Tragedi Neoholocaust
Oleh: Haedar Nashir
Masih ingat Adolf Hitler? Sejarah dunia melahirkan tragedi paling
kelam dan mengerikan akibat ulah brutal Sang Fuhrer dari Jerman itu. Hitler-lah
sosok paling berperan dalam mengobarkan Perang Dunia Kedua sebagai prahara abad
modern.
Hitler berambisi besar membangun orde baru hegemoni Jerman
yang absolut di Eropa serta menjadi kekuatan adidaya di jagat raya. Dia dirikan
Nazi (Nasional Sosialisme atau Nationalsozialismus), partai politik
totaliter berhaluan ekstrem kanan dan rasisme. Inilah mesin partai politik
paling ganas, yang menjadi alat kekuasaan mengerikan saat itu.
Kanselir Jerman 1933-1945 ini sosok psikopat ultrarasialis yang
menggelorakan kredo Jerman “Uber Alles”. Tentang kedigdayaan kaum
Jermanik sebagai bangsa Arya terunggul dibanding bangsa non-Arya yang dianggapnya
rendah dan musti dimusnahkan. Nazi menjadi kekuatan raksasa yang menyebar teror
dan kekejaman masif berbuah genosida.
Kekejaman Hitler dan Nazi telah mengakibatkan kematian sekitar 50
juta orang selama Perang Dunia II. Di dalam tragedi itu 6 juta kaum Yahudi dan
5 juta etnis "non-Arya" mengalami pmbantaian dan pemusnahan
sistematis. Tragedi sejarah ini dikenal dengan Holocaust, yakni bencana
pembunuhan dan pemusnahan massal di belahan Eropa yang meninggalkan trauma
sejarah hingga saat ini.
Dalam tragedi Holocaust (bermakna “Seluruhnya terbakar”), jutaan
orang sebagian besar umat Yahudi, dibunuh secara kejam oleh pasukan Nazi yang
ultrakejam. Dalam peristiwa ini, termasuk ladang pembantaian di kamp
konsentrasi Auschwitz pada musim panas 1944 di kawasan barat daya Krakow
Polandia, yang di kemudian hari dikenal sebagai tragedi kemanusiaan paling
mengerikan dalam sejarah dunia modern.
Hasrat angkara kolonial
Warga dunia semestinya menjerit dan berteriak keras agar
Holocauts, Auschwitz, Nazi, dan Hitler baru tidak dihadirkan dan direproduksi
di abad ke-21 ini. Jangan ada Hitler baru, Nazi baru, dan Holocauts baru
apapun bentuknya, siapapun aktornya, dan di negeri manapun terjadinya. Tutuplah
lembar sejarah hitam itu agar tidak menjadi tragedi baru yang lebih nestapa.
Samar maupun terbuka tindakan-tindakan agresi ala Zionis Israel
plus ambisi politik ultraradikal Presiden AS Donald J Trump, jika tak
terbendung muaranya akan mendaur-ulang tragedi Perang Dunia II yang mengerikan.
Akankah dianggap wajar perilaku ugal-ugalan, gegabah, dan sewenang-wenang para
petinggi Israel didukung AS dalam banyak peristiwa di jalur Gaza dan Palestina
demi mengukuhkan hegemoni di Jerusalem dan Timur Tengah?
Perserikatan Bangsa-Bangsa jangan membiarkan tragedi demi tragedi
itu terus terulang. Termasuk penetapan Jerusalem sebagai ibukota Israel oleh
Trump dan Kongres AS sebagai kotak pandora menyumbat damai dan memicu bara
konflik baru di negeri para Nabi itu. Tebuslah kesalahan tahun 1947 ketika PBB
menyetujui dua negara yakni Israel dan Palestina di kawasan Laut Tengah dan
Laut Mati itu sebagai awal bencana bangsa Palestina. Negara Israel makin kokoh,
sementara Palestina terus terpinggirkan hingga suatu saat mungkin dimusnahkan
di muka bumi.
Pertaruhan politik ugal-ugalan itu bukan sekadar nasib Jerusalem
dan kawasan penuh gejolak di Timur Tengah yang telah berlangsung puluhan tahun
itu. Tetapi sekaligus pertaruhan jiwa jutaan manusia, peradamaian, kemanusiaan,
dan peradaban umat manusia. Bara perang terus mengancam kawasan Timur Tengah
itu. Semestinya bangsa Yahudi sendiri belajar dari sejarah kelam mereka, darah
dibayar darah, pengusiran dibalas pengusiran, dan agresi dengan agresi itu apa
untungnya? Memang salahnya bangsa Palestina apa hingga harus menanggung beban
derita yang mahaberat.
Jika Holocauts, Auschwitz, Nazi, dan Hitler bagi bangsa Yahudi
menjadi hantu dendam kolektif maka jangan lampiaskan ke bangsa Palestina yang
tak berdosa. Juga tidak pada kaum Muslimin dan Kristiani yang hidup di kawasan
Jerusalam berabad-abad lamanya bersama bangsa Yahudi hingga kawasan bersejarah
itu dikenal sebagai kota tiga agama. Kenapa Palestina dan Timur Tengah harus
menanggung beban sejarah padahal bangsa Yahudi yang terusir dan kini menempati
kawasan Zionis Israel itu menderita karena ulah Naszi dan Hitler di Jerman
sana?
Negara-negara di Eropa perlu ikut bertanggungjawab atas tragedi
Holocauts, Auschwitz, Nazi, dan Hitler agar tidak dicopy-paste ke kawasan dan benua
lain, termasuk di bumi Palestina oleh Zionis Israel dan sekutu pendukungnya.
Tidak-kah cukup negeri-negeri Barat menginvasi, mengagresi, dan menduduki
negara atau wilayah yang bukan haknya terhadap bangsa Asia-Afrika dan Amerika
Latin pada masa kolonialisme ratusan silam. Termasuk bangsa Indonesia yang
dijajah ratusan tahun oleh Belanda berseling Portugis dan Jepang di era
penjajahan yang penuh nestapa.
Amerika Serikat juga semestinya belajar pada sejarah kemerdekaan
mereka dari belenggu Inggris. Para pemimpin dan warga negara AS, lebih khusus
Donald Trump dan anggota Kongres, mestinya merasakan betapa menderitanya
menjadi bangsa dan negeri koloni. Presiden AS dan anggota Kongrs AS bersama
seluruh rakyatnya semestinya empati atas nestapa bangsa Palestina yang puluhan
tahun terus diagresi Israel, bukan malah terus mendukung negara Zionis itu
secara membabi buta. Bangsa Palstina itu untuk mempertahankan hidup di wilayah
miliknya sendiri sungguh tak mudah, apalagi harus melawan keganasan Israel
dengan dukungan AS yang superperkasa.
Kenapa anggota Kongres AS dan Trump masih mau bereksperimen dengan
menentukan secara ilegal dan unilateral Jerusalem sebagai ibukota Israel, yang
konsekuensinya bukan hanya menutup jalan damai tetapi membuka pandora konflik
masif. Apakah tidak permah merasakan betapa malangnya menjadi koloni dari
negara lain? Di mana sebenarnya denyut nadi jiwa demokrasi, hak asasi manusia,
dan prinsip-prinsip kemerdekaan bangsa modern yang selama ini dijunjungtinggi
di negeri Paman Sam itu? Untuk diri sendiri atau hanya untuk orang lain?
Inggris dan AS serta sebagian negara Eropa lainnya memang telah
berbuat kesalahan fatal ketika mendukung dan menjadikan negara Israel di
kawasan Palestina tahun 1948. Padahal khususnya Inggris juga telah
berpengalaman dalam melakukan ekspansi penjajahan di kawasan Asia-Afrika. Tidak
cukupkah hasrat kolonial itu untuk segera diakhiri demi masa depan peradaban
umat manusia sejagat yang damai, demokratis, adil, makmur, bernartabat, dan
berdaulat sebagaimana menjadi jargon hidup negara-negara Barat yang konon pro
hak azasi kemanusiaan universal di era modern!
Akhir dunia modern
Kaum Yahudi tentu sangat menderita akibat Holocauts. Selain itu
mereka yang terusir dari Eropa harus mencari tempat teraman hingga sayangnya
sampai harus ke tanah Palestina yang kemudian mendirikan negara Israel secara
sepihak. Mereka merasakan derita akibat ulah Hitler dan Nazi yang biadab. Namun
jika bangsa Israel atau Yahudi Israel mau belajar “passing over” untuk
merasakan derita yang sama, maka semestinya mereka tidak menimpakan penderitaan
itu ke bangsa Palestina.
Kaum Yahudi dalam klaimnya merasa berhak hidup di tanah Palestina
sebagai keturunan bangsa Yahuda dengan “tanah yang dijanjikan Tuhan”. Namun
kenapa tidak memilih jalan hidup damai dengan bangsa Palestina dan menghentikan
agrsi dan ekspansi yang tak berkesudahan? Zionis Israel bahkan terus melakukan
pembantaian dan pemusnahan terhadap rakyat Palestina, sehingga menciptakan
Holocauts baru atau “Neo-Holocaust” yang sama nestapanya. Karena Israel plus
dukungan AS dan sekutu lainnya kuat segalanya, tentu jangankan mengagresi,
bahkan memusnahkan Palestina pun bisa mereka lakukan. Tapi untuk apa? Apakah
ingin meniru Nazi Jerman yang membantai keturunan mereka di masa lalu!
Inggris juga tidak boleh kepas tangan. Dengan kuasa “Mandat
Britania atas Palestina” negeri Ratu Elisabeth ini telah dengan sepihak
mendirikan negara Israel pada 14 Mei 1948. Mandat Inggris itu mandat kolonial,
bukan sesuatu yang luhur. Kolonialisme jangan didaur-ulang dan diabadikan.
Apakah Inggris tidak meras bersalah atas segala kolonialismenya di India,
Malaysia, Afrika Selatan, dan negara-negara Sahara dan Timur Tengah di masa
lalu? Maka, hentikan keganasan Israel dan jangan terus mendukung, karena
korbannya justru Palestina yang tak bersalah. Cegah pula Trump agar membatalkan
keputusannya yang sewenang-wenang. Cukuplah Holocauts terjadi sekali dalam
sejarah, jangan lahir Holocauts baru.
Holocauts dan Auschwitz sebagai proyek brutal Nazi dan Hitler bagi
pemikir posmodern seperti Jean-Francois Lyotard adalah wujud kegagalan proyek
modernitas, yang menunjukkan dunia yang “irasional” atau nir-rasional.
“Kejahatan nasional-sosialistik yang sangat nyata itu ternyata sekali-kali
tidaklah rasional”, ujar Lyotard. Bahkan, setiap ideologi totaliter di
manapun selalu mengandung kontradiksi yang membawa kehancuran. Anehnya,
Inggris, Amerika Serikat, dan negara-negara sekutu Israel tidak mau belajar
pada sejarah kelam Eropa yang antara lain melahirkan Holocauts itu.
Pembantaian dan pemusnahan jutaan manusia itu sungguh mengerikan
karena dilakukan secara terprogram dan sistematis oleh pemimpin psikopat yang
otaknya penuh dengan segala ambisi kacau dan melampaui batas. Menurut sejarawan
Jerman, Eberhard Jäckel, belum pernah ada sebelumnya bahwa sebuah negara
dengan pemimpin yang sepenuhnya bertanggung jawab untuk memutuskan dan
mengumumkan pembunuhan terhadap sekelompok manusia tertentu, termasuk wanita,
anak-anak, dan bayi. Semestinya di era modern abad ke-21 jangan menciptakan
area perang baru dan tragedi Holocauts di bumi Palestina serta kawasan lain.
Maka menjadi sangat ironis jika di era abad ke-21 saat ini masih
bercokol manusia-manusia ala Hitler dan negara gaya Nazi yang haus tanah,
kuasa, dan darah. Ironisnya, dunia posmodern saat ini justru melahirkan
perangai haus agresi dan invasi yang berdampak pada pembantaian dan pemusnahan
bangsa lain sebagaimana peoyek ambisiusnya para pemimpin Zionis Israel seperti
Simon Perez, Golda Mier, Netanyahu, yang memperoleh dukungan politik
Donald Trump sang Presiden AS saat ini. Semua warga dunia wajib menolak nafsu
kolonialisme baru dan Holocauts baru (Neoholocaust) di jazirah Palestina dan di
bumi manusia mana pun. Perserikatan Bangsa-Bangsa jangan terdikte oleh negara
adidaya itu demi tegaknya perdamaian dunia dan menghentikan neokolonialisme dan
Holocauts baru.
Sunggyh, Neo-Holocaust dan Neo-Auschwitz bersama Neo-Nazi
dan Neo-Hitler seakan menjelma dalam beragam petualangan politik yang
menghancurkan bukan saja terhadap sebuah bangsa lemah seperti rakyat Palestina.
Kekejaman dan agresi pemusnahan yang buadab itu sekaligus mengancam masa
peradaban umat manusia yang semestinya hidup damai, aman, merdeka, dan
berdaulat.
Nalar rasional serendah apapun sulit mempercayai bahwa di era
mutakhir masih ada ideologi, alam pikiran, dan sosok-sosok yang menebar nafsu
angkara kolonial dan tragedi Holocauts yang memusnahkan kehidupan. Di sinilah
akhir dari nalar dan peradaban modern yang dibangun di atas ideologi
humanisme-sekuler dan proyek raksasa liberalisme, karena yang menyeruak ialah
hasrat merah menyala untuk menginvasi dan memusnahkan kehidupan. Cukuplah
nestapa kemanusiaan modern berhenti pada tragedi Holocauts 1933-1945, jangan
direproduki di abad ini dan ke depan oleh para Hitler dan kekuatan Nazi baru
dengan Tragedi Neo-Holocauts di jantung bumi ini! []
REPUBLIKA, 24 Desember 2017
Haedar Nashir ; Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
periode 2015-2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar