Jumat, 02 Desember 2016

Azyumardi: PTAII dan Imam Eropa



PTAII dan Imam Eropa
Oleh: Azyumardi Azra

Apa hubungan antara Perguruan Tinggi Islam Indonesia (PTAII baik negeri/PTAIIN maupun swasta/PTAIIS) dengan imam Eropa? Dari segi geografis, PTAII tentu saja berada di Indonesia yang sangat jauh dari Eropa. Islam Indonesia juga tak dikenal luas di Eropa. Masyarakat Eropa lebih kenal Muslim asal Dunia Arab dan Maghrib (Afrika Utara) atau Turki, Pakistan, Bangladesh dan India.

Namun keadaan ini mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir. Kian banyak pemimpin pemerintahan dan kalangan masyarakat Eropa (baik Muslim maupun non-Muslim) yang makin tertarik pada Islam Indonesia. Meski di Indonesia juga ada orang, sel atau kelompok Muslim tidak toleran atau suka main kekerasan, tetapi kalangan Eropa tetap melihat Islam Indonesia jauh lebih damai.

Sedangkan di Eropa masih berlanjut kekerasan yang dilakukan ‘oknum-oknum’ Muslim secara sporadis di berbagai tempat di Eropa sejak awal 2000-an. Pada saat yang sama juga meningkat sikap anti-Islam atau anti-Muslim dalam berbagai bentuk Islamo-fobia yang ditampilkan kelompok dan partai sayap kanan.

Menghadapi berbagai kenyataan ini kian banyak kalangan Eropa melirik pendidikan Islam, khususnya pendidikan tinggi yang dapat menghasilkan imam dan pemimpin Muslim Eropa. Mereka berharap adanya pendidikan tinggi Islam Eropa untuk menghasilkan imam dan pemimpin Muslim yang bisa mewujudkan Islam yang ramah dan dan damai. Untuk itu mereka perlu memiliki pemahaman dan sensitivitas yang baik tentang realitas sosial, kultural dan politik Eropa.

Pandangan seperti itu terkait kenyataan selama ini bahwa para imam dan pemimpin Muslim kebanyakan berasal dari berbagai negara Muslim. Kebanyakan mereka adalah migran atau keturunan migran—bisa jadi sudah generasi ketiga atau keempat—yang secara agama, sosial, budaya dan bahkan politik lebih berorientasi ke negara leluhur mereka.

Karena itulah banyak imam dan pemimpin Muslim memiliki kecenderungan berikap literal, kaku, ekstrim dan radikal. Sikap seperti ini lazim di antara sesama Muslim dan juga terhadap lingkungan masyarakat Eropa.

Keadaan seperti itu membuat mereka terlepas dari konteks lingkungan sosial, budaya dan politik lingkungan negara tempat diaspora mereka. Akibat lebih jauh, Islam menjadi sangat asing bagi masyarakat lingkungannya.

Di sinilah terletak salah satu sebab salah persepsi terhadap Islam dan kaum Muslimin, sekaligus juga sikap bermusuhan dan fobia Islam dan kaum Muslimin. Keadaan ini tidak kondusif bukan hanya bagi umat Islam sendiri, tetapi juga bagi masyarakat Eropa.

Karena itu, kian banyak kalangan masyarakat Eropa melirik Islam Indonesia yang lebih akomodatif, inklusif dan toleran. Mereka ingin tahu bagaimana cara umat Islam Indonesia mengembangkan pendidikan yang mampu menghasilkan penampilan Islam yang ramah dan damai dengan lingkungannya.

Gejala ini dialami penulis Resonansi ini. Dalam beberapa tahun terakhir, penulis mendapat undangan beberapa lembaga pendidikan tinggi di Eropa di Inggris, Belgia, Italia, dan terakhir sekali dari Prancis (15-17/11/2016) untuk berbicara antara lain tentang PTAII. Mereka meminta penjelasan tentang substansi kurikulum dan pendekatan dalam pembelajaran. 

Sistem PTAII—yang belakangan sering juga disebut sebagai pendidikan tinggi keagamaan Islam (PTKI), tak ragu lagi adalah yang terbesar di dunia. PTKIN (negeri) saja kini berjumlah 56 yang  terdiri dari UIN (11), IAIN (23) dan STAIN (19). Belum lagi PTKIS (swasta) yang pasti jauh lebih banyak lagi.
Sejarah PTAII tidak terlalu panjang jika dibandingkan kebanyakan PT di Eropa atau Amerika Utara. PTKIN bermula pada 1957 dengan Akademi Dinas llmu Agama (ADIA) di Jakarta (kemudian pindah ke Ciputat) dan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di Yogyakarta. Kedua PT Kedinasan ini pada 1960 dikembangkan menjadi IAIN.

Sejarah PTKIN selanjutnya adalah sejarah mengenai ekspansi. Sejak 1997 seluruh fakultas cabang IAIN di luar ibukota provinsi menjadi mandiri dengan perubahannya menjadi STAIN. Sejak 2002, UIN menjadi nomenklatur baru di dalam lingkup PTKIN.

Jika kalangan masyarakat Eropa ingin menjadikan PTKIN sebagai model pendidikan tinggi Islam yang dapat menghasilkan imam dan pemimpin Islam yang damai dan ramah, bagaimana kurikulum dan proses pembelajarannya?

Kurikulum PTKIN bisa dikatakan cukup komprehensif, tidak hanya mencakup ilmu ‘murni’ agama, tetapi juga ilmu umum. Dengan begitu, dalam hal keilmuan, menekankan keterkaitan dan ketergantungan satu ilmu dengan ilmu lain. Lagi pula, pendekatan keilmuan dan pembelajaran tidak teologis-normatif semata, namun juga historis, sosiologis dan antropologis.

Melalui kurikulum dan pembelajaran seperti itu dapat dikembangkan sikap terbuka dan inklusif dalam sikap keagamaan. Mereka belajar tentang berbagai aliran dan mazhab dalam Islam lewat kombinasi kajian akar doktrinal normatif dengan pendekatan historis dan seosiologis. Dengan begitu, para mahasiswa/i tidak terjerumus ke dalam sikap sektarianisme bernyala-nyala yang merusak; sebaliknya menumbuhkan sikap inklusif dan toleran pada perbedaan dan keragaman. []

REPUBLIKA, 01 December 2016
Azyumardi Azra | Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Mantan Anggota Dewan Penasihat Undef (New York) dan International IDEA (Stockholm)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar