Kamis, 21 Juli 2016

(Buku of the Day) Malam-Malam Terang



Kisah Nyata Petualangan Gadis Usia Belia


Judul                : Malam-Malam Terang
Penulis             : Tasniem Fauzia Rais dan Ridho Rahmadi
Editor               : Donna Widjajanto
Penerbit            : Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit      : Desember 2015
Tebal                : 245 halaman
ISBN                 : 978-602-032-454-8
Peresensi          : Muhammad Ridha Basri adalah santri Pondok Pesantren Mahasiswa Lingkar Studi Quran Ar-Rohmah Yogyakarta.

“Dengan merantau, banyak ilmu tentang kehidupan dapat dipelajari. Ilmu yang tidak ada di balik rumus-rumus matematika maupun teori-teori ekonomi. Ilmu yang tersembunyi di tengah padang pasir pengembaraan. Ilmu yang terbawa hujan deras dan angin kencang petualangan. Ilmu yang tertambat di tengah-tengah amuk ombak samudera perjalanan. Merantau adalah melepas sauh, mengembangkan layar. Berteman dengan bintang, berkawan dengan camar, bersahabat dengan angin. Matahari terbit dan tenggelam jadi pengingat, waktu yang terus berjalan tak pernah peduli, maka kejarlah atau kau akan jauh tertinggal.” (hlm.190)

Paragraf di atas merupakan salah satu dari banyak kutipan yang menimbulkan letupan inspirasi tak bertepi dalam novel Malam-Malam Terang. Dengan gaya khas tulisan yang renyah dan mudah dipahami, alur cerita dibangun dengan sangat sederhana, namun punya seribu makna. Tidak sekedar menyuguhi cerita, dalam setiap bagian peristiwa yang disajikan mengandung pertimbangan sikap dan nilai idealisme dari sang tokoh, Tasniem.

Bermula dari capaian nilai ujian akhir yang sedikit di bawah standar, membuat Tasniem harus melupakan cita-cita melanjutkan jenjang pendidikan di salah satu SMA favorit di Yogyakarta. Takdir ini ternyata membawa berkah dan mengubah kisah hidupnya. Seorang anak lulusan SMP, berusia 15 tahun itu kemudian memutuskan untuk berpetualang ke negeri orang. Ia memulai pengembaraan, merasakan pahit dan getir kehidupan, jauh dari orang tua dan sanak saudara. Modal terbesarnya adalah hanya restu dan doa sang ibu, orang tua, keluarga, sampai sang nenek.

Bersekolah di salah satu lembaga berskala internasional di Singapura membuat Tasniem menemukan jati dirinya. Pikiran dan pandangan hidupnya mengalami revolusi total. Ia mulai bisa melihat dunia secara lebih holistik dan menjadi berwawasan dunia. Kehidupan di negeri orang tak serta merta berjalan mulus laksana jalan tol. Gadis remaja ini harus menjalani cobaan demi cobaan hidup. Deraan homesick hingga kekurangan living cost, kerap muncul sebagai bagian tak terpisahkan dari perjalanan menuntut ilmu di "negeri 1001 larangan" ini. Bahkan pernah berkeinginan untuk mengakhiri kisahnya, segera pulang.

Tasniem membangun pertemanan lintas negara. Kemampuan membangun hubungan persahabatan dengan sebanyak mungkin orang terlebih bagi yang berbeda latar belakang adalah sebuah prestasi dan anugerah terbesar. Saling memahami dan saling mengisi dengan mereka yang berasal dari kultur berbeda menjadikan hubungan pertemanan yang dibangun benar-benar dilandasi kepercayaan dan ketulusan tingkat tinggi.

Nilai lebih lain dari novel ini adalah karena ceritanya tidak fiktif. Kisah nyata yang direkonstruksi sedemikian rupa menjadi sebuah kisah yang sangat bisa dinikmati oleh siapapun. Bagi pelajar dan anak muda, tentu novel ini menjadi dasar. Bagi guru dan pengajar, novel ini bisa menjadi pertimbangan dalam mengajar dan belajar tentang kehidupan yang sesungguhnya. Bagi orang tua, ayah dan ibu, novel ini bisa menjadi referensi dalam mendidik buah hati. Tak hanya itu, bagi siapa saja, novel ini bisa menjadi pijakan dalam mendidik masyarakat berperadaban. Misalkan saja tentang pandangan seorang Tasniem ketika ia mengomentari kasus penghakiman massa terhadap seorang pencopet dalam perjalanannya menuju Solo, berikut ini;

“Pencopet itu jelas melakukan hal yang salah, mengambil paksa apa yang bukan miliknya. Namun memukulinya tanpa ampun karena perbuatannya itu, juga tidak benar. Memperlakukan manusia sekeji itu, tidaklah pernah benar. Sebelas-dua belas, dua-duanya kriminal. Aku tidak tahu. Kejadian itu bukannya tentang benar dan salah.” (hlm. 21)

Malam-Malam Terang bukan sekedar judul, ia memiliki pengertian yang tidak biasa. Malam selalu diidentikkan dengan kondisi gelap dan suram. Sementara terang identik dengan cahaya dan siang hari. Namun bagi seorang Tasniem, ia merasakan malam yang terang. Malam yang mengandung sinar kehidupan. Ia berhasil mengubah gelapnya ujian dan cobaan hidup menjadi seberkas cahaya yang dinanti-nanti banyak orang. Ia tabah menjalani kehidupan penuh rintangan, hingga membawanya pada cahaya. Ia sabar untuk melewati saat-saat sulit, sampai sinar kebahagiaan dan kesuksesan menghampirinya kemudian hari. 

Dalam novel itu juga diceritakan tentang lika-liku ketika harus menjalani susah di negeri orang. Tentang pilihan hidup. Tentang konsekuensi dan konsistensi terhadap pilihan hidup. Tentang orang tua yang penuh kasih dan mendidik kemandirian. Tentang nasihat seorang ayahanda. Tentang perlombaan memenangkan waktu, mengalahkan diri sendiri. Tak terlupakan tentang bantera cinta kasih yang dibangun dengan landasan yang kuat bersama Ridho Rahmadi, seorang senior yang dikenal Tasniem ketika SMP dulu. []

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar