Belajar Tawadhu' dari
Kiai Masbuhin Faqih, Mamba'us Sholihin
Di era media sosial
seperti saat ini, pembahasan konflik dan intrik politik cenderung lebih menarik
mengalahkan tema budi pekerti, akhlaqul karimah atau tema sejenis lainnya.
Akibatnya sifat baik seperti tawadhu’ menjadi barang langka yang asing dan
seolah tak penting.
Namun bukan berarti
sifat ini telah sepenuhnya hilang. Ia masih ada dan terus tumbuh di lembaga
pendidikan bernama pondok pesantren. Para kiai di kalangan NU juga masih
memegang teguh prinsip sifat ini. Kiai Masbuhin Faqih (71), pengasuh pondok
pesantren Mambaus Sholihin salah satunya. Beliau adalah salah seorang kiai yang
meletakkan tawadhu' di tempat yang amat tinggi. Walaupun merupakan kiai besar
dengan jumlah santri dan alumni hingga puluhan ribu, namun beliau tak jumawa.
Rasa hormat dan takdim pada guru-gurunya tetap dijunjungnya tinggi-tinggi.
Sifat tawadlu'nya
tampak saat disowani oleh Kiai Muda Dr Afifuddin Dimyati (39), pengasuh pondok
pesantren Hidayatul Quran, Rejoso, Peterongan, Jombang pada Ahad (7/10) pagi.
Saat keduanya bersalaman, Kiai Masbuhin yang 32 tahun lebih tua berusaha
mencium tangan sang tamu, namun tak berhasil.
Kiai Masbuhin lantas
mengatakan “Kulo (saya) yang seharusnya mencium tangan panjenengan,"
sambil mendekat berusaha meraih tangan sang tamu, namun ditolak secara
halus.
Gus Afif memang bukan
guru yang pernah memberi pelajaran pada Kiai Masbuhin. Namun nasab Gus Afif
sampai pada guru-guru Kiai Masbuchin. Dari jalur ayah, Gus Afif adalah putra
Kiai Dimyati bin Kiai Romli Attamimi. Kiai Romli Attamimi sendiri merupakan
guru dari Kiai Usman Al-Ishaqi, yang tak lain adalah guru Kiai Masbuhin.
Sementara di sisi ibu, Gus Afif merupakan cucu dari Kiai Ahmad Marzuki Zahid
Langitan yang juga merupakan guru Kiai Masbuhin Faqih. Silsilah itulah yang
membuat Kiai Masbuhin begitu menghormati Gus Afif seperti menghormati gurunya
sendiri.
Sebenarnya cerita
tingginya sifat tawadhu' Kiai Masbuhin pada gurunya telah banyak berkembang.
Alkisah, pernah pada suatu hari, seorang santri laki-laki dari Kiai Masbuhin
meminta sang kiai untuk melamarkan seorang gadis untuk dijadikan istri.
Pada waktu yang ditetapkan,
berangkatlah sang kiai menuju rumah sang gadis yang akan dilamarkan. Akan
tetapi sesampainya di lokasi, Kiai Masbuhin batal melamarkan santrinya, setelah
mengetahui bahwa sang gadis merupakan alumni pondok pesantren Langitan, Jawa
Timur, tempat beliau menimba ilmu selama belasan tahun. Konon, Kiai Masbuhin
‘tak berani’ melamarkan karena takut su’ul azab pada gurunya.
Profil Kiai Masbuhin
Faqih dan Sejarah Mamba'us Sholihin
Kiai yang oleh
masyarakat Gresik dikenal dengan nama Yai Buhin dilahirkan di desa Suci
Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik, pada 31 Desember 1947 atau 18 Shafar 1367 H
dari pasangan KH Abdullah Faqih dan Nyai Hj Tswaibah. Jika dirunut lebih jauh,
silsilah Kiai Masbuhin akan sampai ke Sunan Giri.
Sanad keilmuan Kiai
Masbuhin secara formal berasal dari dua pondok pesantren, yakni Gontor dan
Langitan. Di Gontor, beliau menimba ilmu sejak di bangku Masdrasah Tsanawiyah
hingga Madrasah Aliyah sambil memperdalam bahasa Arab dan Inggris. Setelah
lulus, beliau melanjutkan nyantri di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban, di
bawah pimpinan KH Abdul Hadi dan KH Abdullah Faqih. Di sana Masbuhin muda
memperdalam ilmu Nahwu, Shorof, Fiqh, Tauhid, Tasawwuf dll, selama lebih dari
17 tahun.
Kelak sistem kedua
pesantren ini diduplikasi dan diterapkan di Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin;
yakni mengajarkan ilmu-ilmu agama seperti Langitan dan mewajibkan
santrinya berbahasa Arab dan Inggris seperti Gontor. Dari sana pula Mambaus
Sholihin dikenal dengan istilah pondok ‘salafi-modern’.
Di tahun 2018 ini,
Mambaus Sholihin yang didirikan oleh sang ayah KH Abdullah Faqih dari sebuah
surau kecil telah menginjak usia 49 tahun. Pada awalnya, pondok ini bernama
“At-Thohiriyah” menyesuaikan dengan nama desa; Suci. Namun nama itu kemudian
diganti menjadi “Mambaus Sholihin”, sesuai dengan pemberian guru Mursyid
Tariqat Qadariyah Naqsabandiyah, KH Usman Al-Ishaqi.
Seiring perjalanan
waktu, pondok pesantren Mambaus Sholihin saat ini telah menjelma menjadi sebuah
institusi pesantren yang terbesar di kawasan Pantai Utara Pulau Jawa. Mamba'us
Sholihin menyediakan pembelajaran mulai dari level Madrasah Ibtidaiyah,
Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah hingga perguruan tinggi bernama Istitut
Keislaman Abdullah Faqih (INKAFA). Saat ini, Mambaus Sholihin juga telah
berkembang dengan memiliki sembilan cabang pesantren hingga di luar Jawa.
Cara berdakwah pondok
pesantren Mamba'us Sholihin juga mengalami adaptasi. Di era digital seperti
saat ini, metode dakwah di pondok pesantren Mamba'us Sholihin tidak hanya
ditempuh melalui metode formal dan konvensional secara ofline, namun juga
disiar-luaskan melalui sejumlah platform digital seperti channel YouTube dan
Facebook.
kendati demikian
kebesaran nama itu tak membuat sang kiai jumawa. Beliau tetaplah seorang kiai
yang meletakkan rasa hormat yang sangat tinggi pada guru-gurunya, termasuk
keturunan dari guru-gurunya. Itulah alasan mengapa Kiai Masbuhin Faqih
bersikeras hendak mencium tangan Gus Afif yang puluhan tahun lebih muda
darinya; karena Gus Afif adalah cucu dari guru-gurunya. []
(Ahmad Rozali)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar