Jumat, 27 November 2020

(Ngaji of the Day) Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 1

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

 

Artinya, “Dengan (menyebut) nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”


Lafal “bismillahir rahmanir rahim” biasa disingkat dengan “bismillah” atau basmalah (bentuk mashdar-nya). Ia merupakan ayat pertama Surat Al-Fatihah. Dari kalimat ini, sebenarnya ada kata yang dilesapkan, “(Aku mulai membaca, dan aktivitas lainnya sesuai aktivitasnya) dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.”


Imam Ibnu Katsir (1301 M-1372 M) menjelaskan bahwa “bismillah” mengandung keberkahan. Oleh karena itu, kita dianjurkan (diwajibkan menurut sebagian ulama) melafalkannya pada setiap awal aktivitas dan perkataan.


Kita dianjurkan membaca “bismillah” ketika hendak memasuki toilet (HR Ahmad), mengawali wudhu, hendak berhubungan suami dan istri (HR Bukhari dan Muslim), hendak mengawali aktivitas makan (HR Muslim), berdiri, duduk, shalat, berkendaraan, minum, tidur. Semua ini, kata Ibnu Katsir, dimaksudkan untuk tabarruk, tayamun, dan permohonan atas penyempurnaan aktivitas dan taqabbul.

 

Ibnu Katsir menyinggung secara ringkas proses semiosis “ism” (nama/simbol) atau penanda dan Allah sebagai musamma atau petanda. Ulama terbelah menjadi tiga pendapat. Ada ulama berpendapat bahwa nama ismillah tidak lain adalah musamma. Ulama kedua mengatakan bahwa ism adalah musamma, tetapi bukan penamaan. Sedangkan ulama ketiga berpendapat, ism bukan musamma, tetapi penamaan. Namun, Ibnu Katsir sendiri berpendapat bahwa ism bukan musamma, dan bukan penamaan/tasmiyah. Penjelasan Ibnu Katsir berhenti sampai di sini.


Terkait “bismillah,” Syekh Ali As-Shabuni menyebut “Allah” sebagai nama untuk zat suci dan mulia tanpa sekutu. Ia mengutip Al-Qurthubi yang menyebut “Allah” sebagai nama terbesar dan nama Allah paling sempurna. Ia merujuk pada zat yang haq, mencakup segala sifat ilahi dan meliputi sifat rububiyah, yang sendiri sebagai ujud hakiki tanpa sekutu. (As-Shabuni, 1999 M: 24).


Sebagian ulama berdiskusi perihal kata “Allah.” Mereka mendiskusikan “Allah” sebagai kata bentukan dari “al-ilah.” Sebagian lagi mengatakan bahwa kata “al” dan “ilah” selalu melekat pada kata “Allah.” Ada lagi yang berpendapat bahwa “Allah” bukan kata bentukan, tetapi kata asal. Namun, sebagian ulama mengatakan bahwa Allah merupakan “ilahul alihah” (Tuhan dari segala yang dipertuhankan oleh manusia).


Syekh Ali As-Shabuni menyinggung perbedaan kata “Allah” dan “al-ilah.” Menurutnya, “Allah” merujuk pasti ke zat suci yang disembah dengan sebenar-benarnya. Sedangkan “al-ilah” merujuk kepada zat yang dipertuhankan baik hak maupun batil. Dengan demikian, “al-ilah” dapat dipergunakan dengan rujukan Allah atau apa saja yang dianggap sebagai tuhan. (Syekh Muhammad Ali As-Shabuni, Shafwatut Tafasir, [Jakarta, Darul Kutub Al-Islamiyah: 1999 M/1420 H], cetakan pertama, juz I, halaman 24).


Sejarah Bismillah


Ayat “bismillah” merupakan anugerah luar biasa dari Allah SWT. Ayat ini menyandingkan Allah sebagai penguasa alam raya dengan sifat-Nya yang maha pengasih (ar-rahman) dan maha penyayang (ar-rahim). Dari sekian banyak sifat dan asma-Nya, hanya sifat “ar-rahman” dan “ar-rahim” yang disandingkan dengan nama Allah pada “bismillah.” 

 

Turunnya Surat Al-Fatihah yang diawali dengan lafal “bismillahir rahmanir rahim” merupakan titik tolak yang mengubah persepsi manusia tentang tuhan atau apa saja yang dianggap penguasa alam semesta. Sebelum ayat ini turun, citra tuhan itu begitu buruk. Tuhan digambarkan sebagai sosok yang menyeramkan, bengis, kejam, menakutkan, pembenci, pendendam, dan memerlukan tumbal.


Turunnya “bismillah” sebagai wahyu Ilahi merupakan momen revolusioner dalam mengubah citra tuhan yang begitu bengis dan kejam dalam imajinasi manusia. Tetapi sayangnya kemudian, sebagian orang yang keliru memahami nilai-nilai agama mencoba menampilkan citra dan wajah tuhan yang jauh dari sifat yang maha pengasih (ar-rahman) dan maha penyayang (ar-rahim) dengan tindakan intoleransi, kekerasan, terorisme, dan radikalisme.


Mengutip Al-Qurthubi, Syekh Ali As-Shabuni mengatakan bahwa “Ar-Rahman” merupakan kasih yang banyak dan besar (kualitas dan kuantitas), tetapi tidak bersifat langgeng. Sedangkan “Ar-Rahim” merujuk pada kasih yang bersifat langgeng dan abadi. As-Shabuni juga mengutip Al-Khattabi yang memahami “Ar-Rahman” sebagai kasih Tuhan yang begitu luas untuk segenap makhluk perihal pemberian rezeki dan kemaslahatan yang mencakup orang mukmin dan kafir. Sedangkan kata “Ar-Rahim” merujuk pada kasih Allah yang bersifat khusus untuk orang mukmin sebagaimana ayat, “wa kana bil mukminina rahiman.” (As-Shabuni, 1999 M: 25) dan (As-Shawi, tanpa tahun: 372 [juz IV]).


Allah membuka Surat Al-Fatihah dan semua surat dalam Al-Qur’an kecuali Surat At-Taubah dengan ayat “bismillahir rahmanir rahim” untuk memberikan petunjuk bagi umat Islam untuk mengawali ucapan dan tindakan mereka dengan nama Allah. Hal ini dimaksudkan untuk mengharapkan bantuan dan taufik-Nya. Ini yang membedakan juga dari kaum pagan Makkah yang mengawali aktivitas dengan menyebut nama berhala dan thagut mereka, “Ya latta, Uzza, Syi’ib, Hubbal,” dan seterusnya. (As-Shabuni, 1999 M: 23). Ini juga dimaksudkan sebagai penanda bahwa “bismillah” sebagai ummul Fatihah sebagaimana Al-Fatihah merupakan Ummul Qur’an. (As-Shawi, tanpa tahun: 372 [juz IV]).

 

Syekh Ahmad As-Shawi dalam Hasyiyatus Shawi ala Tafsiril Jalalain mengutip riwayat As-Sya’bi dan Al-A’masy bahwa awalnya Rasulullah menulis (awal surat melalui juru tulisnya) dengan “bismikallahumma.” Setelah kemudian hari turun ayat “Wa qala irkabu fiha bismillahi majreha wa mursaha,” Rasulullah menulis dengan “bismillah.”  Ketika di suatu hari kemudian turun ayat “ud’ullaha awid’ur rahman,” Rasulullah menulis dengan  “bismillahir rahman.” Setelah sekian waktu, turun ayat “innahu min Sulaiman, innahu bismillahir rahmanir rahim,” Rasulullah setelah itu menulis dengan “bismillahir rahmanir rahim.” (Syekh Ahmad As-Shawi, Hasyiyatus Shawi ala Tafsiril Jalalain, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], juz IV, halaman 372). 


Adapun “bismillah” bagi ulama tasawuf memiliki arti luar biasa. Menurut ulama sufi, kandungan semua kitab suci yang pernah diturunkan oleh Allah terdapat di dalam Al-Qur’an. Semua kandungan di dalam Al-Qur’an yang mulia terdapat di dalam Surat Al-Fatihah. Sedangkan kandungan Surat Al-Fatihah terdapat di dalam “bismillahir rahmanir rahim.” Selanjutnya kandungan lafal “bismillahir rahmanir rahim” terdapat pada huruf ba yang terdapat pada “bismillah.” Sedangkan huruf ba jika diperas lagi, maknanya tercakup di dalam satu titik yang terdapat pada huruf ba.


Tarik-menarik Status Bismillah sebagai Ayat


Ulama berbeda pendapat perihal status “bismillah” sebagai ayat Al-Qur’an. Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa para sahabat mengawali pembacaan Al-Qur’an dengan “bismillah.” Ulama bersepakat (ijmak) bahwa “bismillah” merupakan bagian dari Surat An-Naml. Tetapi ulama berbeda pendapat ketika membicarakan apakah “bismillah” itu ayat tersendiri pada setiap awal surat dalam Al-Qur’an, awal setiap surat yang ditulis di awalnya, sebagian ayat pada awal setiap surat, hanya menjadi ayat pada Surat Al-Fatihah belaka, ditulis hanya sebagai pemisah antarsurat, bukan sebagai ayat. Ulama salaf dan ulama muatakhirin memiliki pendapat berbeda perihal ini. Semua pandangan itu diuraikan panjang lebar di kesempatan lain.


Dalam Sunan Abu Dawud dengan sanad sahih dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah tidak mengetahui pemisah antarsurat dalam Al-Qur’an sehingga turun ayat “bismillahir rahmanir rahim.” Al-Hakim dalam Al-Mustadrak-nya juga meriwayatkan demikian dari Said bin Jubair secara mursal. Ibnu Khuzaimah meriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Rasulullah membaca “bismillah” pada awal surat Al-Fatihah di dalam shalat dan menghitungnya sebagai ayat. Tetapi hadits ini diriwayatkan dari Umar bin Harun Al-Balkhi. Di dalamnya terdapat kelemahan, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulaikah. Ad-Daruquthni meriwayatkannya dari Abu Hurairah secara marfu. Ia juga meriwayatkan hadits serupa dari Ali bin Abu Thalib, Ibnu Abbas, dan selain keduanya.


Para sahabat yang meriwayatkan “bismillah” sebagai ayat pada setiap awal surat kecuali Surat At-Taubah adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnuz Zubair, Abu Hurairah, dan sahabat Ali. Dari generasi tabi’in ada Atha, Thawus, Said bin Jubair, Makhul, Az-Zuhri. Pendapat ini dipegang oleh Abdullah bin Mubarak, As-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, dalam riwayat darinya Ishaq bin Rahawaih dan Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam.


Adapun Imam Malik, Abu Hanifah, dan ulama pengikut keduanya berpendapat bahwa “bismillah” bukan ayat dalam Surat Al-Fathihah dan juga bukan ayat dari surat lainnya. Imam As-Syafi’i dalam satu pendapatnya mengatakan bahwa “bismillah” hanya ayat pada awal Surat Al-Fatihah, bukan ayat pada awal setiap surat. Dari Imam As-Syafi’i juga, “bismillah” merupakan sebagian ayat pada awal setiap surat. Tetapi kedua pendapat ini agak garib. Dawud Az-Zhahiri mengatakan, “bismillah” merupakan ayat tersendiri, bukan bagian dari surat. Ini merupakan riwayat Ahmad bin Hanbal. Abu Bakar Ar-Razi dari Abul Hasal Al-Karkhi (dua pemuka mazhab Hanafi) meriwayatkan hal demikian.


Soal Pelafalan Bismillah, Lantang/Jahr atau Perlahan/Sir?


Terkait pelafalan bismillah secara lantang/jahr atau perlahan/sirr, ulama berbeda pendapat. Orang yang berpendapat bahwa “bismillah” bukan bagian dari Surat Al-Fatihah membacanya secara perlahan. Demikian juga orang yang berpendapat bahwa “bismillah” adalah ayat dari awal Surat Al-Fatihah.


Adapun ulama yang mengatakan bahwa “bismillah” sebagai ayat di tiap awal surat berbeda pendapat. Imam As-Syafi’I berpendapat bahwa “bismillah” dibaca jahar bersama Al-Fatihah dan surat lainnya. Ini pandangan sekelompok sahabat, tabi’in, ulama salaf dan ulama muata’akhirin.


Generasi sahabat yang membaca “bismillah” secara jahr adalah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Muawiyah sebagaimana dihikayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dan Al-Baihaqi dari Umar dan Ali. Al-Khathib juga mengutip dari empat khulafaur rasyidin. Tetapi riwayat ini garib.


Generasi tabi’in yang membaca “bismillah” secara jahr adalah Said bin Jubair, Ikrimah, Abu Qilabah, Az-Zuhri, Ali bin Husein, putra Ali (Muhammad), Said bin Musayyab, Atha, Thawus, Mujahid, Salim, Muhammad bin Ka’ab Al-Qurazhi, Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm, Abu Wa’il, Ibnu Sirin, Muhammad bin Al-Munkadir, Ali bin Abdullah bin Abbas, putra Ali (Muhammad), Nafi’ (budak Ibnu Umar), Zaid bin Aslam, Umar bin Abdul Aziz, Al-Azraq bin Qais, Habib bin Abi Tsabit, Abus Sya’tsa’, Makhul, Abdullah bin Ma‘qil bin Muqarrin. Al-Baihaqi menambahkan Abdullah bin Shafwan, Muhammad bin Al-Hanafiyyah. Ibnu Abdul Barr menambahkan Amr bin Dinar.

 
Argumentasi yang diajukan adalah bahwa “bismillah” merupakan bagian dari Al-Fatihah sehingga harus dibaca jahr sebagaimana ayat lainnya. An-Nasai, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa ia shalat dengan membaca “bismillah” secara jahr. Setelah selesai, Abu Hurairah RA berkata, “Aku mencontohkan secara persis kepada kalian cara shalat Rasulullah.” Ad-Daruquthni, Al-Khatib, Al-Baihaqi, dan lainnya menshahihkan riwayat ini.


Abu Dawud dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW membuka shalatnya dengan “bismillahir rahmanir rahim.” Al-Hakim meriwayatkannya dari Ibnu Abbas, Rasulullah membaca “bismillahir rahmanir rahim” secara jahr. Ia berkata, “Ini shahih.”


Dalam shahih Bukhari dari Anas bin Malik, Imam As-Syafi’i dan Al-Hakim juga meriwayatkan dari Anas bahwa sahabat Muawiyah melakukan shalat di Madinah tanpa mengucapkan “bismillah”. Kalangan muhajirin yang hadir ketika itu mengingkarinya. Tetapi ketika Muawiyah melakukan shalat kedua kalinya, ia membaca “bismillah.” (Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’anil Azhim, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 11).


Ulama berbeda pendapat perihal cara pelafalan bismillah dalam pelaksanaan shalat. Sebagian ulama berpendapat bahwa “bismillah” dilafalkan secara perlahan/sirr. Pandangan mendapatkan riwayat dari khulafaur rasyidin, Abdullah bin Mughaffal, sekelompok ulama salaf dari kalangan tabi’in dan sepeninggalnya dari kalangan muta’akhirin. Ini menjadi pandangan mazhab Abu Hanifah, Sufyan At-Tsauri, dan Ahmad bin Hanbal.


Menurut Imam Malik, “bismillah” tidak dibaca sepenuhnya lantang/jahar atau perlahan/sirr. Ulama Malikiyah berdalil dengan hadits riwayat Muslim dari Aisyah RA, “Rasulullah membuka shalatnya dengan takbir dan bacaan ‘alhamdulillahi rabbil alamin,’” dan hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik, “Aku ikut shalat di belakang Rasulullah SAW, Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Mereka mengawali shalat dengan bacaan ‘alhamdulillahi rabbil alamin.’”


Menurut riwayat Muslim, mereka tidak menyebutkan “bismillahir rahmanir rahim” di awal dan di akhir bacaan. Demikian juga diriwayatkan di beberapa kitab sunan dari Abdullah bin Mughaffal RA. Semua riwayat ini menjadi sumber pegangan imam mazhab perihal ini. Pandangan ini lebih mendekati kebenaran karena mereka sepakat (ijmak) atas keabsahan shalat orang yang membaca bismillah baik secara lantang (jahar) maupun perlahan (sirr). (Ibnu Katsir, Tasirul Qur’anil Azhim, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz I, halaman 11).


Kenapa Basmalah Tidak di Awal Surat At-Taubah?

 

Syekh Wahbah Az-Zuhayli dalam tafsirnya Al-Wasith mencoba menjelaskan mengapa “bismillahir rahmanir rahim” tidak mengawali Surat At-Taubah sebagaimana pada surat-surat lainnya. Menurutnya, Surat At-Taubah berisi peperangan dan jihad sebuah pembicaraan yang tidak layak dengan semangat kasih sayang yang terkandung dalam “bismillahir rahmanir rahim.”


ثم يقرأ الإنسان البسملة بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ (1) وهي آية فاصلة بين السّور القرآنية، ونزلت مع كل سورة كما ورد عن ابن عمر رضي اللّه عنهما، ولم توضع في أول سورة التّوبة (براءة) بأمر الوحي لأن هذه السورة نزلت في الحرب والجهاد والبراءة من المشركين بعد غزوة تبوك


Artinya, “Seseorang kemudian membaca ‘Bismillahir rahmanir rahim.’ Bismillah merupakan ayat pemisah antarsurat dalam Al-Qur’an. Bismillah turun bersama setiap surat sebagaimana riwayat dari Ibnu Umar RA kecuali pada Surat At-Taubah (Bara’ah) berdsarkan perintah wahyu. Pasalnya, Surat At-Taubah turun mengenai peperangan, jihad, dan pelepasan diri dari orang-orang musyrik setelah perang Tabuk,” (Syekh Wahbah Az-Zuhayli, At-Tafsirul Wasith, [Beirut, Darul Fikr: 1422 H], cetakan pertama).


Bismillah yang Menentukan Kehalalan Daging Hewan Sembelihan?


Lafal “Bismillah” dalam kasus penyembelihan hewan menjadi penting. Bacaan “bismillahir rahmanir rahim” yang terlihat tampak ringan bagi kalangan ulama menjadi persoalan dalam penentuan halal dan haram daging hewan sembelihan.


Ulama berbeda pendapat perihal kehalalan hewan yang disembelih berkaitan dengan pembacaan “bismillah.” Mayoritas ulama berpendapat bahwa daging hewan yang disembelih tanpa dibacakan “bismillah” tetap halal untuk dimakan dengan dalil Surat Al-Maidah ayat 3 dan beberapa hadits. Bahkan sembelihan ahli kitab sendiri yang umumnya tidak membaca “bismillah” tetap halal berdasar Surat Al-Maidah ayat 5. (As-Syarbini, tanpa tahun: [juz IV] 272).


Mazhab Syafi’i menyatakan bahwa pelafalan “bismillah” saat penyembelihan bersifat sunnah muakkad, bukan wajib. Tetapi jika ditinggal secara sengaja, maka hukumnya makruh. Sedangkan mazhab Hanafi mewajibkan pembacaan “bismillah” dalam penyembelihan sehingga hewan yang disembelih tanpa membaca “bismillah” haram dimakan dengan dalil Surat Al-An’an ayat 121. Wallahu a’lam. []

 

Sumber: NU Online

Tidak ada komentar:

Posting Komentar