Rabu, 20 Juli 2016

Janur Kian Langka, Bagaimana Eksistensi Ketupat?



Janur Kian Langka, Bagaimana Eksistensi Ketupat?


Momen Idul Fitri identik dengan makanan khas Nusantara bernama Ketupat. Makanan tradisional berbahan baku beras ini bahkan menjadi ikon setiap lebaran tiba. Bentuknya yang unik membuat ketupat tidak mudah untuk membuatnya karena terdiri dari anyaman janur atau daun kelapa muda berwarna putih kekuningan yang cukup rumit sebab membutuhkan keterampilan tangan dalam membuatnya.

Di daerah Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah rata-rata masyarakat ramai-ramai membuat makanan yang hanya membutuhkan dua helai janur ini. Namun demikian, selama lima tahun belakangan, janur di daerah ini susah didapatkan.

“Seperti tahun-tahun kemarin, masyarakat beralih membuat lontong karena mendapatkan janur susah sekarang,” ujar Ibu Munarti, warga Desa Prapag Kidul, Kecamatan Losari yang biasa menyediakan ketupat sebagai sajian Hari Lebaran, Rabu (6/7).

Selain sebagai hidangan Hari Raya, masyarakat juga membuat ketupat untuk dijual. Mereka menjual karya tangannya itu di sepanjang jalan kecamatan yang banyak dilintasi warga. Namun, dengan kondisi janur yang kian langka, potensi mereka untuk meraup rezeki dari penjualan ketupat ini juga ikut meredup. Biasanya satu ikat berisi 10 ketupat dengan Rp7000-Rp9000 tergantung jenis dan ukuran ketupat.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan janur yang menjadi bahan anyaman ketupat makin susah didapatkan. Losari bagian utara, khususnya di Desa Prapag Kidul, Limbangan, Kramat, dan Karang Dempel dahulu mempunyai lahan dan kebon kelapa yang luas. Namun, ribuan pohon kelapa ini tidak lagi mampu memproduksi janur. Karena setiap tahun dipetik.

Pohon-pohon kelapa ini juga makin lama tidak lagi memproduksi buah sehingga akhirnya mati. Pilihan akhirnya terpaksa pohon-pohon tersebut ditebang atau dibiarkan tanpa berbuah. Kini, banyak lahan yang tadinya perkebunan kelapa tergantikan dengan pohon jati.

Sebagai pohon penghasil bahan-bahan berguna dari ujung janur hingga akar, pohon kelapa termasuk tumbuhan yang harus diperbarui dengan bibit pohon baru setidaknya selama 5-10 tahun. Jika langkah ini tidak dilakukan, maka pohon tidak akan berbuah dan akhirnya mati. 

Faktor pemetikan janur dengan intensitas sering juga menjadi salah satu faktor mendasar kelangkaan bahkan bisa menyebabkan proses pembuahaan terganggu. Sebab janur yang menjadi embrio pertumbuhan pohon kelapa dari sisi batang, buah maupun manggar (penyangga buah) menjadi tersendat.

Dengan kondisi memprihatinkan tersebut, menanam bibit pohon kelapa di dekat pohon kelapa yang sudah menua menjadi langkah penting guna melestarikan pohon yang sebagian besar hidup di dataran rendah itu. Langkah ini diyakini bisa melanggengkan pohon kelapa sebagai pohon penghasil janur sehingga eksistensi ketupat sebagai makanan khas lebaran tetap lestari.

Filosofi ketupat

Kupat atau ketupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam di Jawa sejak masa pemerintahan Kerajaan Demak pada awal abad ke-15. Konon, ketupat merupakan demitologisasi dan desakralisasi pemujaan Dewi Sri yang dimuliakan sejak masa kerajaan kuno Majapahit dan Padjajaran.

Menurut keterangan Sejarawan Agus Sunyoto, ketupat memang asli Indonesia. Di luar negeri tidak ada. Ketupat sebetulnya diambil dari satu hadits. Man shoma ramadhana tsumma atba‘ahu sita minsyawwalin fakaana shama kasiyaamidahron. (Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan, kemudian dilanjutkan dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka seperti telah berpuasa selama setahun penuh). 

Menurut Pakar Islam Nusantara itu, orang yang berpuasa seperti itu disebut kafah atau kafatan, artinya sempurna. Nah, orang Indonesia menyebutnya kupat (ketupat). Itu sebabnya orang Indonesia setelah berpuasa Syawal, ada hari raya ketupat, artinya hari raya sempurna.

Lebih jauh, ketupat atau kupat bisa dijelaskan sebagai berikut: pertama, istilah kupat mempunyai kepanjangan ngaku lepat (mengaku bersalah). Kedua, janur sebagai bahan pembuat kupat mempunyai makna jatining nur (hati nurani). Ketiga, anyaman janur menggambarkan kompleksitas masyarakat Jawa yang harus dilekatkan dengan tali silaturrahim.

Keempat, beras yang menggambarkan nafsu duniawi, dan terkahir kelima yaitu bentuk ketupat yakni kiblat papat (mata angin), limo pancer (kiblat) yang menggambarkan arah kiblat. Hal ini memberi makna bahwa nafsu duniawi harus diimbangi dengan beribadah kepada Allah SWT dengan menghadap kiblat melalui shalat. []

(Fathoni)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar