Kamis, 16 April 2015

Kang Sobary: Rahwana Mencaplok Tembakau



Rahwana Mencaplok Tembakau
Oleh: Mohamad Sobary

Dalam epos Ramayana  digambarkan dengan  jelas bahwa perang besar  menjadi sarana membasmi sifat  angkara murka di bumi. 

Rahwana, atau Dasamuka,  merupakan wujud, tapi juga  simbol watak angkara itu.  Dia menjadi raja di Alengka  dengan bengis. Ketika menculik  Dewi Shinta, istri Batara Rama,  banyak pihak di dalam istana  yang mengingatkan agar Shinta  dikembalikan baik-baik dan  sebagai gantinya hidup bersahabat  dengan Raja Rama. 

Adiknya sendiri, Pangeran  Gunawan Wibisana, membujuk  dan meyakinkan bahwa Rama  tidak akan marah. Sebaliknya,  Rama pasti bersedia menjalin  persahabatan dengan damai  karena Rama itu titisan Dewa  Wisnu, pemelihara alam semesta  yang penuh sifat damai. 

Tapi, bujukan ini bukan  hanya tak didengar, Rahwana  marah besar. Adiknya itu bahkan  dihajar sampai pingsan di  sidang agung. Lama dia tidak  siuman. Rahwana tak mau  melihat adiknya, yang dianggap  pengecut, pengkhianat, dan  membela musuh, sambil memperlemah  jiwa abangnya, yang  juga rajanya sendiri. Tubuh itu  dibuang ke laut. 

Sampai di sini saja kisah  pangeran Wibisana, orang bijaksana,  yang disebut satria berjiwa  pandita, yang dibuang dari  negerinya sendiri. Selain  Wibisana, Patih Prahasta, pamannya  sendiri pula, yang tetap  mengingatkan kejahatan sang  raja demi cintanya pada negara  maupun pada sang raja sendiri.  Tapi, Rahwana tak mau mendengar  imbauan pamannya. 

Dia juga marah dan pamannya  dibentak-bentak, dianggap  pemalas, pembela Wibisana  yang licik dan tak berguna, dan  disuruh diam. Bila raja tak bertanya  lagi, lebih baik patih itu  diam. Sang patih diam dengan  rasa prihatin yang mendalam.  Kombakarna, adiknya yang  lain, yang berwujud raksasa,  lurus hatinya, dan dikenal sebagai  raksasa berjiwa brahmana,  juga dimaki-maki. Kombakarna  diam saja.

Kemudian dia menyingkir  dari percaturan dunia  politik istana.  Dia pergi bertapa  yaitu bertapa  sambil tidur  dan tak bakal  bangun kalau  tidak ada suatu  kepentingan  besar menyangkut keselamatan  negara. Dia pun  tidur tanpa terusik  sama sekali,  bagaikan sebuah  tidur abadi. 

***

Tanpa  kontrol, tanpa  imbangan suara  moral, kebijakan  Rahwana mutlak berisi kekejaman  dan segenap kekerasan  di muka bumi. Raja-raja negara  sahabat, yang dekat sudah  ditaklukkan dengan kekerasan  dan pembunuhan. Raja-raja  yang jauh letaknya dari Alengka,  cemas, khawatir, dan takut bila  suatu saat disergap dengan  kekuatan militer dari Alengka.  Perang melawan Rahwana  selalu porak-poranda.

Dia selalu  berperang di negeri orang.  Kehancuran ada di pihak negeri  yang diserang, andaikata Rahwana  kalah sekalipun. Negerinya,  seluruh rakyatnya, dan segenap  kekayaan negara, aman.  Raja kolonialis dan imperialis,  atau agresor, yang kejam ini  mengerikan sekali.  Dia menjadi simbol kekuatan  adidaya, keserakahan, dan  sikap adigang adigung adiguna  yang merasa tak punya tandingan. 

Memang tidak ada manusia,  atau raksasa, bahkan dewa,  yang bisa mengalahkannya.  Apakah dia dengan begitu tak  terkalahkan?  O, bukan. Bukan begitu.  Dewa telah menggariskan, dia  bakal kalah oleh hewan. Wujudnyakeraputih,  namanyaAnoman.  Dasamuka yang tak bisa mati  itu, jadi tak bisa dibunuh, tapi  dikalahkan Anoman dengan  akal cerdik: penjahat itu dihimpit  dua gunung.

Dengan begitu, dia sebetulnya  tak pernah mati. Ini lambang  bahwa kejahatan, juga  kejahatan besar yang memorak-  porandakan dunia, tak  pernah mati. Politik jahat selalu  muncul, sebagai simbol kebangkitan  Rahwana di dunia  modern ini.  Sekarang Rahwana mengincar  tembakau. Berbagai cara  ditempuh. Cara kemanusiaan  yang kelihatan anggun, cara  politik yang kelihatan bersahabat,  dan kemudian cara  moral keagamaan, seolah-olah  dia peduli akan urusan moral,  semua ditempuh, tapi belum  membawa hasil.

Kemudian cara  adu domba di mana-mana.  Kelihatannya strategi ini bisa  berjalan sesuai keinginannya.  Adu domba? Ya, meskipun  mungkin tak setajam itu  rumusan persoalannya. Yang  dilakukan sebenarnya ialah  menyebar duit ke mana-mana.  Ini kebijakan murah hati, yang  bisa saja disebut menggalakkan  dunia ilmu, atau mengembangkan  kehidupan ilmiah. Banyak  pihak yang siap berpartisipasi. 

Banyak pihak siap menjadi  partner Rahwana di bidang  ilmiah, atau yang kelihatannya  ilmiah ini.  Duit, dari mana pun datangnya,  bagi sebagian orang ya duit.  Duit asing ya duit. Ada kepentingan  asing di  belakangnya ya tetap  duit. Pendeknya,  duit negeri  Alengka, duit Rahwana,  juga duit.  Tak mengherankan  banyak  pihak berbondong bondong  menerima  limpahan rezeki  Alengka ini. 

Kepentingan  negeri sendiri?  Ah, persetan.  Peran  golongan  intelektual,  yang harus  membela kepentingan  yang  lemah, membela kepentingan  bangsa, yang terancam terjajah?  Tak usah dirisaukan.  Peran kaum intelektual bisa dilupakan.  Kapan lagi ada kesempatan  empuk seperti ini.  Di kalangan para penguasa,  mulai dari penguasa gede sampai  penguasa cilik, penguasa  gurem, semua dijangkau kebijakan  Alengka. Mungkin Rahwana  tak turun sendiri secara langsung. 

Dia punya aparat canggih.  Punya intel, punya ilmuwan,  punya birokrat, dan punya media.  Pendeknya, Rahwana punya  segalanya, kecuali kebaikan dan  ketulusan hidup, yang bisa  ditiru. Kalau bidang ini,  Rahwana tidak punya secuil  pun.  Rahwana merasa, dunia ini  ada di dalam genggamannya.  Tak begitu mengherankan bila  ibaratnya, kekayaan negeri  Alengka lebih dari dua pertiga  kekayaan dunia seluruhnya.  Fantastik sekali. Tapi, ini bukan  dongeng. 

***

Rahwana merasa tak terkalahkan.  Dia lupa lagi,  Anoman, kera putih, simbol kebaikan,  yang selalu mewaspadai  Rahwana, dan siap membikin  Rahwana terbirit-birit. Di mana  Rahwana muncul, dan membikin  onar di muka bumi,  Anoman muncul. Rahwana  serakah, memburu kepentingan  hidupnya sendiri, tapi sebenarnya  dia prokematian. Dia  siap bikin dunia ini hancur, asal  dia tak ikut dalam kehancuran  itu. Anoman lain. Dia hidup,  dan beramal, karena dia prokehidupan. 

Dia memelihara kehidupan  ini sendiri.  Rahwana bukan orang,  bukan individu, melainkan sebuah  lembaga. Anoman? Bisa  saja dia diwakili orang per  orang. Tapi, apa salahnya kalau  Anoman juga diwakili sebuah  lembaga, atau lembaga lembaga?  Bisa saja Anoman itu para  pembela tembakau yang lemah  dan terbatas segalanya.

Bisa juga  Anoman itu organisasi pembela  tembakau, yang kemampuannya  juga tidak luar biasa.  Anoman, mengabdi hidup,  pro kehidupan, demi kebajikan  hidup. Tanaman tembakau,  dagangan tembakau, tradisi di  balik tembakau, dan segenap  unsur kehidupan yang begitu  menyenangkan di dunia pertanian  tembakau, wajib dibela.  Tugas pembelaan itu suci.  Karena itu, harus strategis. 

Generasi Anoman harus lahir  dan dilahirkan kembali. Terus menerus  tanpa henti. Terus  menerus hadir, buat menghadapi  Rahwana, agar tembakau  kita selamat. Rencana  dan langkah-langkah Rahwana  boleh hadir. Tapi, Anoman bakal  membungkamnya. []

Koran SINDO, 13 April 2015
Mohamad  Sobary, Esais, Anggota Pengurus  Masyarakat Bangga Produk  Indonesia, untuk Advokasi, Mediasi,  dan Promosi. Penggemar Sirih  dan Cengkih, buat Kesehatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar