Senin, 21 Juni 2021

Buya Syafii: Oh, Indonesia Bagian Timur, Nasibmu!

Oh, Indonesia Bagian Timur, Nasibmu!

Oleh: Ahmad Syafii Maarif

 

Wilayah yang akan dibicarakan di sini sebagai Indonesia bagian timur adalah Papua dan Nusa Tenggara Timur (NTT), sekalipun Sulawesi dan Maluku juga termasuk kawasan itu. Matahari lebih dulu terbit di sana.

Dengan demikian, wilayah itu sudah terang benderang, sementara Indonesia bagian barat masih gelap gulita. Dari sisi pancaran cahaya, itulah yang terjadi. Namun, dari pembangunan ekonomi, ampun, sebagian besar kawasan itu masih kelam.

 

Lautan kemiskinan masih sangat mencekam. Tulisan ini pada umumnya, didasarkan data Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, sebagaimana disampaikan Budie Arie Setiadi, wakil menteri terkait. (lih CNN Indonesia, 12 Juni 2020).

 

Terang sinar matahari tidak berbanding lurus dengan keadaan sosial ekonomi, yang masih ringkih dan buram untuk Indonesia bagian timur.

 

Teman Kristen saya, Yasin Wijaya dari Yayasan Barokah Surabaya yang sedang berada di NTT, pada 25 Mei 2021, kirim WA kepada saya: “Kami sedang di NTT membangun ratusan huntara (hunian sementara). Kemiskinan yang ada di sana luar biasa.”

 

Yayasan ini didukung oleh sedikit pengusaha yang bergerak di Jawa Timur. Saya katakan “sedikit”, karena menurut Bung Yasin di antara puluhan pengusaha di Jawa Timur baru sedikit jumlahnya yang tergerak untuk berbagi rezeki.

 

Inilah angka-angka resmi tentang situasi sosial ekonomi saudara kita sebangsa di kawasan, yang belum bernasib baik itu. Data terbaru, desa tertinggal masih ada sekitar 21.173 (28,2 persen) dengan perincian 17.633 desa tertinggal dan 3.540 sangat tertinggal.

 

Total desa di seluruh Indonesia ada 74.953. Desa yang belum punya listrik ada 433 dan sebanyak 13.577 belum memiliki akses internet. Dijelaskan, 84 persen dari daerah tertinggal itu terdapat di Indonesia bagian timur.

 

Angka-angka ini langsung membeberkan betapa parahnya ketimpangan pembangunan ekonomi antara Indonesia bagian tengah dan bagian barat jika disandingkan bagian timur setelah hampir 76 tahun usia kemerdekaan kita.

 

Sebenarnya, jika strategi pemerataan pembangunan sejak awal bersifat adil, Indonesia bagian timur tidak perlu menjerit panjang seperti sekarang ini. Ketimpangan ini diperparah gurita korupsi, yang sebagian besar terpusat di Indonesia bagian barat.

 

Nasib Indonesia bagian timur semakin terabaikan, sesuatu yang dapat merapuhkan ikatan integrasi nasional. Sudah berulang-ulang saya tulis di ruang ini, Indonesia sebagai bangsa masih dalam proses menjadi, belum kokoh betul.

 

Karena itu, pemerataan pembangunan nasional adalah salah satu tali ikat kuat bagi keutuhan bangsa dan negara ini ke depan. Untuk lebih mengenal peta kawasan Indonesia bagian timur, informasi berikut ini akan menolong.

 

Jumlah penduduk NTT dan Papua, September 2020 pada angka 9.630.000 (NTT 5.330.000, Papua 4.300.000), yaitu sekitar 3,5 persen dari seluruh penduduk Indonesia, 272 juta jiwa.

 

Kecil memang, tetapi dalam perspektif Pancasila, semua kawasan itu harus mendapat perhatian sama dan adil. Di kawasan ini terdapat ratusan pulau, ada yang berpenghuni, ada pula yang kosong. Jumlah kabupaten di Provinsi NTT ada 21 dan satu Kota Kupang. Sedangkan Pulau Papua punya dua provinsi: Papua dengan 28 kabupaten plus satu Kota Jayapura dan provinsi baru Papua Barat.

 

Panorama alam dan pusat wisata di kawasan ini sangat indah. Kepulauan Raja Ampat di Papua Barat serta Pulau Komodo dan Labuan Bajo di NTT hanyalah sekelumit kecil dari puluhan pusat wisata yang lain di kawasan terbelakang itu.

 

Potensi untuk dikembangkan terbuka lebar sehingga kemiskinan di daerah itu, dapat dikurangi sejauh mungkin berkat industri wisata yang semakin maju dan berkembang. Dan jangan lupa, penyanyi papan atas nasional banyak berasal dari bumi NTT.

 

Sungguh, Indonesia ini negeri elok yang sebagian kawasannya dibiarkan terlunta karena pembangunan selama ini, terlalu terpusat di Indonesia bagian barat, sesuatu yang berlawanan dengan filosofi integrasi nasional.

 

Jangan lupa, bukankah di Indonesia bagian timur para pejuang kemerdekaan diasingkan Belanda? Boven Digul yang dikenal sebagai neraka dunia, di sanalah Iwa Kusuma Sumantri, Mohammad Hatta, St Sjahrir, dan puluhan yang lain dikerangkeng penguasa kolonial.

 

Kemudian Hatta dan Sjahrir dipindahkan ke Banda Neira, sedangkan Soekarno ditempatkan sejak awal di Endeh. Dengan demikian, bumi Indonesia bagian timur amat berjasa dan perlu mendapat perhatian lebih serius oleh Jakarta.   

 

Pemerintah Jokowi dengan Perpres No 63 Tahun 2020 (lihat Resonansi, 25 Mei 2021) telah mendata 62 kabupaten tertinggal di seluruh Indonesia, yang perlu segera mendapat perhatian sampai 2024. Terbanyak berada di NTT dan Papua.

 

Perpres ini perlu sungguh-sungguh dilaksanakan agar tidak hanya tinggal catatan sejarah tanpa daya berarti, khususnya untuk mempercepat pembangunan Indonesia bagian timur.

 

Kita semua berharap, musibah Covid-19 yang sangat berdampak buruk bagi laju pembangunan bangsa, segera berlalu. Terlalu berat beban yang ditanggung negara dan masyarakat luas, apalagi di kawasan Indonesia bagian timur.

 

Mohon diingat selalu: kokohnya integrasi nasional merupakan sesuatu yang mutlak bagi hari depan bangsa ribuan pulau ini! []

 

REPUBLIKA, 08 Juni 2021

Tidak ada komentar:

Posting Komentar