Riwayat Singkat KH
Abdullah Mubarok atau Abah Sepuh
KH Abdullah Mubarok
berasal dari Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia lebih dikenal sebagai Abah Sepuh,
ajengan pendiri dan pemimpin pesantren Suryalaya, Pagerageung, Tasikmalaya.
Selain itu, dia juga seorang mursyid Tarekat Qodiriyyah Naqsababandiyah (TQN) yang
diangkat sebagai mursyid tahun 1908.
Abah Sepuh lahir
tahun 1836 di kampung Cicalung Kecamatan Tarikolot Kabupaten Sumedang.
Sekarang, kampung tersebut masuk ke dalam Desa Tanjungsari Kecamatan
Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya. Waktu kecil ia belajar mengaji kepada
ayahnya, R. Nurapraja yang bekerja sebagai upas kecamatan.
Ia kemudian
dibesarkan oleh uwaknya yang dikenal sebagai Kiai Jangkung. Sejak kecil, sudah
gemar mengaji dan mesantren dan membantu orang tua dan keluarga, serta suka
memperhatikan kesejahteraan masyarakat.
Setelah menyelesaikan
pendidikan agama dalam bidang akidah, fiqih, dan lain-lain di tempat orang
tuanya, ia melanjutkan menimba ilmu agama ke pesantren Sukamiskin Bandung. Di
Pesantren Sukamiskin, ia mendalami fiqih, nahwu, dan shraf. Selain di pesantren
tersebut, ia juga belajar tarekat kepada pada Syekh Tolhah di Trusmi, Cirebon
dan dan Syekh Kholil Bangkalan, Madura.
Pada tahun 1890,
ketika usianya setengah abad, ia membuka pengajian. Mula-mula di kampung
Tundangan, kemudian ke kapung Cisero. Dan baru tahun 1902, ia pindah ke kampung
Godebag. Karena itulah ia dikenal dengan sebutan Ajengan Godebag. Pada tahun
1905, ia mendirikan pesantren Suryalaya yang ternyata menarik minat masyarakat
dan kemudian berkembang subur dan masih berdiri dan berkembang hingga
sekarang.
Pada tahun 1907, guru
tarekatnya dari Cirebon, Syekh Tolhah, sempat mengunjungi pesantren Godebag.
Gurunya tersebut melihat pesantren sebagai masa depan cerah untuk mengembangkan
ilmu agama, termasuk tarekat. Maka, sekitar tahun 1908 dalam usia 72
tahun, ia diangkat secara resmi (khirqoh) sebagai guru dan pemimpin
pengamalan Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah oleh Syaikh Tolhah.
Di dalam tarekat itu,
ia juga memperoleh bimbingan ilmu tarekat dan (bertabaruk) kepada Syaikh Kholil
Bangkalan Madura dan bahkan memperoleh ijazah khusus Shalawat Bani
Hasyim. Sejak diangkat menjadi mursyid, ia semakin dikenal sebagai kiai
dan pemimpin tarekat.
Pada tahun 1950,
ketika usianya memasuki 114 tahu, Abah Sepuh mengangkat salah seorang putranya,
KH Ahmad Sohibul Wafa Tajul Arifin, sebagai pendamping yang dipersiapkan untuk
menjadi pemimpin.
Pada tahun 1952,
karena menghebatnya gangguan keamanan disamping usianya yang sudah uzur, Abah
Sepuh bertetirah di Kota Tasikmalaya. Setelah menjalani masa yang cukup
panjang, Abah Sepuh wafat pada tangal 25 Januari 1956 dalam usia yang cukup
panjang, yaitu 120 tahun.
Ia meniggalkan sebuah
lembaga Pondok Pesantren Suryalaya yang sangat berharga bagi pembinaan umat
manusia. Pesantren tersebut dilanjutkan putranya yang sudah dipersiapkan sejak
awal, Abah Anom. Putranya yang kelima tersebut juga melanjutkan dan
menggantinya dalam mursyid Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah. []
(Abdullah Alawi)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar