Senin, 21 Juni 2021

(Ngaji of the Day) Rangkaian Haji Wada' Nabi Muhammad (Bagian I)

Pada bulan Dzulqa’dah tahun ke-10 H Nabi Muhammad mengumumkan bahwa dirinya akan melaksanakan ibadah haji pada tahun itu. Beliau menyeru agar umat Muslim ikut serta dalam rombongannya. Sehingga mereka tahu bagaimana tata cara berhaji yang benar, sesuai dengan yang disyariatkan kepada Nabi Muhammad.

 

Seluruh umat Muslim tentu sangat antusias menyambut seruan Nabi Muhammad tersebut. Puluhan bahkan ratusan ribu umat Islam datang dari seluruh penjuru wilayah dan bergabung dengan Nabi untuk berhaji ke Makkah. Mereka gegap gempita memenuhi panggilan Allah.

 

Sebelum berangkat ke Makkah, Nabi Muhammad menyampaikan manasik berhaji kepada para sahabatnya di Masjid Nabawi pada Sabtu, 25 Dzulqa’dah 10 H, setelah Shalat Dzuhur. Usai pembekalan, Nabi Muhammad dan rombongan berangkat ke Makkah. Mereka tiba di Dzy al-Hulaifah –miqat bagi penduduk Madinah yang kini populer dengan nama Bir Ali- pada waktu Shalat Ashar dan menginap semalam di sana.

 

Keesokan harinya (26 Dzulqa’dah), setelah Shalat Dzuhur, Nabi Muhammad dan diikuti para sahabatnya mulai niat berihram. Beliau mandi sunat ihram. Mengenakan dua helai pakaian ihram. Mengoleskan wangi-wangian ke tubuhnya. Dan memakai semacam minyak rambut agar tidak rontok. Di sini ulama berbeda pendapat, apakah Nabi Muhammad melaksanakan haji tamattu’, qiran, ataupun ifrad.

 

Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan dan sampai di Dzy Thuwa, sebuah wilayah yang terletak di pinggir Kota Makkah. Di sana, Nabi dan rombongan menginap pada malah Ahad atau Sabtu malam, 4 Dzulhijjah. Besoknya, Nabi Muhammad mandi dan memasuki wilayah Makkah. Sambil menunggangi unta kesayangannya, al-Qashwa, Nabi Muhammad melantunkan talbiyah di sepanjang perjalanan menuju Ka’bah. Para sahabat mengikutinya.

 

Ketika melihat Ka’bah, Nabi Muhammad langsung berdoa: Ya Allah Engkau adalah Yang Maha Damai, dari sisi-Mu kedamaian, maka hidupkanlah kami, wahai Tuhan kami, dalam kedamaian. Ya Allah tambahlah buat Ka’bah ini kemuliaan, keagungan, penghormatan, wibawa, dan kebajikan. Anugerahilah yang berhaji atau berumrah kehormatan, kemuliaan, pengagungan, dan kebajikan.

 

Tanpa shalat tahiyatal masjid, beliau kemudian langsung tawaf mengelilingi Ka’bah tujuh kali dan shalat dua rakaat di Maqam Ibrahim. Setelah itu, Nabi menuju ke Bukit Shafa dan Marwa untuk melaksanakan sai (lari-lari kecil).

 

Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad Dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Nabi Muhammad berada di Makkah selama empat hari, dari Ahad sampai Rabu, 4-7 Dzulhijjah.

 

Pada Kamis, 8 Dzulhijjah Nabi Muhammad menuju ke Mina –sekitar 7 kilometer dari Masjidil Haram- dan menginap di sana. Pagi harinya (Jumat, 9 Dzulhijjah), beliau bertolak ke Arafah –sebuah wilayah yang berjarak 22 kilometer dari Masjidil Haram. Ketika matahari tergelincir, Nabi bergerak ke Bathn al-Wady atau Urnah untuk menyampaikan khutbah yang sarat dengan prinsip-prinsip ajaran Islam, hak asasi manusia, kewajiban membela kaum lemah –khususnya perempuan, adat kebiasaan jahiliyah, dan tema lainnya.

 

Perlu diketahui, Bathn al-Wady atau Urnah adalah sebuah wilayah di perbatasan Arafah dan bukan merupakan tempat wukuf. Oleh karena itu, setelah berkhutbah Nabi Muhammad kembali ke tendanya di Arafah –tentu setelah beliau melaksanakan Shalat Dzuhur dan Ashar dengan cara menjamaknya.

 

Nabi merapalkan banyak doa ketika wukuf di Arafah ini, terutama doa untuk umat Islam. Pada saat wukuf pula, turun wahyu QS al-Maidah ayat 3: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agama kamu, dan telah Kucukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.

 

Masih pada hari yang sama, Jumat, 9 Dzulhijjah usai waktu Maghrib, Nabi Muhammad dibonceng Usamah bin Zaid berangkat ke Muzdalifah. Di sana Nabi Muhammad menjama’ Shalat Maghrib dan Isyak.

 

Esok harinya (Sabtu, 10 Dzulhijjah) setelah mengerjakan Shalat Subuh, Nabi bertolak ke al-Masy’ar al-Haram dan berdoa serta bertalbiyah di sana. Beliau kemudian dibonceng al-Fadhl bin al-Abbas berangkat ke Mina ketika matahari akan terbit. Selama perjalanan itu, Nabi meminta al-Fadhl untuk mengumpulkan tujuh butir kerikil untuk digunakan Jumrah Aqabah.

 

Usai melaksanakan Jumrah, Nabi Muhammad bergerak ke tempat penyembelihan kurban. Beliau menyembelih 63 ekor unta –dari total 100 unta yang dibawa dari Madinah. Beliau lalu memakan sebagian daging unta yang disembelihnya itu. Pada saat itu, beliau mengingatkan bahwa umat Islam bisa menyembelih kurban mereka dimana saja sepanjang di wilayah Mina, tidak harus ditempat beliau menyembelih. []

 

(A Muchlishon Rochmat)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar