Melaju di Jalan Tol
Cerpen
Judul
: Kucing Makan Koran
Penulis
: Zainuddin Sugendal
Tebal
: vii + 100
Tahun
: 2018
Penerbit
: Diandra Kreatif dan Boenga Ketjil
Peresensi
: Syakir NF, penikmat sastra,
mahasiswa Pascasarjana Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia
(Unusia) Jakarta
Sebagaimana musik,
sastra juga merupakan seni. Jika musik memainkan nada, maka sastra bermain
kata. Musik nikmat didengar karena ada paduan tinggi rendahnya nada. Pun dengan
sastra, sedap dibaca jika ada gelombang kata yang berdampak pada naik turunnya
emosi pembaca.
Iya novel, karya
sastra yang dapat memainkan hal itu dengan interval yang cukup panjang. Cerpen
yang tak perlu waktu banyak untuk membacanya, yang ruang karakternya terbatas,
perlu lebih pendek jarak antargelombangnya. Jika tidak, pembaca bisa-bisa
kehilangan seleranya.
Gelombang dalam alur
cerita ini yang belum terlihat dalam kumpulan cerita pendek berjudul Kucing
Makan Koran. Membaca sembilan cerpen ini seakan melaju di sebuah jalan tol,
bebas hambatan. Cerpen tersebut tidak menyajikan sebuah lubang besar yang mampu
mengagetkan seluruh penumpangnya (baca: pembaca). Kecuali di cerpen yang
berjudul Abraham dan Air Mata di Alif Lam Mim.
Itu pun merambat
naiknya begitu pelan dan berpuncak pada kekecewaan tokoh Abraham atas laku
rekan-rekan barunya di sebuah pesantren. Ia pun meredam api emosi pembaca yang
tengah membara itu dengan permaafan antartokoh, dalam hal ini orang pertama
memohon maaf pada Abraham. Puncak pendinginan itu terjadi pada permintaan
Abraham kepada si aku untuk mengajarkannya shalat.
"Sudahlah
saudaraku. Aku sudah memaafkanmu. Lebih baik mulai besok kamu ajari aku
bagaimana mengerjakan shalat dengan benar. Yah!" (h. 68)
Imajinasi penulis
sudah sangat baik dengan memainkan tokoh binatang, yakni kucing dan macan. Akan
lebih hidup, jika binatang itu menjadi tokoh kunci pada cerita. Mereka tidak
hanya menjadi pemain pendukung yang fungsi keberadaannya juga tidak memengaruhi
cerita sebagaimana dalam Kucing Makan Koran sendiri. Ada tidaknya kucing di
situ, tidak memengaruhi rumah tangga tokoh.
Terkait hewan yang
menjadi tokoh utama, bisa kita lihat bagaimana Eka Kurniawan memainkan mereka
dalam penceritaannya, baik dalam novel seperti O, maupun dalam
cerpen-cerpennya, seperti Kapten Bebek Hijau. Eka berani memainkan mereka
menjadi tokoh utama. Cerpen dan novelnya itu bak fabel.
Bahkan, penulis yang
meraih berbagai macam penghargaan internasional itu juga pernah membuat cerpen
dengan tokoh utamanya adalah batu. Ya, batu, sebuah benda mati itu dimainkan
sedemikian rupa sehingga menjadi penentu kisah. Hal demikianlah yang belum
terlihat dalam Kucing Makan Koran.
Meskipun demikian,
tema-tema yang diangkat dalam kumpulan cerpen tersebut menggambarkan kondisi
sosial terkini di tengah komunitas ataupun masyarakat terkini. Konflik agama
dan tuduhan sesat, misalnya, yang diangkat dalam salah satu cerpen itu, yakni
Abraham dan Air Mata di Alif Lam Mim. Penulis menunjukkan bahwa fenomena
takfiri yang juga ternyata sampai di tengah komunitasnya sendiri, yakni
pesantren.
Di samping itu,
penulis juga ingin memberikan gambaran tentang sebuah kemiskinan yang masih
menggelayuti bangsa ini melalui cerpen berjudul Kayu Bakar. Pada cerpen
tersebut, ia mengisahkan seorang anak yang terpaksa mencari kayu bakar untuk
menghidupkan api dapur yang dikelola oleh orang tuanya. Padahal, masyarakat
saat ini sudah beralih ke bahan bakar gas. []

Tidak ada komentar:
Posting Komentar