Rabu, 27 Juli 2016

Buya Syafii: Tak Peduli Ramadhan, Bom Itu Terus Saja Menyalak



Tak Peduli Ramadhan, Bom Itu Terus Saja Menyalak
Oleh: Ahmad Syafii Maarif

Masih ada catatan bulan Ramadhan 1437 Hijriah yang perlu diingat lagi. Dalam jawaban terhadap SMS Prof. Azyumardi Azra yang memuji artikel saya dalam Kompas, 5 Juli 2016, saya katakan: “Jika tidak ada Alquran yang menghibur, rasanya beban menjadi umat ini hampir tak tertanggungkan.” 

Jawaban ini dijawab lagi: “Benar Buya; kelakuan biadab mereka membuat akal dan hati kita sulit memahami. Ada lagi orang kita yang meniru kebiadaban itu; bom bunuh diri di Mapolresta Solo.” Sudah berjalan hampir satu setengah dasa warsa sejak Bom Bali pada 2002 yang menggoncangkan jagat raya dan serentekan bom-bom sesudah itu, komentar apa lagi yang patut kita sampaikan? Kita seperti tak berdaya mencegahnya.

Itu baru di Indonesia, di bumi Muslim yang lain, bom itu tak berhenti menyalak sampai detik ini. Bulan Ramadhan ini digoncangkan lagi oleh ledakan bom di Istanbul, Madinah, Jeddah, Baghdad, Bangladesh, dan entah di bumi mana lagi. Sebagian bumi Muslim sudah tidak lagi aman dan nyaman untuk didiami. Media sosial Barat dengan penuh semangat menyimpulkan bahwa Islam itu adalah agama teror, tidak lebih dan tidak kurang. Padahal yang terlibat dalam tindakan teror ini hanyalah segelintir manusia putusasa, baik terhadap penguasa Muslim, ulama, dan pihak Barat yang mengendalikan penguasa di bumi panas yang selalu bergolak itu.

Pada saat dunia Muslim sedang jatuh terpuruk, rupanya sangat mudah bagi sebagian kecil umat ini kehilangan keseimbangan, akal sehat dan hati nurani tidak lagi berfungsi. Bahwa Barat benci Islam, kita semua sudah faham, dan kebencian itu sudah berjalan berabad-abad. Ada sentimen politik, sentimen agama, dan sentimen sejarah yang melatari semuanya 

ini. Tetapi apakah kebencian mereka itu harus dilawan dengan cara yang biadab, melalui bom bunuh diri, misalnya? Barat masuk ke dunia Muslim dengan gampang karena suasana internal kita amatlah rapuh, cinta duniawi sudah berada di puncak. Islam yang ada di otak sebagian kita bukan lagi Islam Alquran atau Islam kenabian yang memandang umat manusia sebagai satu kesatuan yang tak terbelah. Pesan surat al-Anbiyâ’ ayat 107: “Dan Kami tidaklah mengutusmu [Muhammad] kecuali sebagai rahmat bagi alam semesta” haruslah dibaca dalam konteks misi universal Islam yang tak tergoyahkan sampai hari kiamat.

Maka tindakan biadab yang menghancurkan sendi-sendi kemanusiaan yang dilakukan oleh sekelompok kecil orang yang memakai nama Arab atau nama lain tidak diragukan lagi adalah sebagai sebuah pengkhianatan telanjang terhadap misi kenabian yang teramat mulia itu. Bom bunuh diri itu akan membinasakan siapa saja yang dipandang musuh oleh pimpinan penganut teologi maut ini, tidak peduli apa pun agamanya, dan di lokasi mana harus diledakkan. Pendek kata, bagi manusia yang sedang gelap mata, perbuatan yang paling terkutuk dan teramat keji sekalipun menurut pandangan kita yang normal, bagi mereka dianggap biasa saja, bahkan dinilai sebagai syahid. Alangkah sesatnya cara berfikir yang semacam ini.

Ketika apa yang dikenal dengan Musim Semi Arab di akhir tahun 2010 dan beberapa tahun kemudian dalam upaya mendapatkan keadilan dan demokrasi, banyak terbetik harapan bahwa bangsa Arab akan memasuki era baru yang lebih cerah dan menjanjikan. Tetapi semua harapan ini menjadi tenggelam, dunia Arab kembali dilanda gelombang kekerasan dan ketidakpastian. Amerika Serikat dan Rusia turut bermain di kawasan itu bukan untuk menciptakan perdamaian, tetapi lebih banyak untuk saling berebut pengaruh di negara-negara yang nyaris hilang kedaulatannya itu. Beberapa hari yang lalu, Turki pun digoncang percobaan kudeta, banyak pula yang terbunuh dan ditangkap. Erdogan jangan sampai gelap mata, memusuhi rakyatnya sendiri.

Belakangan yang terparah adalah Suriah: jutaan rakyatnya harus mengungsi ke negara-negara lain, demi melangsungkan hidup karena bumi tempat tinggal mereka telah terkoyak oleh perang saudara yang tidak jelas ujung pangkalnya. Dalam suasana kacau ini, muncullah seorang yang bernama Abu Bakr al-Baghdadi, mantan pejabat tidak terlalu penting di era Saddam Hussein, yang menyatakan dirinya sebagai khalifah bagi ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Di tengah kepanikan rakyat yang tak berdaya, ISIS oleh sebagian dianggap sebagai juru selamat. Pendukung ISIS inilah yang kini meledakkan bom bunuh diri di mana-mana. Ibarat api liar, ISIS telah buat onar di mana-mana, termasuk malapetaka beruntun di bulan Ramadhan 1437 hijriah yang lalu.

Dalam bacaan saya, kekacauan dan kekerasan yang kini sedang berlaku pada beberapa negara Arab adalah bagian dari krisis peradaban Arab Muslim yang identitas keislamannya sudah kabur samasekali. Alquran tentu masih dibaca oleh sebagian rakyat yang sedang kehilangan arah itu, tetapi sebagai petunjuk kehidupan kolektif manusia sudah lama tidak berfungsi. Apakah peradaban Arab Muslim ini akan terus meluncur ke titik yang paling buruk atau akan bisa bernafas kembali, saya tidak tahu. Jika pun akan bernafas, pasti memerlukan tempo minimal satu generasi. Itu pun jika para elitenya: penguasa, intelektual, dan ulama mereka benar-benar sadar betapa dalamnya krisis identitas yang sedang melanda mereka. []

REPUBLIKA, 26 Juli 2016
Ahmad Syafii Maarif | Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar