Rabu, 27 Juli 2016

Yudi Latif: Hidup yang Membunuh Kehidupan



Hidup yang Membunuh Kehidupan
Oleh: Yudi Latif

Kewarasan memantulkan kesadaran bahwa hidup ini pendek, sedangkan kehidupan itu panjang. Demi keberlangsungan kehidupan, tiap-tiap saluran pendek sang hidup harus sama-sama mengalir menuju sungai panjang kehidupan yang menghanyutkan air hingga samudra impian kebahagiaan hidup bersama. Maka, janganlah sekali-kali keserakahan hidup mengorbankan kehidupan.

Agar hidup menumbuhkan kehidupan, fitrah manusia dibekali lentera kehanifan yang memandu nurani mengutamakan kebenaran dan keadilan lintas ruang dan waktu. Namun, cinta dunia dan ketergesa-gesaan membuat penglihatan manusia rabun jauh; terperangkap dalam zona nyaman jangka pendek. Dalam kungkungan kepentingan sesaat, pancaran nurani redup tak mampu memandu jalan hidup. Sang hidup tak lagi merasa bersalah telah mengkhianati kehidupan.

Masa kini tega membunuh masa depan. Anak-anak harapan diberi asupan vaksin palsu. Pendidikan sekadar ajang indoktrinasi dan komersialisasi, abai mengembangkan potensi dan kreasi insani. Kedalaman ilmu dan kegairahan intelektual tergerus etos instrumentalisme. Pelajar yang harus dididik mandiri malah diminta diantar orangtua.

Kekayaan alam dikuras, lupakan kesinambungan pembangunan. Pertumbuhan ekonomi dikejar tanpa mengindahkan nilai tambah. Keuangan negara dibobol dan dikemplang, tipiskan modal kemajuan jangka panjang. Gairah berutang tak kenal henti, wariskan beban bagi generasi mendatang.

Jalanan bukan tempat aman. Musim penghujan ajang menambal jalan berlubang untuk segera rusak saat kemarau tiba, melupakan keselamatan pengguna. Bahkan keriangan ritual mudik Lebaran pun harus ditebus dengan kematian dan penderitaan.

Demi hidup, penduduk negeri mengorbankan prinsip kehidupan. Padahal, tak ada kemuliaan bagi kaum yang tak mengindahkan kaidah kehidupan. Tak ada kemajuan tanpa kesanggupan menunda kesenangan. Barangsiapa tak bisa menanam benih harapan, tak bisa memanen kejayaan masa depan.

Tujuan bernegara adalah mewujudkan kebahagiaan hidup bersama. Dalam impian Bung Hatta: "Aku ingin membangun dunia di mana semua orang merasa bahagia di dalamnya." Untuk itu, negara dan warganya harus punya jiwa pelayanan. Rakyat dan pemimpinnya ibarat harimau dan hutannya. Kehidupan harimau tergantung kelestarian hutannya, sedangkan keselamatan hutan tergantung penjagaan harimaunya.

Warga negara bertanggung jawab menentukan karakter pelayanan pemimpinnya. Lagi kata Bung Hatta, "Bukan karena kokok ayam matahari terbit, tapi karena matahari terbitlah, ayam berkokok." Artinya, "Pergerakan rakyat tumbuh bukan karena pemimpin bersuara, melainkan pemimpin bersuara karena ada pergerakan atau ada perasaan dalam hati rakyat yang tidak dapat rakyat mengeluarkannya.... Pemimpin mengemudikan apa yang sudah dikehendaki rakyat."

Negara bertanggung jawab melayani dan mendidik rakyat. Tugas kepemimpinan negara bukanlah mengobral khayal. Tugas pemimpin adalah menuntun rakyat menyadari kenyataan dan merasakan kehadiran krisis. Dalam istilah Bung Karno, pemimpin harus dapat "mengaktivir kepada perbuatan": mengaktivir bangsa yang ia pimpin kepada perbuatan. Kalau cuma menyerukan perbuatan, tetapi kenyataan tak mampu mengaktivir rakyat kepada perbuatan, buat apa bermimpi jadi pemimpin?

"Mengaktivir kepada perbuatan," lanjut Soekarno, "berarti harus mengaktivir lebih dahulu kepada wil", yang dalam perikehidupan kebangsaan berarti mengaktivir collective will. Untuk membangkitkan kemauan kolektif, para pemimpin haruslah terlebih dahulu menyalakan spirit. Itulah trilogi yang didengungkan Soekarno sejak tahun 1932: nationale geest (spirit kebangsaan), nationale wil (kemauan kebangsaan), dan nationale daad (perbuatan kebangsaan).

Menurut Bung Karno, besar kecilnya spirit-kemauan rakyat untuk berjuang ditentukan oleh tiga hal. Pertama, menarik tidaknya tujuan atau cita-cita politik yang diperjuangkan pemimpin. Kedua, rasa mampu di kalangan rakyat. Ketiga, tenaga yang tersedia di kalangan rakyat sendiri. Pemimpin harus cakap melukiskan daya tarik cita-cita politiknya, mampu membangkitkan kepercayaan rakyat, serta sanggup menyusun tenaga rakyat demi tujuan politik.

Dengan tanggung jawab bersama, negara dan warganya, perjuangan hidup didedikasikan untuk menumbuhkan kehidupan penuh harapan. Dalam mewujudkan politik harapan, Donna Zajonc memerikan tentang keharusan suatu bangsa keluar dari tahap anarki, tradisionalisme, apatisme menuju penciptaan pemimpin yang sadar. Tahap pertama, seluruh tindakan politik diabsahkan menurut logika pemenuhan kepentingan pribadi, yang menghancurkan sensibilitas pelayanan publik. Tahap kedua, untuk mencapai sesuatu, pemimpin mendominasi dan meminggirkan orang lain. Tahap ketiga, peluang yang dimungkinkan demokrasi tak membuat rakyat berdaya, justru membuat apatis.

Tahap keempat, tahap politik harapan, pemimpin menyadari pentingnya merawat harapan dan optimisme pada situasi krisis, dengan cara memahami kesalingtergantungan realitas serta kesediaan bekerja sama menerobos batas politik lama. Kekuasaan digunakan untuk memotivasi dan memberi inspirasi yang memungkinkan orang lain mewujudkan keagungannya. Warga menyadari pentingnya terlibat dalam politik dan aktivisme sosial untuk mewujudkan kebajikan dan kebahagiaan hidup bersama. []

KOMPAS, 26 Juli 2016
Yudi Latif | Pemikir Kebangsaan dan Kenegaraan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar