Jumat, 29 Juli 2016

Cak Nun: Anak Asuh Bernama Indonesia



Anak Asuh Bernama Indonesia
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Engkau tidak perlu mubadzir menghabiskan umur menunggu rasa kecewa dan kecele oleh kehidupan, tidak perlu berpanjang-panjang melewati jalan kebingungan, kubangan frustrasi atau padang pasir keputusasaan — untuk mempercayai dan memakai berikut ini dalam kehidupanmu:

“Bahwa keberhasilan dan kebahagiaan hidupmu tidak terutama tergantung pada keadaan-keadaan yang baik atau buruk di luar dirimu, melainkan tergantung pada kemampuan ilmu dan mentalmu menyikapi keadaan-keadaan itu”.

Misalnya engkau masih muda, jalanan ke masa depan masih jauh dan kau lihat ada banyak matahari berjajar di cakrawala, tetapi keadaan di sekitarmu rusak binasa tak terkira, penuh penyakit akut, bertaburan racun dan segala macam zat negatif yang membunuh akal, batin, mental dan bahkan jasadmu.

Atau engkau sudah tua, udzur dan siap-siap berhijrah ke kehidupan yang berikutnya. Tetapi keadaan yang telah kau temani berpuluh-puluh tahun bukan bertambah baik, melainkan bertambah hancur luluh lantak. Engkau sekeluarga bersama istri dan anak-anak cucu-cucumu mungkin tidak sangat mendasar penderitaannya. Tetapi masyarakatmu, Negaramu, kebudayaan dan peradaban yang mengepungmu, sama sekali bukan bahan-bahan yang enak dikenang nanti sejak di kuburan hingga ke alam barzakh.

***

Engkau masih muda belia atau sudah tua renta terkurung oleh posisi di mana engkau tak bisa berbuat apa-apa atas situasi-situasi di sekelilingmu. Keadaan yang jauh lebih rusak dari yang pernah engkau pelajari atau bayangkan tentang kerusakan. Situasi gila yang lebih gila dari segala kegilaan yang pernah engkau saksikan dan pahami.

Susanana kemanusiaan, suasana politik, kebudayaan, bahkan yang kelihatannya sudah dilandasi dengan iman dan taqwa kepada Tuhan, yang lebih hina dan rendah dibanding segala kehinaan dan kerendahan yang pernah engkau gambar di alam pikiran dan pembelajaran hidupmu.

Karena engkau orang yang bersungguh-sungguh dalam memikirkan dan merenungi segala sesuatu, maka engkau merasa sangat tertekan oleh — misalnya — situasi dunia di mana manusia mengagung-agungkan negara dengan meyakini bahwa ia lebih berkuasa dari kuasa Tuhan.

Para penguasa mendewa-dewakan jabatannya sambil mempercayai bahwa kekuasaannya melebihi hakekat pergantian siang dan malam. Negara dan para penguasa yang duduk di singgasana menyangka dirinya berposisi di atas para Nabi dan Rasul yang resonansi amanat di tangannya berlaku sampai hari kiamat.

Bahkan mereka berpikir bahwa Tuhan bukan hanya tidak berkuasa atas diri mereka, lebih remeh dari itu: Tuhan bisa diperdaya, dimanfaatkan, ditunggangi, diregulasi, dimanipulir, diperalat, dijadikan properti kamuflase, pemalsuan dan penggelapan. Tuhan diangkat menjadi Kepala Dinas pengabulan doa, merangkap Kepala Divisi Intelegen yang tugasnya menyembunyikan kejahatan para penguasa, atau menutupi aib-aib mereka.

Itulah sebabnya mereka sangat percaya diri untuk menyelenggarakan penjajahan tak henti-hentinya, dengan menggenggam nama Tuhan dan seluruh staf-Nya di seluruh alam semesta sebagai alatnya.

Mereka menerapkan tipu daya yang terus menerus di-upgrade metode dan strateginya, dengan mengolah, membolak-balik, merekayasa dan memanipulir nilai-nilai Tuhan, ajaran-ajaran-Nya, kalimat-kalimat-Nya, untuk kepentingan pragmatis kepenguasaan mereka atas seluruh aset kekayaan bumi.

Mereka menjalankan proyek pembodohan sangat massal di seluruh permukaan bumi, melalui sekolah-sekolah dan universitas-universitas atau lembaga-lembaga kependidikan di luarnya, terutama juga melalui media massa, memanfaatkan kelemahan mental para petinggi negara, menunggangi inferioritas karier kaum cerdik pandai, serta mempermainkan rahasia keserakahan dunia para pemimpin agama.

***

Suasana rusuh seperti itulah yang dalam waktu yang terlalu lama meracuni ruang batin kemanusiaan sangat banyak orang, termasuk saudaraku yang beberapa kali kuceritakan di tulisan-tulisan sebelumnya. Jiwa saudaraku itu terbakar di setiap siang dan membara di setiap malam, sehingga hidupnya dipenuhi oleh kemarahan dan terkadang amukan.

Pernah aku omong sangat pribadi dengan saudaraku itu. “Kau mau apa? Kamu bunuh semua orang dholim itu dari Istana Negara hingga Balai Desa? Berapa jumlah mereka? Berapa tahun atau berapa puluh atau ratus tahun yang kau perlukan untuk membunuhi mereka satu per satu, atau sepuluh per sepuluh, atau dengan bom-bom dahsyat seratus per seratus? Sedangkan temanmu kemarin melakukan bom bunuh diri dan hanya dirinya sendiri yang mati oleh bom yang disandangnya?”

Saudaraku itu sangat yakin akan kewajiban “nahi munkar”, mencegah atau melawan segala kemunkaran, penjajahan, ketidakadilan, kecurangan, penipuan massal oleh media-media komunikasi. Seberapa skala yang ia mampu? Sekampung? Sekecamatan? Sekabupaten seprovinsi? Atau dari Sabang hingga Merauke? Atau di seluruh permukaan bumi?

Seberapa banyak mesiumu? Bagaimana strategi perangmu? Sudah tepatkah pengenalanmu terhadap peta medannya? Sudah kau hitung kekuatan musuh-musuhmu? Sudah kau pilah berapa orang di berbagai level dan segmen yang wajib dibunuh, yang cukup dipotong tangan atau kakinya, yang hanya dipenjara, atau yang masih bisa kau ajak memasuki kebenaran yang kau yakini? Mana draft pemetaan perang yang kau selenggarakan?

Atau kau sekedar akan menyelenggarakan revolusi, atau mungkin lebih lunak: reformasi? Atau penggal kepala kedhalimannya saja: kudeta? Siapa nanti tokoh nomer satu pemerintahanmu? Siapa saja menteri-menteri dan pejabat-pejabat kuncimu? Mana, perlihatkan kepadaku susunan kabinetmu.

***

Aku akan mencari waktu untuk membeberkan apa yang kumaksudkan itu secara lebih rinci, sekaligus meluas dan mendalam. Tetapi hari ini aku titip dua pertanyaan kecil, untuk kau bawa dan olah dalam pikiranmu, atau kau buang — itu sepenuhnya merupakan kedaulatanmu.

Seberapa jauh, seberapa luas, seberapa menyeluruh, seberapa mendasar kelak Tuhan melalui staf-Nya menagih tanggung jawabmu tentang semua hal-hal besar yang membuatmu jadi pemarah dan pengamuk itu.

Bagaimana kalau mulai nanti malam engkau coba elus-elus dengan kelembutan hatimu dan kejernihan pikiranmu kata-kata berikut ini:  “Indonesia adalah salah satu dari sekian anak asuhmu”. []

Dari CN kepada anak-cucu dan JM
Yogya 7 Pebruari 2016

--

"...menyembah yang maha esa,
menghormati yang lebih tua,
menyayangi yang lebih muda,
mengasihi sesama..."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar