Kamis, 04 April 2019

Kang Komar: High Tech, Low Touch


High Tech, Low Touch
Oleh: Komaruddin Hidayat

PADA tahun 1999, John Naisbitt menerbitkan buku yang menjadi best seller, yaitu High Tech, High Touch. Dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih dan menyentuh berbagai profesi serta bidang kehidupan, aktivitas sehari-hari menjadi lebih ringan, produktif, dan efisien dijalani.

Masyarakat lalu terbiasa dengan situasi dan proses yang serba cepat dan kilat. Gaya hidup yang serba pelan dan santai dianggap kuno, tidak sejalan dengan tuntutan zaman serta gaya hidup modern.

Dengan gawai di tangan, orang mudah terhubung dengan siapa saja dan apa saja sehingga seseorang seakan tak bisa lagi menikmati kesendirian, tidak memiliki me times, untuk merenung dialog dengan alam sekelilingnya membaca ayat-ayat Tuhan yang terhampar di alam semesta ini. Kehadiran gawai telah merampas suasana kebersamaan keluarga untuk santai bercanda dan berbagi cerita.

Orang cenderung “mati rasa”, rendah empati terhadap orang-orang di sekelilingnya. Masing-masing asyik dengan gawai di tangan, berkelana entah ke mana sehingga suasana mental “being now and here” tak ada lagi.

Secara fisik seseorang memang berada di satu tempat, tetapi pikirannya tidak di situ. Dia sibuk dalam kesendirian. Atau sebaliknya, dia merasa banyak sekali teman di dunia maya, padahal jiwanya kosong. Sepi, sendiri.

Hal yang juga menonjol dan mudah diamati adalah gawai telah merampas waktu untuk membaca buku atau beraktivitas lain, sibuk dengan membaca pesan di WAG dan saling berkirim foto. Bayangkan, kalau seorang ibu rumah tangga menyimpan WAG lebih dari 10, maka pesan dan unggahan bisa masuk setiap 10 menit.

Semua unggahan itu selalu menggoda untuk dibaca dan ditanggapi sehingga berapa jam sehari waktu tersedot untuk bermain gawai? Yang juga menjadi masalah bukan sekadar merampas waktu, tetapi isinya sangat memengaruhi suasana hati dan emosi seseorang.

Hanya karena beda pilihan calon presiden (capres), mereka bertengkar lewat media sosial (medsos). Jika yang demikian ini terus terjadi berulang-ulang, akan memengaruhi pekerjaan sehari-hari. Tanpa disadari emosi dan pikiran seseorang telah digerakkan oleh orang lain serta berita di medsos yang sangat mungkin itu hoaks atau iseng belaka.

Situasi di atas itulah yang saya maksudkan dengan low touch. Kemajuan teknologi supercanggih, tapi tidak difungsikan dengan nalar dan sikap yang canggih. Ini juga terlihat dalam sajian di televisi, saya merasa kesulitan mendapatkan acara yang berbobot dan menarik.

Untunglah, sekarang ada Youtube, banyak materi ceramah dan diskusi di luar negeri benar-benar berkualitas. Salah satu cara menambah ilmu yang saya lakukan adalah membeli buku, lalu mendengarkan ceramah dan diskusi pengarangnya lewat Youtube.

Bagi mereka yang senang menulis esai atau buku, secara teknis saat ini sangat mudah mendapatkan sumber kepustakaan. Mudah sekali mengakses e-book dan e-journal. Namun, secara psikologis kadang saya ragu, apakah masyarakat masih senang dan tahan lama membaca buku?

Salah satu kekhawatiran orang tua terhadap anak dengan banyaknya permainan animasi berupa perang atau perkelahian, misalnya, dampaknya akan membuat perasaan anak-anak kurang sensitif ketika dihadapkan kenyataan di lapangan, karena batas antara animasi dan realitas di lapangan sudah kabur. Jadi, dulu dalam masyarakat tradisional mungkin malah sebaliknya, low tech, high sensitivity. []

KORAN SINDO, 29 Maret 2019
Komaruddin Hidayat | Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar