Rabu, 11 November 2020

Guntur: Soekarno Penyelamat Universitas Islam Al Azhar Kairo

Soekarno Penyelamat Universitas Islam Al Azhar Kairo

Oleh: Guntur Soekarno

 

SYEIKH Dr Ali Jum’ah Muhammad Abdul Wahab mantan Mufti Besar Mesir 2003-2013 dalam wawancaranya dengan TV Kairo beberapa waktu lalu menyatakan ‘setelah memenangi revolusinya, Gamal Abdul Nasser didukung kelompok perwira bebasnya, menyatakan akan mengadakan perombakanperombakan total untuk memperbaiki kehidupan masyarakat Mesir’ yang saat itu dinilai sangat memprihatinkan akibat penindasan rezim Raja Farouk.

 

Syeikh Dr Ali Jum’ah lahir di Bani Suwayf, 3 Maret 1951, menyelesaikan pendidikan S-1, S-2, hingga doktor di Universitas Al Azhar Fakultas Syariah wal Qonun Fiqhih. Ia mendapat gelar Dr honoris causa dari dua universitas, yaitu Universitas Liverpool dan Universitas Malaya.

 

Menurutnya, Gamal Abdul Nasser punya seorang sahabat di Indonesia, yakni Presiden Soekarno yang dikenalnya sejak bertemu untuk pertama kali pada Konferensi Asia- Afrika di Bandung, 1955. Jalinan persahabatan ini berlanjut terus hingga mereka menjadi pendiri dari Gerakan Nonblok bersama tokoh-tokoh yang lain seperti Jawaharlal Nehru dari India, Tito dari Yugoslavia, dan Kwame Nkrumah dari Ghana.

 

Soekarno sebagai sahabat Nasser sering mengadakan kunjungan kenegaraan ke Mesir. Dalam rangka pembebasan Irian Barat lebih kurang di 1963, Soekarno pernah minta bantuan Nasser untuk menghambat kedatangan kapal induk Belanda, Karel Doorman, ke Irian Barat paling tidak selama 2 minggu. Nasser menyanggupi permintaan sahabatnya itu dengan jalan ketika Karel Doorman tiba di tengah Terusan Suez, ia memerintahkan kaum buruh di sana mogok total selama lebih kurang 2 minggu lebih sehingga Terusan Suez tidak dapat beroperasi karena pintu-pintu airnya tidak dapat terbuka. Dengan begitu, kapal tersebut terjebak di tengah-tengah terusan. Waktu pemogokan selesai, Karel Doorman dapat berlayar lagi menuju Irian Barat. Namun, apa mau dikata, Belanda sudah bertekuk lutut. Kekuasaan di sana sudah diserahkan kepada PBB (sekitar Mei 1963) untuk selanjutnya akan serahkan kepada Republik Indonesia.

 

Menurut Dr Ali Jum’ah, perombakan- perombakan yang dilakukan Nasser termasuk di dalamnya rencana untuk menutup Universitas Islam Al Azhar dan diganti dengan suatu institusi baru. Pada 1959 ketika Soekarno mengunjungi Mesir dan bertemu dengan sahabatnya itu, Nasser mengutarakan niat kepada Soekarno dan siap untuk menandatangani SK penutupan. Saat itu Soekarno bereaksi keras dan berkata, “Pertama itu adalah suatu keputusan yang berbahaya. Untuk itu, saya tidak setuju. Kedua, keputusan itu adalah suatu keputusan yang salah dan keliru. Selain itu, apakah Saudaraku juga akan menutup Sungai Nil dan piramida yang membuat Mesir terkenal di dunia internasional?”

 

Nasser terhenyak. Namun, ia tetap mendengarkan dengan saksama apa kata-kata Soekarno. Suasana menjadi hening sesaat dan akhirnya Nasser berkata, “Baiklah, Saudaraku, aku akan batalkan penandatanganan surat keputusan tadi dan terima kasih atas nasihatnasihatmu.”

 

Selanjutnya Nasser memanggil beberapa pejabat, antara lain Sulaiman Husein dan Said Aryan, untuk membuat konsep undang-undang mengenai penguatan fungsi Al Azhar agar lebih dikenal di dunia internasional maka lahirlah UU No 103 Tahun 1961. Di samping itu, Nasser juga memerintahkan agar segera dibentuk Majelis Tinggi Islam, diterbitkan majalah Mimbar Islam di samping diudarakan stasiun radio Al Quran Nul Qarim.

Ilustrasi MI

 

Semua ini terjadi setelah adanya pembicaraan dengan Soekarno sahabatnya. Menurut Dr Ali Jum’ah, Soekarno sebenarnya seorang yang bukan anggota salah satu partai politik Islam, bahkan ia mengadopsi pemikiran tentang sosialisme dan marxisme.

 

Namun, pemikirannya mengenai arti penting Al Azhar bagi Mesir luar biasa. Bagi kita di Indonesia, hal tersebut sebenarnya bukan sesuatu yang baru karena kita tahu pada 1926 Soekarno sudah menulis artikelnya yang terkenal, Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme.

 

Kita pun mengetahui betapa eratnya persahabatan antara Nasser dan Soekarno. Terbukti ketika Soekarno menyerahkan berpuluh-puluh bibit pohon mangga harumanis probolinggo untuk Nasser, kontan dibalas dengan kiriman pohon bunga fl amboyan khas Sungai Nil yang habitusnya selalu merunduk ke arah air sungai. Oleh Soekarno, pohon-pohon tersebut ditanam di sepanjang Sungai Ciliwung sampai daerah Ancol, di sepanjang Jalan Segara di belakang Istana Negara hingga Jalan Patrice Lumumba dekat lapangan terbang Kemayoran hingga tepian Jalan Gunung Sahari Ancol. Patrice Lumumba ialah Perdana Menteri Kongo berusia muda yang flamboyan.

 

Sayang entah mengapa di era Orde Baru seluruh pohon bunga flamboyan tadi ditebas seluruhannya dan nama Jalan Patrice Lumumba dihilangkan diganti nama lain. Mungkin itu karena Patrice Lumumba dianggap tokoh beraliran kiri atau komunis. Masih hubungannya dengan Al Azhar, pada 24 April 1960 Soekarno mendapat gelar Dr honoris causa dari Universitas Islam Al Azhar dalam bidang falsafah.

 

Soekarno juga tidak setengahsetengah membela kepentingan Mesir ketika meletusnya perang tujuh hari melawan Israel.

 

Mesir terpaksa kalah karena Amerika Serikat dengan pesawat mata-mata U-2 dari CIA membantu pasukan Israel yang terpukul mundur. Mereka memberikan informasi posisi-posisi pasukan Mesir serta lokasi-lokasi pesawat-pesawat jet tempur Mig-21 sehingga Israel dapat melakukan serangan balik ke posisi pasukan serta jet-jet tempur Mesir.

 

Karena kekalahan itu, Panglima Angkatan Bersenjata Mesir Marsekal Abdul Hakim Amir yang merasa bertanggung jawab atas kekalahan negerinya melakukan bunuh diri. Hal itu membuat Soekarno sangat sedih dan secara terbuka mengutuk ulah Amerika Serikat di dunia internasional. Itu disebabkan hubungan Soekarno dengan Abdul Hakim Amir juga amat dekat, mengingat setiap ia berkunjung ke Mesir, bila pergi ke mana-mana, selalu didampingi Marsekal Abdul Hakim Amir.

 

Dari hal-hal tersebut di atas, menurut hemat saya, ada baiknya bila tokoh-tokoh dan pemimpinpemimpin umat Islam Indonesia, bahkan bangsa ini secara keseluruhan, dapat menyimak apa-apa yang dijelaskan Syeikh Dr Ali Jum’ah di dalam wawancaranya dengan stasiun TV Kairo. Selain itu, dapat memenuhi permintaannya agar wawancara itu, khususnya mengenai peranan Soekarno dalam menyelamatkan Universitas Islam Al Azhar, dijadikan catatan sejarah bagi kedua bangsa. Semoga. []

 

MEDIA INDONESIA, 31 Oktober 2020

Guntur Soekarno | Pemerhati Sosial

Tidak ada komentar:

Posting Komentar