GP Ansor dari Pemuda
Kebangkitan Tanah Air (I)
Sebelum Gerakan
Pemuda Ansor berdiri pada 1934, belasan tahun sebelumnya telah terjadi
rangkaian panjang gerakan pemuda dari kalangan pesantren. Gerakan tersebut sama
sebangun dengan cikal-bakal Nahdlatul Ulama yang dinyatakan berdiri di Surabaya
pada 1926.
Sebagaimana ditulis
Choirul Anam dalam bukunya Gerak Langkah Pemuda Ansor, Seputar Sejarah
Kelahiran, ia menarik berdirinya Ansor dari jejak panjang organisasi-organisasi
yang diinisiasi KH Abdul Wahab Hasbullah.
Pada tahun 1916, KH
Wahab mendirikan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air). Ia tidak sendirian,
ada KH Mas Mansur dan H Abdul Kahar, seorang saudagar waktu itu, dan seorang
arsitek terkemuka, Soejono. Tokoh pergerakan saat itu, HOS Cokaroaminoto
juga turut membantu.
Organisasi yang dilahirkan
di Surabaya ini menitikberatkan kegiatannya pada peningkatan mutu pendidikan
Islam, pembentukan kader, dan pembinaan mubaligh atau juru dakwah.
Dua tahun kemudian KH
Wahab menginisiasi mendirikan Tashwirul Afkar (Bertukar Pikiran kadang diterjemahkan
kebangkitan pemikiran). Perbedaan dengan organisasi sebelumnya adalah
organisasi ini melibatkan pengasuh pondok pesantren, KH Dahlan Achyad.
Sejak berdirinya,
organisasi ini menginduk kepada organiasi lain. Nama yang ditulis di papan
pengenal adalah Suryo Sumirat Afdeeling Tashwirul Afkar. Hal ini adalah
cara memudahkan jalannya organisasi karena pada waktu itu mendapatkan legalitas
tidak mudah. Hal itu berlangsung hingga 1929.
Setelah memiliki
cukup anak muda yang mengikuti dua organisasi itu, tumbuh keinginan untuk
menyatukan keduanya dalam satu wadah. Sebagaimana diketahui, pada waktu itu,
secara nasional, di daerah-daerah tumbuh organisasi pemuda semisal Jong Ambon,
Jong Celebes, Jong Java, dan lainnya. Pemuda di Nahdlatul Wathan dan Tashwirul
Afkar pun memiliki inisiatif yang sama.
Namun, ternyata tidak
mudah karena terjadi perbedaan pendapat antara Kiai Wahab dan Mas Mansur.
Keduanya ternyata memiliki pendukung masing-masing. Kiai Wahab menginginkan
nama organasasi yang akan dibentuk itu bernama da’watus Syubban, sementara Mas
Mansur menginginkan Mardi Santoso. Keduanya tidak membuahkan sepakat sampai
akhirnya Mas Mansur memisahkan diri dan bergabung dengan Muhammadiyah. Jabatan
Kepala Guru Nahdlatul Wathan akhirnya diserahkan kepada kiai muda, KH Mas Alwi
Abdul Aziz.
Pada tahun 1924,
pemuda pendukung Kiai Wahab membentuk organisasi bernama Syubbanul Wathan
(Pemuda Tanah Air). Organisasi itu dipimpin KH Abdullah Ubaid dari Kawatan,
Surabaya. Organisasi ini pun disambut banyak pemuda Surabaya dengan mencatatkan
diri mereka sebagai anggota.
Untuk mengembangkan
sayapnya organisasi yang beru terbentuk ini mengupayakan sayap organisasi untuk
para remaja melalui kepanduan. Hal ini pun tidak terlepas dari
organisasi-organisasi lain yang juga membentuk kepanduan. Syubbanul Wathan pun
mendirikan kepanduan bernama Ahlul Wathan. []
(Abdullah Alawi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar