Senin, 31 Mei 2021

Musdah Mulia: KH Sanusi Baco, Ulama Berwajah Teduh danBerhati Emas

KH Sanusi Baco, Ulama Berwajah Teduh dan Berhati Emas

Oleh: Musdah Mulia

 

ULAMA berwajah teduh itu telah tiada. Meski sudah agak lama saya mendengar kondisinya kurang sehat, berita kepergian beliau pada Sabtu (15/5) malam tetap saja mengejutkan. Masyarakat Islam Indonesia kehilangan tokoh ulama karismatik, KH Sanusi Baco, Lc. Beliau amat berjasa mengembangkan ajaran Islam yang damai, sejuk, dan membahagiakan.

 

Dakwahnya selalu berisi ajakan peningkatan kualitas iman dan amal saleh, mengedepankan moralitas, serta empati kemanusiaan. Ceramah beliau selalu menarik, dinanti banyak orang dari semua kalangan. Meski bukanlah penceramah yang mampu membuat pendengarnya tertawa terbahak-bahak atau menangis se­senggukan, beliau tidak suka mendramatisir suasana. Kebanyakan orang yang pernah menyimak ceramahnya selalu rindu mendengarkan berulang kali. Tiada lain karena ceramahnya penuh hikmah, menyentuh relung kalbu terdalam.

 

Kiai Sanusi, demikian saya selalu memanggilnya, ialah sosok ulama langka, ucapan dan tindakannya selalu sejalan. Tutur katanya santun dan sarat makna, tak pernah lelah memberikan pelayanan kepada umat, tanpa membeda-bedakan manusia. Semua orang yang datang kepadanya diterima dengan hangat penuh ke­gembiraan. Kualitas keulamaan seorang terutama terletak pada aspek spiritualitas yang tecermin dalam perilaku nyata sehari-hari. Apakah dia memberikan pelayanan kemanusiaan kepada umat atau sebaliknya malah menjadikan umat sebagai pelayan atau sekadar alat pemenuhan kepentingan? Itu sebabnya, predikat ulama sebagai waratsatul anbiyaa (pewaris para nabi) penting selalu dijaga dan dihormati.

 

Pendidikan dalam keluarga


Beliau lahir pada 3 April 1937 di sebuah dusun kecil di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Ayahnya seorang petani bernama Baco Daeng Naba dan Besse Daeng Ratu nama ibunya. Almarhum sering menceritakan kehidupan keluarganya yang sederhana, tapi penuh kehangatan dan cinta kasih. Menurut beliau, pendidikan masa kecil dalam keluarga amatlah berkesan dan hal itu membentuk karakter beliau sekarang. Orangtuanya menanamkan nilai-nilai kejujuran, kasih sayang, solidaritas kepada sesama tanpa memandang latar belakang suku, agama, dan apa pun.

 

Menamatkan pendidikan dasar di Pesantren DDI Mangkoso langsung dari KH Abdurahman Ambo Dalle dan KH Amberi Said. Keduanya dikenal sebagai tokoh pendidik yang berjasa melahirkan kader-kader ulama yang kini tersebar di Nusantara. Selanjutnya, beliau studi ke Fakultas Syariah Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar, sambil aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Pada 1963 beliau mendapat beasiswa dari Kementerian Agama melanjutkan pendidikan ke Fakultas Syariah, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Beliau berangkat ke Mesir bersama 25 pemuda lainnya dari berbagai wilayah Nusantara, di antaranya Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan KH Mustofa Bisri (Gus Mus). Empat tahun di Mesir beliau berhasil menyandang gelar Lc.

 

Kembali ke Makassar ia mengabdi di berbagai perguruan tinggi, antara lain sebagai dosen favorit di UMI dan IAIN Alauddin. Semua mahasiswa yang pernah mengikuti kuliahnya pasti senang dengan metode penyajian yang tenang, tidak membosankan, ada selingan humor, tapi tidak me­­nyinggung perasaan orang lain. Selain sebagai dosen, beliau pun tumbuh menjadi ulama yang sangat disegani karena kelapangan jiwa, terbuka menerima semua kalangan tanpa diskriminasi sedikit pun.

 

Sejumlah jabatan penting pun sempat disandang, antara lain sebagai Ketua MUI Sulawesi Selatan, Rais Syuriah NU Sulsel, Pengurus PBNU, Rektor Universitas Al-Ghazali (UIM), dan seterusnya. Bagi beliau, semua jabat­an hanyalah amanah, tak membuat pongah dan berjarak dengan siapa pun.

 

Guru kemanusiaan Sejati

 

Bagi saya, Kiai Sanusi ialah guru kemanusiaan sejati yang selalu dinantikan kehadirannya pada setiap forum dakwah, hidupnya sangat bersahaja, tak silau kemewahan dan popularitas, teguh memegang prisip serta selalu ramah kepada semua orang. Berada dekat dengannya, jiwa kita merasa damai melihat wajahnya yang teduh, memancarkan aura kasih sayang, serta penuh perhatian.

 

Satu hal yang saya pelajari dari beliau ialah ketulusannya untuk selalu memenuhi setiap undangan. Beliau selalu dinantikan kehadirannya di setiap acara keislaman, bahkan juga pada acara kebangsaan. Demikian pula di berbagai acara keluarga, seperti perkawinan, syukuran kelahiran, dan takziah kematian.  

 

Hidupnya tak pernah sepi dari tugas kemanusiaan, memberikan ceramah dan tausiah; dari kantor ke kantor, dari rumah ke rumah, bahkan tak segan menempuh jarak yang sangat jauh demi memenuhi hajat orang-orang yang mengundangnya. Jangan bertanya soal tarif, sebab itu tak pernah ada dalam kamus hidupnya.

Pertama kali jumpa beliau pada 1975 ketika saya menjadi mahasiswanya di Fakultas Ushuludin UMI. Beliau mengampu mata kuliah ushul fiqh. Kuliahnya terasa renyah dan segar karena diselingi banyak humor dan contoh-contoh kasus berupa realitas sosial yang aneh tapi nyata. Hebat memilih diksi yang tepat sehingga penjelasannya dapat dimengerti dengan mudah, bahkan oleh mereka yang tidak mengenyam pendidikan tinggi sekalipun.

 

Sebetulnya, saya sudah sering mendengar tentang beliau jauh sebelum bertemu langsung dengannya. Sebab, ibu saya, Buwaidah Achmad ialah kakak kelas beliau di Pesantren DDI Mangkoso. Mereka berdua ialah murid kesayangan Kiai Amberi Said, sosok pendidik teladan di pesanren tersebut. Ibu merupakan perempuan pertama di desanya yang berhasil menyelesaikan pendidikan pada pesantren tersebut. Ibu sering menuturkan, “Sebagai santri, Sanusi dikenal rajin, mudah bergaul, dan selalu siap membantu. Sejak santri sudah terlihat kebaikan hati dan kebesaran jiwa beliau untuk melayani sesama.”

 

Ramah dan rendah hati

 

Jika organisasi NU berkembang pesat di Indonesia Timur, salah satunya berkat jihad dan dakwah beliau. Kiai Sanusi sangat berjasa membesarkan sekaligus mengawal NU menjadi organisasi Islam yang netral dari berbagai political interest. Sikap beliau yang tulus, santun, dan ramah disenangi banyak orang, merupakan bekal utama dalam mengelola organisasi NU dan memajukannya seperti sekarang.

 

Saya memiliki banyak kenangan bersama beliau dalam aktivitas organisasi. Di masa beliau menjadi Ketua Tanfiziyah NU Wilayah Sulsel, saya menjadi Ketua Fatayat NU, di samping juga sebagai pengurus PMII. Masih segar dalam ingatan saya, di suatu siang beliau menjemput saya di rumah untuk menghadiri konferensi cabang dan Maulid Nabi di Kabupaten Pangkep. Pulang dari sana, saya merasa sangat letih dan tertidur pulas, dan saat terbangun saya amat terkejut melihat beliau pun tertidur sambil menyetir mobil. Entah sudah berapa lama beliau tertidur, herannya mobil kami tetap melaju normal dan terkendali.

 

Secara refleks saya membangunkan beliau, “Pak kiai tidur ya?” Anehnya beliau pun spontan menjawab, “Enaknya saya tidur tadi.” Subhanallah. Sejak itu saya percaya adanya karamah dari Allah SWT, Dia menganugerahkan kepada hamba terpilih.


Saya juga akrab degan istri beliau satu-satunya, Umi Aminah, kami berdua pengurus Muslimat NU. Umi Aminah sering menuturkan kebaikan suami tercinta, “Bapak orangnya sabar sekali, begitu perhatian pada anak-anak dan tidak risih membantu berbagai pekerjaan di rumah. Bapak juga selalu mendorong saya aktif di Muslimat agar lebih mengerti agama dan juga persoalan kemasyarakatan.”

 

Saya beruntung dapat menjenguk Umi Aminah pada hari-hari ter­akhirnya di Rumah Sakit Islam Faisal. Hampir sebulan beliau dirawat dan secara bersamaan ibu saya juga dirawat di sana sehingga saya bisa mampir setiap hari. Saya menyaksikan langsung betapa besar hormat dan cinta Kiai Sanusi kepada istrinya. Hampir di setiap saat beliau ada di samping istrinya, mendoakan dan memberi penghiburan. Sebuah contoh keluarga ideal yang berlimpah sakinah, mawaddah wa rahmah. Namun, takdir berkata lain, istri tercinta lebih dahulu berpulang ke hadirat-Nya. Setelah 18 tahun ditinggal sang istri, beliau tetap memilih hidup sendiri, menikmati hari tua dalam kedamaian bersama anak dan cucu.

 

Selamat jalan guruku terkasih, engkau telah menunaikan tugas kemanusiaan dengan sebaik-baiknya. Kiprah dan teladanmu akan selalu dikenang sepanjang masa. Wajahmu abadi memancarkan kedamaian dan ketulusan tiada tara. Sang Maha Pengasih telah menyiapkan tempat terindah untukmu di alam sana. Amin. []

 

MEDIA INDONESIA, 19 Mei 2021

Musdah Mulia | Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Ketua Umum Indonesian Conference on Religions for Peace 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar