf yang mencekam dan menegangkan itu.

 

Dalam Illustrated Oxford Dictionary (1998) hlm 285, perkataan false, antara lain  bermakna “menyalahi fakta, salah, tipu, ilusi, tidak dapat dipercaya, ilegal.”

 

Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994), susunan Prof JS Badudu dan Prof Sutan Muhammad Zain, hlm 983, memberikan definisi perkataan palsu sebagai “lancung, tidak sah, tidak berlaku, bohong, bukan asli, tiruan.”

 

Kepalsuan sebagai bentuk kata benda, memang tak ada yang bernilai positif. Semua bentuk kepalsuan pasti busuk. Namun, sebagai kata sifat, nanti dulu. Tuan dan puan jangan tergesa-gesa.

 

Tidak semua yang palsu itu buruk, busuk, dan terkutuk seperti terbaca pada kamus di atas. Ada contoh barang palsu yang sangat berguna dan fungsional: kaki palsu, tangan palsu, gigi palsu, rambut palsu, tulang palsu, dan lain-lain.

 

Palsu bernilai baik ini tak akan dibicarakan lebih lanjut, yang akan diulas, palsu dan kepalsuan yang terkutuk. Dalam masyarakat Indonesia yang ber-Pancasila, yang serbapalsu ini tidak berkurang, bentuknya sangat beragam. Amat melelahkan dan mencemaskan.

 

Dalam daftar acak berikut ini, hanya disorot sebagian. Ada yang agak panjang, ada hanya disebut sambil lalu: iman palsu, sumpah palsu,emas palsu, ijazah palsu, sertifikat dan surat keterangan palsu, madu palsu, berita palsu, beras palsu, surat palsu, tanda tangan palsu, tentara palsu, polisi palsu, sarjana palsu, kopi palsu, uang palsu, obat palsu, janji palsu, sahabat palsu, serta minyak dan oli palsu.

 

Daftar ini bisa diperpanjang, tetapi cukup kita sebut sampai 19 macam saja plus darah palsu, meliputi ranah abstrak dan ranah konkret. Semua yang serbapalsu dalam daftar ini, pasti menyakitkan dan merusak hubungan antarmanusia.

 

Iman palsu. Dalam kosakata peradaban Melayu, contoh iman palsu terbaca dalam ungkapan ini: telunjuk lurus kelingking berkait, bertanam tebu di bibir, lain di mulut lain di hati. Dalam agama, karakter ini tersimpul dalam perkataan nifaq=kemunafikan.

 

Dalam Alquran surah al-Munafiqūn ayat 4, kita diberi tahu tentang kelihaian manusia munafik itu: “Dan manakala engkau pandang mereka, engkau takjub akan keindahan badannya, dan bila mereka bertutur, engkau simak perkataannya.”

 

Mereka pandai membungkus sesuatu yang busuk untuk kepentingan dirinya. Maka itu, Alquran dalam ayat yang sama menegaskan: “fahdzarhum” (maka waspadai mereka)!

 

Sumpah palsu. Orang yang tega bersumpah palsu untuk menyembunyikan fakta atau kebenaran suatu hal adalah bagian dari sifat pengecut, demi melindungi diri jerat hukum misalnya.

 

Namun, jika nuraninya masih berfungsi, pasti dia tak akan tenang karena kepalsuan perilaku senantiasa membayangi dan membebani dirinya. Jika sumpah palsu dilakukan berkali-kali, bisa jadi bayangan dan beban itu terasa ringan, tetapi tak sirna sama sekali.

 

Menghadapi sumpah palsu, jaksa dan hakim perlu pandai membacanya secara teliti dan waspada agar pihak bersengketa mendapatkan keadilan. Tak jarang, orang memperjualbelikan kepalsuan atas nama Tuhan untuk lebih meyakinkan korbannya.

 

Emas palsu. Ini banyak kejadian. Sangat merugikan pihak yang tertipu, sedangkan pelakunya kabur entah ke mana. Karena itu, kita mesti waspada saat bertransaksi logam mulia ini. Selintas pandang, seperti emas murni, ternyata isinya tembaga yang dibalut air emas.

 

Saya tidak punya daftar korban jual beli emas palsu ini, tetapi jumlahnya tentu tak sedikit sepanjang waktu. Jika timbangannya berat, bayangkan betapa terpukulnya pihak yang tertipu. Bisa pingsan atau kena serangan jantung.

 

Ijazah palsu. Biasanya ini terjadi dalam usaha cari pekerjaan. Jika tidak ketahuan selamat penipu ini, tetapi batinnya pasti tidak tenang. Jika akhirnya ketahuan, pemecatan atas dirinya pasti dilakukan. Akibatnya, harga diri hancur, nama keluarga terbawa-bawa.

 

Anak yang masih sekolah akan menanggung malu, diejek teman-temannya sebagai anak dari pemegang ijazah palsu.

 

Dengan semakin canggihnya kualitas mesin cetak, merancang ijazah palsu tidak sulit. Semuanya bisa direkayasa. Inilah sisi buruk dari buah modernisasi teknologi: kebaikannya melimpah, keburukannya juga tidak kurang jika disalahgunakan.

 

Madu palsu. Berita tentang madu palsu ini sering kita baca. Penjualnya ada yang tertangkap, ada yang masih berkeliaran. Umumnya, terbuat dari gula biasa, tetapi diberi merek madu murni agar untung penjualannya lebih banyak.

 

Dengan label yang sama, amat sukar bagi si pembeli membedakan mana madu, mana pula gula biasa. Madu murni untuk obat, sedangkan gula bisa mendatangkan penyakit jika tidak hati-hati memakainya.

 

Karena selisih harga madu murni dan gula terpaut jauh, celah ini dimanfaatkan manusia curang yang populasinya tidak pernah menyusut. []

 

REPUBLIKA, 26 Januari 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar